Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Enggan Batasi Investasi Baru, Kemenperin Siap Pacu Kinerja Industri Semen

Direktur Jenderal Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil Muhammad Khayam mengatakan pelarangan masuknya investasi ke industri semen akan menciptakan preseden buruk bagi iklim investasi nasional.
Pekerja memindahkan semen Tonasa (Semen Indonesia Group) ke atas kapal di Pelabuhan Paotere, Makassar, Sulawesi Selatan, Senin (10/6)./Bisnis-Paulus Tandi Bone
Pekerja memindahkan semen Tonasa (Semen Indonesia Group) ke atas kapal di Pelabuhan Paotere, Makassar, Sulawesi Selatan, Senin (10/6)./Bisnis-Paulus Tandi Bone

Bisnis.com, JAKARTA – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyiapkan sejumlah skema untuk meningkatkan serapan semen nasional. Kemenperin sendiri tidak berniat untuk menghentikan investasi baru ke industri semen lantaran pertumbuhan sektor manufaktur pada 2022-2024 yang ditargetkan akan melesat.

Direktur Jenderal Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil Muhammad Khayam mengatakan pelarangan masuknya investasi ke industri semen akan menciptakan preseden buruk bagi iklim investasi nasional. Menurutnya, penambahan investasi ke industri semen merupakan salah satu kebutuhan dalam memenuhi permintaan nasional yang diperkirakan akan melesat.

"Kapasitas bertambah apakah permintaanya meningkat. Pemerintah harus terlibat [aktif], jangan diserahkan ke mekanisme pasar saja," ujarnya kepada Bisnis, Kamis (16/1/2020).

Khayam mengatakan pihaknya telah menyiapkan dua skema dalam meningkatkan serapan semen. Pertama, Kemenperin akan berkoordinasi dengan Kementerian PUPR dan Kementerian Perhubungan (Kemenhub) untuk menggunakan semen lokal dalam seluruh proyek pembangunan infrastruktur kementerian terkait.

Menurutnya, saat ini dua kementerian tersebut tidak terikat dengan sebuah aturan dalam penggunaan semen pada proyek infrastruktur. Pihaknya akan meminta agar Kementerian PUPR menggunakan semen lokal untuk proyek rumah susun, waduk, dan jalan tol, sedangkan Kemenhub untuk proyek pelabuhan dan bandar udara.

"Belum ada mandatori, tapi [nanti ajakannya] voluntary agak memaksa sedikit. Jadi, kami inign ada kesepahaman untuk mau menerapkan [semacam] TKDN [tingkat komponen dalam negeri] yang lebih [tinggi]," katanya.

Khayam memperkirakan utilitas pabrikan semen belum naik pada 2020-2021. Namun, lanjutnya, pabrikan semen akan mulai menembus posisi 70% dan pertumbuhan semen akan lebih dari 5% pada 2022-2024 lantaran proyeksi pertumbuhan sektor manufaktur yang tinggi.

Kedua, meningkatkan ekspor semen dengan mengimbau kontraktor lokal yang bertanggungjawab terhadap proyek di luar negeri untuk menggunakan semen domestik.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Andi M. Arief
Editor : Galih Kurniawan
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper