Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

RI Buka Pariwisata untuk Wisman, Pengamat: Tak Signifikan Pompa Ekonomi

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif memproyeksikan kunjungan wisatawan mancanegara sebanyak 1,5 juta orang pada tahun ini dengan devisa mencapai US$0,36 miliar. 
Nyoman Ary Wahyudi
Nyoman Ary Wahyudi - Bisnis.com 14 September 2021  |  21:41 WIB
Sejumlah wisatawan berswafoto di kawasan pantai yang terbentuk dari fenomena akresi (penambahan garis pantai dari darat menuju laut akibat sedimentasi bertahun-tahun) di Desa Surodadi, Sayung, Demak, Jawa Tengah, Selasa (11/2/2020). Munculnya pantai berpasir hitam seluas sekitar 4 hektare akibat fenomena alam tersebut menjadi potensi destinasi wisata baru yang rencananya akan dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) guna meningkatkan ekonomi masyarakat setempat. - ANTARA FOTO/Aji Styawan
Sejumlah wisatawan berswafoto di kawasan pantai yang terbentuk dari fenomena akresi (penambahan garis pantai dari darat menuju laut akibat sedimentasi bertahun-tahun) di Desa Surodadi, Sayung, Demak, Jawa Tengah, Selasa (11/2/2020). Munculnya pantai berpasir hitam seluas sekitar 4 hektare akibat fenomena alam tersebut menjadi potensi destinasi wisata baru yang rencananya akan dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) guna meningkatkan ekonomi masyarakat setempat. - ANTARA FOTO/Aji Styawan

Bisnis.com, JAKARTA — Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Mohammad Faisal menilai rencana pemerintah untuk membuka kembali 18 destinasi pariwisata prioritas cenderung gegabah di tengah minimnya skenario mitigasi risiko yang disiapkan pemerintah.  

“Tanpa ada langkah-langkah mitigasi risiko, alih-alih bisa pulihkan pariwisata malah bisa menghantam kembali perekonomian nasional,” kata Faisal melalui sambungan telepon kepada Bisnis, Selasa (14/9/2021). 

Di sisi lain, Faisal meminta pemerintah untuk tidak memaksakan proyeksi 1,5 juta wisatawan mancanegara untuk berkunjung di Indonesia.

Rencananya, proyeksi jumlah wisatawan itu dapat mencetak devisa sebesar US$0,36 miliar. Akan tetapi, kata dia, perkiraan perolehan devisa itu relatif kecil jika dibandingkan surplus neraca perdagangan dalam negeri saat ini. 

“Apakah iya, dengan kondisi kontribusi untuk pertumbuhan ekonomi di bilang besar? Tidak terlalu signifikan sebenarnya sementara surplus kita dari ekspor impor saja sudah besar,” kata dia. 

Adapun,  neraca perdagangan Indonesia kembali mengalami surplus pada Juli 2021, yaitu sebesar US$2,59 miliar. Surplus itu terjadi karena nilai ekspor pada Juli 2021 mencapai US$17,70 miliar, sementara nilai impor mencapai US$15,11 miliar.

Sebelumnya, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif memproyeksikan kunjungan wisatawan mancanegara sebanyak 1,5 juta orang pada tahun ini. 

Deputi Kebijakan Strategis Kemenparekraf Kurleni Ukar mengatakan perkiraan kunjungan wisatawan mancanegara itu diharapkan dapat mencetak devisa di angka US$0,36 miliar. 

“Devisa sektor pariwisata dan ekonomi kreatif tahun ini sangat kecil, karena wisatawan mancanegara yang bisa datang masih sangat terbatas,” kata Kurleni melalui pesan tertulis kepada Bisnis, Selasa (14/9/2021). 

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pariwisata wisman Covid-19
Editor : Amanda Kusumawardhani

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper
To top