Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda
Pekerja berjalan di trotoar Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Rabu (8/4/2020). - ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto. Panduan untuk Kaum Pekerja Memahami Peringatan dari Jokowi
Lihat Foto
Premium

Panduan untuk Kaum Pekerja Memahami Peringatan dari Jokowi Terkait Krisis

Periode yang lebih sulit berpeluang besar dialami oleh kaum pekerja pada tahun depan. Terutama setelah munculnya beragam risiko krisis di masa depan.
Wibi Pangestu Pratama, Rahmad Fauzan, & Rika Anggraeni
Wibi Pangestu Pratama, Rahmad Fauzan, & Rika Anggraeni - Bisnis.com
26 September 2022 | 18:47 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Pesan khusus disampaikan oleh Presiden Joko Widodo ketika membuka BUMN Startup Day 2022 pada Senin (26/9/2022). Dalam acara tersebut dia memproyeksikan kondisi ekonomi akan lebih sulit pada tahun depan.

Menurutnya, jika dibandingkan dengan tahun ini, yang menjadi periode pemulihan pascatekanan pandemi Covid-19, tahun 2024 akan berada pada kondisi yang ‘lebih gelap’. Hal itu salah satunya disebabkan oleh perang antara Rusia dan Ukraina yang berpeluang terus berkecamuk dalam waktu yang tidak bisa diprediksikan.

“Lembaga-lembaga internasional menyampaikan 2022 sangat sulit. [Tetapi] Tahun depan akan lebih gelap. Saat saya bertemu dengan Presiden Putin selama 2,5 jam diskusi ditambah dengan ketemu dengan Presiden Zelenskyy 1,5 jam saya berdiskusi, saya menyimpulkan perang tidak akan segera selesai. Akan lama,” ujar Jokowi.

Jokowi menjelaskan perang yang tak berkesudahan akan berakibat pada beragam krisis seperti, krisis pangan, krisis energi, krisis finansial, dan lain sebagainya.

Kondisi dan sentimen yang terjadi secara global tersebut tentu akan berdampak terhadap perekonomian Indonesia. Apalagi baru-baru ini tekanan baru bagi masyarakat Indonesia datang dari naiknya harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi.

Kenaikan harga BBM bersubsidi tersebut diperkirakan secara otomatis mengerek laju inflasi nasional. Adapun, salah satu efek sekaligus langkah antisipatif guna mengendalikan inflasi dilakukan oleh Bank Indonesia. Selaku otoritas moneter Indonesia, BI pun meresponsnya dengan mengerek suku bunga acuannya.

Silakan masuk/daftar untuk melanjutkan membaca Konten Premium

Dan nikmati GRATIS AKSES 5 artikel Konten Premium!

Masuk / Daftar

Atau Berlangganan Sekarang

Silakan pilih paket berlangganan yang anda inginkan untuk terus menikmati konten premium.

Berlangganan Sekarang
Berbagai metode pembayaran yang dapat Anda pilih:
  • visa
  • mastercard
  • amex
  • JCB
  • QRIS
  • gopay
  • bank transfer
  • ovo
  • dana
back to top To top