Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Indonesia Rebut Ruang Udara Natuna saat Pandemi, Momentum Tepat

Indonesia rebut ruang udara Natuna saat pandemi dinilai merupakan momentum yang tepat.
Anitana Widya Puspa
Anitana Widya Puspa - Bisnis.com 25 Januari 2022  |  16:39 WIB
Seorang pegawai AirNav sedang mengamati pergerakan pesawat di Air Traffic Controller Working Positions Bandara Supandio Pontianak - Bisnis.com/Rio Sandy Pradana.
Seorang pegawai AirNav sedang mengamati pergerakan pesawat di Air Traffic Controller Working Positions Bandara Supandio Pontianak - Bisnis.com/Rio Sandy Pradana.

Bisnis.com, JAKARTA – Pandemi Covid-19 dinilai menjadi momentum tepat pemerintah Indonesia untuk mengambil alih ruang udara di Natuna, Kepulauan Riau atas Singapura.

Pendiri Pusat Studi Air Power Indonesia Chappy Hakim mengatakan pandemi telah membuat dunia penerbangan global terpukul. Dengan sendirinya, maka lalu lintas penerbangan global menurun drastis.

Menurutnya, dengan menurunnya lalu lintas penerbangan dunia, maka pergerakan udara di seluruh permukaan bumi menjadi nyaris terhenti. Frekuensi penerbangan turun hingga lebih dari 70 persen.

Tidak terkecuali di Indonesia. Jumlah penerbangan yang sangat turun, terutama di kawasan perairan Riau, di area FIR Singapura telah menjadi sepi.

Dia juga berpendapat pengaturan lalu lintas penerbangan di FIR Singapura sudah tidak lagi memerlukan peralatan yang canggih dan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas tinggi. Indonesia yang dulunya dinilai tidak akan mampu melakukan Manajemen Air Traffic dengan penanganan yang istimewa dan luar biasa, sekarang ini kondisinya sudah sepi.

“Inilah memang momentum yang sangat tepat untuk mengambil alih tanpa akan berhadapan lagi dengan alasan-alasan yang dicari-cari dan mengada-ada. Porsi lalu lintas penerbangan di selat Malaka sudah menjadi jatahnya persoalan sepele dan teknis saja sifatnya. Sudah sangat sederhana untuk dapat ditangani oleh tingkat Direktorat Perhubungan Udara saja,” ujarnya melalui publikasi yang dikutip, Selasa (24/1/2022).

Chappy menilai penyelesaian wilayah ruang udara tersebut harus fokus kepada masalah teknis penerbangan belaka yang tidak atau jangan dihubung-hubungkan dengan persoalan Millitary Training Area atau MTA dan Defence Cooperation Agreement atau DCA, dan lainnya.

“Selesaikan saja soal FIR Singapura, maka masalah-masalah lainnya akan secara otomatis mudah untuk dirundingkan,” imbuhnya.

Pandemi Covid-19, sebutnya, telah membuka jalan memudahkan penyelesaian masalah kronis FIR di Singapura menjadi tidak ada pihak yang akan mudah tersinggung, karena masalahnya telah menjelma mejadi sederhana.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

indonesia singapura natuna
Editor : Rio Sandy Pradana

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top