Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Berpacu dengan Resesi, Indonesia Gencar Tangkap Peluang Investasi

Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menyatakan bahwa akan terus mendorong perbaikan iklim investasi di tengah Pandemi Covid-19, seiring kondisi perekonomian diambang resesi.
Puput Ady Sukarno
Puput Ady Sukarno - Bisnis.com 05 Oktober 2020  |  20:34 WIB
Berpacu dengan Resesi, Indonesia Gencar Tangkap Peluang Investasi
Foto gedung BKPM. - Istimewa
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Hingga penghujung kuartal III/2020, perekonomian Indonesia masih tak kunjung menunjukkan angin segar. Meski demikian, pemerintah mengungkapkan optimismenya terhadap pertumbuhan ekonomi dalam negeri.

Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menyatakan bahwa akan terus mendorong perbaikan iklim investasi di tengah Pandemi Covid-19, seiring kondisi perekonomian diambang resesi. Pelaksana Tugas (Plt) Deputi Bidang Perencanaan Penanaman Modal BKPM Nurul Ichwan berharap investasi mampu menyelamatkan Indonesia pada saat pertumbuhan ekonominya mengalami resesi.

"Di tengah perekonomian yang melambat ini investasi diharapkan akan jadi motor penggerak utama dan mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia. Oleh karena itu, BKPM akan terus bekerja keras dalam menarik investasi masuk ke Indonesia," ujarnya seperti dikutip, Senin (5/10/2020)

Akhir September lalu, BKPM turut menggelar market sounding proyek Tol Gilimanuk-Mengwi dan Jembatan CH di Jawa pada Rabu, (30/9/2020).

Ekonom sekaligus Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Tauhid Ahmad menilai dibutuhkan energi besar mengembalikan pertumbuhan ekonomi ke kisaran 5 persen. Menurutnya, jika vaksin Covid-19 belum ada dan belum didistribusikan secara merata maka target pertumbuhan ekonomi sebesar 5 persen pada tahun depan terbilang berat.

Saat ini saja, kata dia, ekonomi belum menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Hal itu terlihat dari IHK (indeks harga konsumen) yang belakangan mengalami deflasi yang menandakan lemahnya permintaan. "Jika konsumsi masyarakat pada tahun depan masih lemah, maka sulit bagi Indonesia untuk mengakselerasi ekonomi tumbuh 5 persen. Maklum, selama ini konsumsi masyarakat menjadi penyumbang terbesar pertumbuhan ekonomi," ujarnya.

Pada sisi lain, ekspor impor juga sulit diharapkan untuk bisa mendongkrak pertumbuhan ekonomi karena kondisi ekonomi global yang masih suram.

Investasi, menurut Tauhid, sebetulnya bisa dijadikan penopang pertumbuhan ekonomi. Sebab, di tengah situasi seperti saat ini, banyak perusahaan yang memutuskan untuk tidak lagi menggantungkan sumber produksi di Tiongkok dan berencana merelokasi investasinya. Masalahnya, dampak investasi, khususnya penanaman modal asing, ke pertumbuhan ekonomi tidak bisa langsung.

Selain itu, investor saat ini juga tengah wait and see dan mencari negara yang paling aman untuk menjadi basis produksi manufaktur. Itu sebabnya, pemerintah perlu mempercepat realisasi investasi mengingat berapapun besarannya sangat berdampak pada pergerakan ekonomi dalam negeri.

"Untuk itu pemerintah harus berani menjemput bola dengan memberikan berbagai insentif yang menarik serta berbagai fasilitas dan kemudahan bagi calon investor," ujarnya.

Menurut Tauhid, pemerintah juga harus siap menyediakan insentif maupun fasilitas lainnya sesuai permintaan investor. Sehingga pemberian fasilitas maupun insentif berdasarkan kasus masing-masing alias case by case.

"Di samping itu pemerintah perlu melakukan pendekatan terhadap produsen-produsen global. Tanya apa yang mereka minta dan siapkan permintaan mereka," ujarnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Pertumbuhan Ekonomi bkpm investasi asing
Editor : Ropesta Sitorus
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top