Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Pupuk Indonesia Klaim Produktivitas Masih Normal

PT Pupuk Indonesia (Persero) optimistis produktivitas masih akan berjalan lancar kendati tekanan krisis penurunan harga komoditas dan pandemi Covid-19 masih berjalan.
Ipak Ayu H Nurcaya
Ipak Ayu H Nurcaya - Bisnis.com 01 Oktober 2020  |  13:50 WIB
Pupuk Indonesia Klaim Produktivitas Masih Normal
PT Pupuk Indonesia (Persero) menjamin penyaluran pupuk baik pupuk bersubsidi maupun nonsubsidi kepada petani tidak terganggu oleh penerapan aturan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) oleh Pemerintah Daerah. - Antara / Pupuk Indonesia
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA — PT Pupuk Indonesia (Persero) optimistis produktivitas masih akan berjalan lancar kendati tekanan krisis penurunan harga komoditas dan pandemi Covid-19 masih berjalan.

Direktur Utama PT Pupuk Indonesia (Persero) Bakir Pasaman mengatakan hingga Agustus 2020 lalu produksi total pupuk sebesar 8,4 juta ton. Sementara produksi amoniak mencapai 4,08 juta ton.

Secara jenis, untuk produksi pupuk urea mencapai 5,4 juta ton, sementara pupuk NPK sekitar 2 juta ton dan pupuk lainnya sekitar 897.000 ton.

"Dari ketersediaan pupuk urea saat ini sudah 67 persen yang tersalurkan, sehingga masih 33 persen sampai akhir tahun. Saya proyeksi akan mencukupi kebutuhan," katanya dalam rapat dengar pendapat (RDP) bersama Komisi VI DPR RI, Kamis (1/10/2020).

Bakir mengemukakan hingga saat ini seluruh pabrik juga masih berjalan normal tanpa ada yang mematikan mesin. Meski begitu, perseroan tak menampik adanya dampak yang dirasakan dari pandemi Covid-19.

Menurut Bakir, dari pasar ritel saat ini daya beli petani tercatat menurun. Belum lagi adanya pembatasan kegiatan distributor dan kios akibat pembatasan wilayah.

Adapun dari pasar korporasi permintaan pupuk paling menurun dirasakan dari sektor perkebunan sawit. Selain itu, sejumlah sektor industri yang menggunakan pupuk sebagai bahan baku menurunkan rate produksinya.

"Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS juga berpotensi menungkatjan bahan baku. Kenaikan kurs juga menyebabkan kenaikan harga pokij produksi sehingga margin turun," ujar Bakir.

Untuk itu, perseroan telah melakukan sejumlah antisipasi dengan efisiensi biaya operasional serta memastikan ketersediaan dan stok pupuk subsidi sesuai alokasi pemerintah.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

urea Pupuk Indonesia
Editor : Fatkhul Maskur
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top