Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Ini Alasan Jokowi Ingin Perluas Lahan Sorgum Hingga Akhir Jabatannya 

Presiden Jokowi memberi arahan untuk memperluas lahan sorgum sebagai pengganti komoditas gandum yang semakin terbatas.
Afiffah Rahmah Nurdifa
Afiffah Rahmah Nurdifa - Bisnis.com 05 Agustus 2022  |  20:17 WIB
Ini Alasan Jokowi Ingin Perluas Lahan Sorgum Hingga Akhir Jabatannya 
Sorghum - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) yakin dapat mewujudkan target 154.000 hektare lahan sorgum hingga akhir masa jabatannya pada 2024. Perluasan lahan sorgum dilakukan seiring keterbatasan pasokan gandum dari negara ekspor, buntut dari perang Rusia-Ukraina. 

Sebagai informasi, selain menjadi pengganti gandum, sorgum dinilai dapat menjadi komoditas pengganti tanaman lain seperti jagung, hingga bioetanol. Untuk itu, dia meminta jajarannya untuk segera membuat peta jalan (road map) terkait produksi dan penghiliran sorgum.

Adapun, arahan tersebut langsung disampaikan Jokowi kepada Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam rapat internal dengan jajaran kementerian di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (4/8/2022) kemarin.

"Bapak Presiden minta agar dibuatkan roadmap sampai tahun 2024. Kami laporkan bahwa target dari musim sasaran tanam di 2022 adalah 15.000 hektar," kata Airlangga dikutip dari siaran pers Youtube Sekretariat Presiden, Jumat (5/8/2022).  

Dari total target tahun ini, realisasi hingga bulan Juni baru mencapai 4.355 hektare. Realisasi tersebut mencakup hasil produksi dari 6 provinsi dengan total 15.243 ton dan produktivitas 3,63 ton per hektare. 

"Tentu ada pengembangan sebesar 100.000 hektare dan Bapak Presiden minta diprioritaskan untuk daerah NTB di Kabupaten Waingapu yang kemarin sudah dilihat, dan tentu luasan tersebut akan terus dipersiapkan oleh Kementerian Pertanian dan juga Kementerian LHK," ujar Airlangga.

Untuk diketahui, perang Rusia-Ukraina memberikan dampak besar khususnya pada pasar ekspor gandum secara global dan ancaman krisis pangan.

Airlangga menyebutkan ada 9 negara yang saat ini menutup ekspor gandum di antaranya yaitu Kirgizstan, India, Afghanistan, Aljazair, Serbia, dan Ukraina hingga 31 Desember. Sementara Kazakhstan melarang ekspor sampai 30 September.

Melihat kondisi tersebut, Jokowi mempercepat penanaman sorgum dan mencari pengganti gandum untuk menghindari dampak yang lebih besar di tanah air. 

"Kita ketahui sorgum relatif masih terbatas. Oleh karena itu, arahan Bapak Presiden pilot project harus diintegrasikan juga dengan peternakan sapi dan tentunya dari batang pohon sorgum ini, selain pakan ternak bisa juga bioetanol," ujarnya.

Tak hanya itu, sorgum memiliki manfaat lain dari sisi pembiayaan. Airlangga menyebut harga sorgum saat ini berada di angka Rp3.500 dan produksinya saat ini mencapai 4 ton per hektare. 

"Itu menghasilkan sekitar 12,5 juta dimana biaya produksinya adalah Rp8,4 juta. Nah kalau dibuat menjadi biji kering sosoh itu di 9,2 juta per hektare harganya Rp25.000 dan itu memberikan keuntungan Rp28 juta per panen," paparnya. 

Namun, di sisi lain, Airlangga meyakini Indonesia memiliki beberapa alternatif selain sorgum, misalnya tanaman sagu dan singkong. 

"Arahan bapak presiden seluruhnya harus dipersiapkan agar kita punya substitusi dari produk gandum," ungkapnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

sorgum Jokowi
Editor : Fitri Sartina Dewi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top