Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Ekonom: Paket Stimulus Anti-Virus Corona untuk Jaga Konsumsi Rumah Tangga

Ada ataupun tidak ada wabah ini, pemerintah dinilai memberikan insentif untuk memulihkan daya beli.
Feni Freycinetia Fitriani
Feni Freycinetia Fitriani - Bisnis.com 27 Februari 2020  |  18:36 WIB
Warga Negara Indonesia (WNI) yang dievakuasi dari Wuhan, Provinsi Hubei, China berjalan menuju pesawat udara usai menjalani masa observasi di Hanggar Pangkalan Udara TNI AU Raden Sadjad, Ranai, Natuna, Kepulauan Riau, Sabtu (15/2/2020). Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan secara resmi telah memulangkan 238 WNI ke daerah masing-masing karena telah dinyatakan sehat. ANTARA FOTO - Muhammad Adimaja
Warga Negara Indonesia (WNI) yang dievakuasi dari Wuhan, Provinsi Hubei, China berjalan menuju pesawat udara usai menjalani masa observasi di Hanggar Pangkalan Udara TNI AU Raden Sadjad, Ranai, Natuna, Kepulauan Riau, Sabtu (15/2/2020). Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan secara resmi telah memulangkan 238 WNI ke daerah masing-masing karena telah dinyatakan sehat. ANTARA FOTO - Muhammad Adimaja

Bisnis.com, JAKARTA - Kalangan ekonomi menilai paket stimulus yang dikucurkan pemerintah belum tentu mampu memitigasi dampak negatif dari penyebaran virus corona (covid-19). 

Ekonom Senior Institut Kajian Strategis Universitas Kebangsaan Eric Sugandi mengatakan stimulus seperti pemberian diskon untuk penerbangan dan pariwisata, penambahan nominal kartu sembako, dan peningkatan subsidi bunga perumahan memang harus dilakukan.

"Tanpa kasus wabah virus Corona, pemerintah mesti memperbaiki daya beli masyarakat tujuannya untuk pertumbuhan konsumsi bisa mendorong pertumbuhan ekonomi," katanya ketika dihubungi Bisnis, Kamis (27/2/2020).

Meski demikian, dia menilai paket stimulus fiskal yang sudah dirilis pemerintah belum tentu mampu memitigasi penuh dampak negatif virus Corona. Menurut Eric, paket kebijakan tersebut harus dilakukan untuk menahan perekonomian agar tidak terjun bebas.

Semula, Eric memproyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2020 berada di kisaran 5 persen. Namun, perkiraan tersebut kemungkinan akan lebih rendah jika wabah virus Corona menyebabkan perlambatan yang signifikan pada pertumbuhan ekonomi China dan dunia.

"Perekonomian Indonesia beresiko tumbuh lebih rendah sekitar 4,8 persen sampai 4,9 persen," imbuhnya.

Mengacu pada hal tersebut, Eric meminta pemerintah tetap menjaga stabilitas konsumsi rumah tangga dan investasi. Pasalnya, daya beli masyarakat di dalam negeri akan mendorong pertumbuhan ekonomi meskipun kondisi global penuh ketidakpastian.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Virus Corona
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top