Airlangga: Pemerintah Monitor Harga Minyak Dunia Usai AS Serang Venezuela

Pemerintah Indonesia memantau dampak konflik Venezuela-AS terhadap harga minyak, yang saat ini stabil di $63/barel.
Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto seusai acara Kompas100 CEO Forum di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Kabupaten Tangerang, Banten, Rabu (26/11/2025)./Bisnis-Rika Anggraeni
Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto seusai acara Kompas100 CEO Forum di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Kabupaten Tangerang, Banten, Rabu (26/11/2025)./Bisnis-Rika Anggraeni

Bisnis.com, JAKARTA — Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan pemerintah terus memantau perkembangan situasi di Venezuela, termasuk potensi dampaknya terhadap perekonomian Indonesia. Namun hingga saat ini, Airlangga mengaku belum melihat gejolak signifikan, terutama pada harga minyak dunia.

Pernyataan tersebut disampaikan Airlangga sebelum menghadap Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (5/1/2026), menanggapi pertanyaan terkait eskalasi konflik dan isu invasi di Venezuela.

“Itu masih dimonitor karena yang utama kan berpengaruh terhadap harga minyak. Tetapi harga minyak kita monitor, satu dua hari ini tidak ada perubahan, tidak ada gejolak yang tinggi. Harga minyak relatif masih rendah, masih sekitar 63 dolar per barel,” ujar Airlangga.

Terkait langkah antisipasi yang disiapkan pemerintah, Airlangga menyebut saat ini pemerintah masih fokus pada pemantauan perkembangan situasi global.

Airlangga juga menanggapi pertanyaan mengenai kerja sama Indonesia dengan Venezuela. Menurutnya, hubungan dan kerja sama tersebut masih akan dilihat perkembangannya seiring perubahan situasi politik di negara tersebut.

“Kita lihat, monitor saja,” ujarnya.

Lebih lanjut, dia menjelaskan bahwa hubungan Venezuela dengan Amerika Serikat memang telah lama mengalami ketegangan, terutama sejak kebijakan nasionalisasi aset asing pada era Presiden Hugo Chávez.

“Kalau dengan AS memang sudah agak panjang sejak nasionalisasi oleh Hugo Chávez. Pada waktu itu aset-aset Amerika dinasionalisasi. Nah sekarang dengan situasi seperti ini, kita monitor saja seperti apa,” katanya.

Airlangga memastikan Indonesia tidak memiliki aset negara di Venezuela yang berpotensi terdampak langsung oleh eskalasi situasi tersebut.

“Kita tidak ada aset,” ujarnya.

Terkait nota kesepahaman (MoU) dengan Venezuela, termasuk yang melibatkan Pertamina di sektor energi, Airlangga mengakui adanya potensi penyesuaian menyusul perubahan pemerintahan di negara tersebut.

“Ya tentunya ada perubahan dengan perubahan yang terjadi kemarin itu karena pemerintahannya kan berganti,” kata Airlangga.

Pemerintah, lanjut Airlangga, akan terus mencermati perkembangan geopolitik global, khususnya yang berpotensi berdampak pada stabilitas harga energi dan perekonomian nasional.

Sementara mengenai aset Pertamina di Venezuela, Airlangga menyebut pemerintah belum melihat adanya perubahan signifikan.

“Kita belum melihat adanya perubahan di aset,” tandas Airlangga.

Add Bisnis.com as a preferred source on Google

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Bisnis Indonesia Premium.

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Bisnis Indonesia Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro