Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Aman, Nyaman dan Selamat Bertransportasi Adalah Hak Semua Orang

Setelah merasa mimpi moda transportasi udara aman dalam pengerjaan pihak-pihak yang kompeten, kuajak pembaca kembali ke moda transportasi darat. Selain soal kecanggihan yang kabarnya akan menyerupai milik negara-negara maju macam di Singapura, Jepang, Belanda, Amerika Serikat dan Inggris; selayaknya kita juga melihat bagaimana sistem dan kebijakan transportasi di Indonesia mampu membawa perubahan 'kebiasaan' masyarakat Indonesia terkait keamanan, kenyamanan dan keselamatan bertransportasi.
Wijatnika Ika
Wijatnika Ika - Bisnis.com 28 November 2019  |  09:27 WIB

"I see incredible opportunities for transportation  to benefit from rapidly advancing automation,  connectivity, and information technologies."

-Dan Lapinski-

Setiap kali mendengar kata transportasi, aku ingat Pak Habibie (alm). Aku masih SD kala Habibie sang Insinyur berhasil membuat pesawat terbang pertama untuk Indonesia. Namanya N25 Gatotkaca. Nama tersebut kami ketahui dari berita di televisi dan radio.

Sebagai warga yang tumbuh di desa, rasanya momen tersebut sangat berharga. Ia abadi dalam ingatan dan angan. Belum sempat memang kurasakan sebagai penumpang di pesawat buatan Habibie, karena rencana besar itu terhambat krisis moneter yang tak kupahami pula.

Nah, saat Habibie menangis karena proyek besarnya untuk Indonesia mangkrak, aku masih siswa SMP yang sama sekali tidak mengerti dampak buruk krisis ekonomi selain harga pangan di kampung kami di Sumberjaya semakin mahal, sehingga keluargaku harus berhemat.  Orang desa sepertiku terbiasa kemana-mana berjalan kaki.

Ke kebun kami yang berjarak 7 km saja berjalan kaki. Maka total perjalanan yang kutempuh jika ke kebun kopi kami di gunung adalah 14 km. Ke sekolah pun sejak SD-SMU aku berjalan kaki. Yah, kedua kaki si orang desa ini sudah sangat kuat dan tahan banting. Waktu itu, angkutan yang ada hanya ojek, bis (yang melintas saja jarang), dan angkutan perdesaan.

Belasan tahun kemudian setelah masa itu aku jadi orang kota karena merantau di Bandar Lampung untuk kuliah, kemudian ke Jakarta untuk melanjutkan kuliah dan bekerja.  Tahun 2011 aku mendaftar S2 di Universitas Indonesia. Saat itu aku kos di Salemba, Jakarta. Dalam keadaan demam aku menuju kampus UI di Depok menggunakan kereta api yang kala itu masih beroperasi berdasarkan kasta.

Karena ingin memiliki pengalaman menyeluruh dalam berkereta, aku memilih kereta kelas terendah (aku lupa namanya) dengan harga tiket Rp.1.500. Sialnya, turun dari kereta aku malah muntah-muntah hebat. Sumpah ini kereta terburuk yang pernah kutumpangi dan aku kapok! Bayangkan saja, kereta ini jorok dan banyak sampah, membuat aku pusing dan stress. Sehingga demam yang kualami naik level menjadi semacam culture shock! Untung saja, saat menjalani tes aku masih waras sehingga aku berhasil kuliah di UI, sekaligus menjadi saksi hidup atas perubahan besar-besaran moda transportasi kereta api dalam kota yang kemudian dikenal sebagai komuter atau commuter line.

Ini kisah 8 tahun silam lho.  Sejak 2011 aku tinggal dan kuliah di Depok, tapi sering melakukan perjalanan ke Jakarta, Tangerang, Bogor dan bekasi untuk urusan pekerjaan. Melihat kondisi jalanan yang macet dan pengendara yang semuanya mau menang sendiri di jalanan, maka aku memilih commuter line sebagai moda transportasi utama. Alasannya sangat mendasar dan sederhana, yang sangat berkaitan erat dengan kebutuhanku akan rasa aman, nyaman dan selamat selama berkendara.

Meski berdesak-desakan bagai kerupuk dalam stoples, bepergian menggunakan komuter masih paling nyaman, dan tentu saja cepat karena bebas hambatan. Rasanya sedang mengalami euforia sebagai kaum dengan privilege tertentu karena rel kereta bebas macet macam di jalanan. Hal terpenting lainnya adalah: bebas dari polusi dan udara panas dong.

Media Informasi tentang konektifitas komuter di Jadebotabek, di Stasiun Cikini, Jakarta. Photo: Mbak Petugas

Nampaknya, selama lima tahun kebelakang (2015-2019) pemerintah Indonesia menaruh perhatian serius untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas layanan transportasi publik tanah air. Sebagai pengguna setia commuter line aku menyaksikan segala perubahan secara besar-besaran dilakukan. Kereta yang dulunya memiliki kasta berdasarkan kepemilikan uang untuk membeli tiket kini diganti menjadi satu jenis saja dengan kualitas pelayanan yang sama prima bernama komuter; stasiun yang dulu acak-acakan dirapikan menjadi begitu modern, bersih, dan nyaman; ticketing dari kertas ke digital, bahkan kini sudah ada mesin otomatis untuk isi ulang tiket; dibuatnya penanda jalan untuk penyandang disabilitas dan penyediaan kursi roda bagi orang sakit; adanya pelayanan khusus untuk perempuan hamil, balita, anak-anak dan lansia di kursi khusus; adanya gerbong khusus perempuan sebagai respon sejumlah kasus pelecehan seksual antar penumpang; sebaran media informasi yang eye catching dan modern; serta petugas yang siap sedia memberikan bantuan jika dibutuhkan, termasuk layanan khusus kesehatan di setiap stasiun. Pelayanan teranyar adalah charging station gratis untuk ponsel konsumen.

Salah satu bentuk kemajuan pelayanan publik di transportasi perkeretaapian Indonesia.

Bentuk-bentuk pelayanan publik tersebut tentu saja merupakan bagian kecil dari tampilan standard operasional procedure (SOP) para petugas. Meski demikian aku menyaksikannya dengan bangga, bahwa dunia transportasi Indonesia akan mengalami kemajuan sebagaimana negara lain yang sudah maju. Kemajuan ini bukan hanya pada 'barang' berupa kereta api dan stasiunnya, melainkan juga pada perlakukan humanis dari petugas pada penumpang, dari penumpang pada petugas, atau antar penumpang dan antar petugas. Dengan demikian, rasa aman dan nyaman pun terjamin meski harus bepergian hingga puncak malam tiba. Misalnya, aku nggak takut lagi mengalami pelecehan seksual atau kecopetan. 

Aku di dalam commuter line jurusan Manggarai-Jatinegara pada libur lebaran 2019. Terlihat begitu aman, nyaman dan bersih, bukan? Moda transportasi ini kusukai karena bebas macet, panas dan polusi udara. Photo: Fifi Hutahuruk

Selain itu, beberapa stasiun transit seperti Manggarai dan Duri juga mengalami renovasi besar-besaran. Terlebih Stasiun Manggarai dan Duri juga menjadi lokasi transit kereta khusus yang menghubungkan stasiun dengan Bandara Internasional Soekarno-Hatta di Tangerang, Banten. Kenyamanan dan keamanan bertransportasi darat kini ditambah dengan konektifitas yang mengagumkan. Sehingga, kita nggak takut lagi terjebak macet jika hendak ke bandara. Bagaimanapun, konektifitas mumpuni dalam transportasi publik bisa membuat kita hemat waktu dan energi dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. 

Yuk gunakan transportasi massal seperti komuter/KRL.

Nah, dalam rangka mengagumi dan menjajal perubahan-perubahan baik di bidang transportasi darat di area Jabodetabek, minggu depan aku dan seorang teman akan melakukan perjalanan khusus. Yaitu perjalanan menjajal semua moda transportasi modern yang menghubungkan area Jabodetabek. Rencananya kami akan menjajal MRT, menjajal beberapa rute busway demi menikmati sejumlah halte yang keren nan mentereng, hingga main ke stasiun transit yang masih dalam pembangunan untuk menjadi saksi mata perubahan signifikan pelayanan publik di bidang transportasi darat di Jabodetabek. 

Aku pun penasaran dengan MRT, termasuk bagaimana kondisi stasiun, pelayanan petugas dan hal-hal lain yang merupakan ciri modern dalam dunia transportasi. Pasalnya sehari-hari kebutuhan mobile-ku sebagai pekerja sudah terpenuhi oleh commuter line dan transportasi online, sehingga rasa penasaran soal MRT harus digenapi. Terlebih, aku dan temanku ingin mengujinya dalam konteks keamanan, kenyamanan dan keselamatan kami selama menggunakan transportasi tersebut. Sebagai pengguna komuter, aku ingin juga membandingkan kualitas moda transportasi unggulan Jakarta ini dengan KRL.  

VISI TRANSPORTASI INDONESIA MASA DEPAN

Sebagai negara kepulauan, Indonesia sangat luas. Tidak semua wilayah dapat dijangkau dan dihubungkan dengan moda transportasi darat dan laut. Kondisi tersebutlah yang kemudian membuat Habibie muda bertekad membuat pesawat terbang untuk Indonesia. Tujuan Habibie hanya satu: menghubungkan antar pulau di seluruh Indonesia. Demi tujuan tersebut, Habibie menghabiskan masa mudanya dengan kuliah di Jermah hingga mendapat gelar Professor dan mengantongi puluhan paten dalam dunia kedirgantaraan. Mimpi Habibie yang sempat melangit sempat kandas gara-gara krisis moneter dan perusahaan pembuat pesawat terbang nasional bangkrut. 

Namun, karena mimpi tersebut adalah mimpi sebuah bangsa dan bukan milik Habibie seorang, maka mimpi tersebut terus berupaya digenapi. Mimpi Habibie sangat mahal harganya dibandingkan dengan mimpi membangun dan memajukan moda transportasi publik di darat maupun di laut. Akhirnya, pada 2012, Habibie mendirikan PT. Regio Aviasi Industri (RAI) bersama Ilham Habibie. Produk utama PT. RAI yang masih dalam tahap pengembangan adalah pesawat R80, jenis pesawat turbopob dengan kapasitas 80 penumpang. Pengembangan pesawat R80 ini merupakan salah satu prioritas program pembangunan nasional di bidang transportasi sesuai dengan terbitnya Peraturan Presiden Nomor 58 Tahun 2017 tentang Proyek Strategis Nasional dalam kategori Program Industri Pesawat Terbang (Aircraft Industry Program). Melihat progress ini kita bisa bernapas lega, karena moda transportasi udara masa depan Indonesia sedang dikerjakan oleh tangan-tangan dingin penerus mimpi Habibie. Kabarnya, pesawat Habibie mengudara 2022.

Setelah merasa mimpi moda transportasi udara aman dalam pengerjaan pihak-pihak yang kompeten, kuajak pembaca kembali ke moda transportasi darat. Selain soal kecanggihan yang kabarnya akan menyerupai milik negara-negara maju macam di Singapura, Jepang, Belanda, Amerika Serikat dan Inggris; selayaknya kita juga melihat bagaimana sistem dan kebijakan transportasi di Indonesia mampu membawa perubahan 'kebiasaan' masyarakat Indonesia terkait keamanan, kenyamanan dan keselamatan bertransportasi.

Sebagai warga negara, kita berhak kok mempertanyakan apakah kehadiran moda transportasi modern semacam KRL, MRT dan LRT seiring sejalan dengan keamanan, kenyamanan dan keselamatan bertransportasi. Terlebih ketika Kementerian Perhubungan yang punya tanggung jawab penuh soal transportasi di tanah air diganjar penghargaan peringkat 3 lembaga negara paling berintegritas  berdasarkan hasil Survei Penilaian Integritas (SPI) tahun 2018 oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Walaupun survei dilakukan terkait transportasi udara dan laut, dengan ini kita percaya bahwa transportasi darat sedang berproses  untuk lebih baik dari sebelumnya. 

Wah, Kementerian Perhubungan keren ya

Sebagai negara hukum, Indonesia tentu tidak lupa membuat berbagai kebijakan yang berkaitan dengan keselamatan bertransportasi karena menyangkut hidup banyak orang. Dalam sebuah forum bertajuk "Sosialisasi Peraturan Perundang-Undangan di Bidang Transportasi Darat dan Peraturan Menteri Lainnya Tahun 2017", Staf Ahli Bidang Hukum dan Reformasi Birokrasi Perhubungan Kementerian Perhubungan mengatakan bahwa tiga hal utama yang menjadi tolak ukur keberhasilan kinerja Kementerian Perhubungan adalah keselamatan, keamanan dan pelayanan publik. Pemenuhan ketiga hal tersebut sangat erat kaitannya dengan infrastruktur dan kebijakan yang dilaksanakan dengan konsisten.

