Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Industri Furnitur Lebih Optimistis Pasar Luar Negeri

Penurunan aktivitas ekspor furnitur dari China membuka peluang bagi produsen Tanah Air untuk mengambil pasar Amerika Serikat.
Ipak Ayu
Ipak Ayu - Bisnis.com 26 April 2021  |  19:23 WIB
Pekerja menyelesaikan tahap produksi mebel kayu jati di Desa Mekar Agung Lebak, Banten. Kerajinan mebel berupa kursi, meja, dan tempat tidur yang berbahan dasar limbah kayu jati dan mahoni dengan harga berkisar Rp13 juta hingga Rp5 juta per unit. - Antara/Mansyur S
Pekerja menyelesaikan tahap produksi mebel kayu jati di Desa Mekar Agung Lebak, Banten. Kerajinan mebel berupa kursi, meja, dan tempat tidur yang berbahan dasar limbah kayu jati dan mahoni dengan harga berkisar Rp13 juta hingga Rp5 juta per unit. - Antara/Mansyur S

Bisnis.com, JAKARTA — Industri furnitur menilai insentif pembelian rumah sudah berdampak pada permintaan di dalam negeri. Namun, industri Tanah Air lebih optimistis melihat prospek pasar ekspor. 

Hal itu selaras dengan data impor furnitur yang naik. Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) mencatat impor tahun lalu sebesar US$624 juta naik dari periode 2019 sebesar US$594 juta.  

Ketua Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) Abdul Sobur mengatakan meski begitu produsen di dalam negeri juga mengalami peningkatan pertumbuhan ekspor yang signifikan sejak kuartal IV/2021 ke pasar Amerika Serikat (AS), secara total ekspor tumbuh 5 persen.

"Berdasarkan prediksi kami tahun ini masih akan tumbuh terutama ke zona AS karena pertumbuhan permintaan ke negeri ini terus meningkat bahkan proyeksi hingga 2024 masih terus positif," katanya kepada Bisnis, Senin (26/4/2021).

Sobur menyebut hal itu lantaran penurunan ekspor dari China hingga US$25 miliar. Oleh karena itu, peluang produsen furnitur dalam negeri untuk bisa mengambil pasar AS. Saat ini Vietnam, Malaysia, Kanada, dan Meksiko tercatat sudah berlomba-lomba meningkatkan pasarnya ke sana.

Sementara itu, tantangan produsen dalam negeri justru dalam memaksimalkan selera dan permintaan domestik sendiri. Sobur mengindikasi hal itu karena keahlian dan spesialisasi target pasar yang sudah dimiliki masing-masing produsen.

"Alhasil, lihat saja IKEA sudah buka di Bandung, Informa makin getol, juga brand lainya terus tumbuh menjadikan tren data impor naik," ujar Sobur.

Oleh karena itu, Sobur mengharapkan pemerintah dapat memberikan dukungan industri berupa insentif fiskal dan bunga murah, subsidi peremajaan alat untuk percepatan dan efisiensi. Selain itu, penegakan hukum untuk ilegal loging dan ilegal rotan yang masih marak karena cukup membuat produsen sulit mendapatkan pasokan bahan baku. 


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

manufaktur furnitur
Editor : Muhammad Khadafi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top