PT PAL Bidik Potensi Pasar Perkapalan Rp1.522 Triliun dalam 10 Tahun ke Depan

PT PAL Indonesia membidik potensi pasar perkapalan nasional yang mencapai Rp1.522 triliun dalam 10 tahun ke depan.
Kru PT Pertamina International Shipping (PIS) meninjau proses docking kapal MT Gamkonora di galangan PT ASL Shipyard Indonesia di Batam, Kepulauan Riau, Senin (29/9/2025). Kapal dengan panjang 245,5 meter ini menjadi andalan Pertamina untuk mendistribusikan komoditas minyak mentah dengan rute internasional maupun domestik. - JIBI/Bisnis/Reyhan Fernanda Fajarihza
Kru PT Pertamina International Shipping (PIS) meninjau proses docking kapal MT Gamkonora di galangan PT ASL Shipyard Indonesia di Batam, Kepulauan Riau, Senin (29/9/2025). Kapal dengan panjang 245,5 meter ini menjadi andalan Pertamina untuk mendistribusikan komoditas minyak mentah dengan rute internasional maupun domestik. - JIBI/Bisnis/Reyhan Fernanda Fajarihza

Bisnis.com, JAKARTA — PT PAL Indonesia (Persero) memproyeksikan potensi pasar perkapalan nasional mampu mencapai Rp1.522 triliun dalam 1 dekade ke depan, ditopang oleh penguatan tiga pilar ketahanan nasional.

Direktur Utama PT PAL Indonesia Kaharuddin Djenod mengungkapkan, geliat industri maritim ini dipicu oleh mandat Presiden Prabowo Subianto yang hendak mendorong upaya ketahanan pangan hingga ketahanan energi.

"Kalau kita lihat 10-15 tahun ke depan, potensi proyek yang akan muncul dari ketiga ketahanan ini sangat besar. Ini merupakan peta jalan untuk mengembalikan kemandirian industri maritim kita di dunia," ujar Kaharuddin dalam agenda Diskusi Strategis Industri Maritim Chapter II di Jakarta, Jumat (27/2/2026).

Dalam paparan yang disampaikan, potensi pasar perkapalan selama 10 tahun mendatang dilaporkan mencapai Rp1.523 triliun. Proyeksi kebutuhan kapal itu dalam rangka mendukung program ketahanan teritorial, ketahanan pangan, ketahanan energi, dan konektivitas maritim.

Kaharuddin memerinci, pada sektor ketahanan teritorial kebutuhan armada diproyeksikan mencapai 260 unit kapal perang berawak berukuran besar pada 10 tahun mendatang. Jumlah ini dipastikan melonjak berkali lipat jika menyertakan kebutuhan kapal perang tanpa awak (unmanned).

Sementara itu, pilar ketahanan pangan memicu kebutuhan pembangunan 20.200 unit kapal. Kaharuddin mengakui meski target 20.000 kapal ikan ini sulit rampung dalam 10 tahun, langkah tersebut merupakan tekad politik yang krusial.

"Maka tekad Presiden untuk membangun 20.000 kapal ikan ini patut kita apresiasi, menunjukkan semangat beliau membangun kembali Indonesia sebagai negara maritim terbesar dunia, bukan hanya dari sisi geografis," tegasnya.

Beralih ke sektor energi, tercatat ada kebutuhan 588 unit kapal baru. Dalam jangka pendek, PT Pertamina International Shipping (PIS) telah menjadwalkan pembangunan 105 kapal tanker untuk kebutuhan 5 tahun ke depan.

Selain itu, PT PLN (Persero) membutuhkan 20 unit floating storage regasification unit (FSRU), sementara PT Pelni (Persero) dan PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) membidik pengadaan 25 unit kapal penumpang serta logistik.

Namun, Kaharuddin memperingatkan peluang besar ini tidak akan mudah diraih jika industri masih dibayangi persaingan tidak sehat dan hambatan internal yang selama ini menghambat efisiensi pengerjaan proyek perkapalan nasional.

"Untuk mencapai peluang yang lebih besar tidak akan mudah, kalau kemudian kita masih berjalan seperti kondisi kita kemarin-kemarin," pungkasnya.

Add Bisnis.com as a preferred source on Google

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Bisnis Indonesia Premium.

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Bisnis Indonesia Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro