Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Harga Rokok Naik, Inflasi Tahun Ini Diperkirakan 3,43 Persen

Menurut ekonom Bank Danamon Wisnu Wardana, inflasi tahun ini masih rendah, terkendali, dan di bawah target Bank Indonesia yaitu 3,5% sampai 4,5%.
Gloria Fransisca Katharina Lawi
Gloria Fransisca Katharina Lawi - Bisnis.com 02 Desember 2019  |  18:03 WIB
Penjual melayani pembeli rokok di Jakarta, Rabu (19/9/2018). - ANTARA/Muhammad Adimaja
Penjual melayani pembeli rokok di Jakarta, Rabu (19/9/2018). - ANTARA/Muhammad Adimaja

Bisnis.com, JAKARTA – Kenaikan harga rokok sebelum penerapan tarif baru cukai rokok mengindikasikan peluang naiknya inflasi tahun ini sampai pada kisaran 3,43%.

Menurut ekonom Bank Danamon Wisnu Wardana, inflasi tahun ini masih rendah, terkendali, dan di bawah target Bank Indonesia yaitu 3,5% sampai 4,5%. Meski demikian, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi November 2019 sebesar 0,14% (mtm) atau 3,00% (yoy), ini banyak menerima andil selain dari pangan juga dari kenaikan harga rokok kretek dan filter.

“Kenaikan ini adalah antisipasi dari kenaikan cukai rokok pada Januari 2020,” kata Wisnu, Senin (2/12/2019).

Dia menilai, inflasi inti juga turun signifikan menjadi 3,08% (yoy) lebih rendah dari bulan sebelumnya, Oktober 2019 sebesar 3,20% (yoy). Adapun penopang dari penurunan ini salah satunya adalah deflasi pada tarif angkutan udara.

Dengan demikian, Wisnu yakin target Bank Indonesia di mana inflasi pada kisaran 2,5% sampai 4,5% akan tercapai. Sampai akhir 2019, pihaknya juga memprediksi inflasi masih akan berkisar pada 3,43%.

Deputi Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti menyatakan inflasi dengan pencatatan 0,14% menandakan inflasi relatif stabil dan terkendali. Meski demikian, memasuki Desember 2019, dengan pola musiman ada kecenderungan peningkatan inflasi dipicu oleh tingginya aktivitas konsumsi sekalipun kegiatan bisnis cenderung menurun.

Dia menilai, dengan pencapaian rendah bulan November, maka prediksi Bank Indonesia bisa ikut meleset, karena inflasi jatuh berada di bawah titik tengah target dari Bank Indonesia.

“Maka untung kita ada Tim Pengendali Inflasi Dearth, dan di pusat Tim Pengendali Inflasi Nasional, leadnya di Kemenko Perekonomian, Pemda, dan BI concern karena ini sesuai tugas kita menjaga inflasi tetap rendah,” ungkap Destry.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Inflasi
Editor : Achmad Aris
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top