Dalam konteks kinerja, Kementerian Perhubungan tentu tak bisa melepaskan diri dari visi pembangunan nasional yang disepakati dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019. Dalam hal ini Kementerian Perhubungan memiliki visi, yaitu "Terwujudnya konektivitas nasional yang handal, berdaya saing dan memberikan nilai tambah." Agar visi tersebut terwujud, Kemenhub melakukannya melalui 7 misi di mana misi yang hebat,yaitu:

  • Meningkatkan keselamatan dan keamanan transportasi dalam upaya peningkatan pelayanan jasa transportasi. Misi ini bertujuan untuk mengurangi tingkat kecelakaan di sektor transportasi untuk menuju zero accident. Upaya yang dilakukan adalah penyediaan fasilitas keselamatan dan keamanan, peningkatan kualitas SDM di bidang transportasi dan pembenahan regulasi terkait keselamatan dan keamanan dengan berbagai pihak terkait.
  • Meningkatkan aksesibilitas masyarakat terhadap pelayanan jasa transportasi untuk mendukung konektivitas antar wilayah. Misi ini bertujuan untuk menghubungkan wilayah-wilayah kota dan desa hingga pulau-pulau terluar Indonesia.  
  • Meningkatkan kinerja pelayanan jasa transportasi.Hal ini berkaitan dengan anggaran untuk perawatan dan peremajaan armada, serta rehabilitasi dan pembangunan infrastruktur.
  • Meningkatkan kapasitas sarana dan prasarana pelayanan transportasi.Misi ini bertujuan untuk memenuhi permintaan akan peningkatan pelayanan transportasi yang memadai dan mencukupi kebutuhan bangsa. 
  • Meningkatkan peran daerah, BUMN dan swasta dalam penyediaan infrastruktur sektor transportasi. Peran stakeholdersdimaksudkan sebagai gotong royong penyediaan infrastruktur mengingat keterbatasan anggaran negara. 
  • Restrukturisasi dan reformasi di bidang peraturan, kelembagaan, Sumber Daya Manusia (SDM), dan pelaksanaan penegakan hukum secara konsisten.Hal ini terutama untuk memberikan akses kepada swasta untuk berperan dalam penyelenggaraan jasa transportasi. 
  • Mewujudkan pengembangan transportasi dan teknologi transportasi yang ramah lingkungan untuk mengantisipasi perubahan iklim. Misi ini dilakukan melalui penelitian dan pengembangan sehingga bisa menerapkan teknologi ramah lingkungan dalam menghadapi dampak perubahan iklim.

Alat-alat keselamatan yang sering kulihat setiap kali naik komuter.

Pencapaian visi dan misi Kementerian Perhubungan tersebut dipecah lagi dalam peta strategis dengan menggunakan pendekatan dan metode Balance Score Card (BCS), sehingga menghasilkan 4 persepsktif, yaitu: stakeholders perspective, customer perspective, Internal process perspective dan learn & growth perspective. Berikut adalah skema peta strategis Kementerian Perhubungan 2015-2019: 

Peta Strategis Kementerian Perhubungan Tahun 2015-2019. 

Nah, sekarang saatnya kita melihat apakah selama lima tahun tersebut Kementerian Perhubungan telah mencapai apa yang direncanakan? Secara tertulis, capaian tersebut bisa dibaca dan dipelajari dalam Laporan Kinerja Kementerian Perhubungan Tahun 2018. Datanya sangat lengkap, termasuk didalamnya Kemenhub LKIP 2018 (unduh DISINI). Disini, aku hanya akan membahas 3 hal saja yang berkaitan dengan tema tulisan ini, yaitu: 

1| Keamanan (rasa aman dalam perspektif customer)

Kualitas sarana dan prasarana moda transportasi adalah modal utama yang menjamin keselamatan bertransportasi. Sebagai transportasi massal, sepanjang 2017 saja KRL mengangkut 868.000 orang per hari atau sebanyak 315,8 juta penumpang yang dihitung berdasarkan penggunaan E-ticket. Pantas saja gerbong KRL selalu penuh bahkan harus berdesak-desakan. Pernah juga kurasakan gerbong KRL condong ke kiri atau kanan saking beratnya, sehingga penumpang pun secara otomatis terdorong ke arah yang miring dan menyebabkan ketakutan. Takut apa coba? Takut kereta terguling dan kami sebagai penumpang mati karena kehabisan napas saat berebut menyelamatkan tubuh masing-masing.

Pencapaian hebat dalam penggunaan transportasi massal KRL.

Meningkatnya jumlah pengguna layanan KRL ini tentu saja merupakan pencapaian dalam hal mengurangi kemacetan dan berkurangnya penggunaan kendaraan berbasis BBM yang mengancam iklim bumi. Tapi, bagaimana dengan faktor keamanan dalam konteks mengurangi resiko kecelakaan akibat kerusakan mesin atau human error? Soalnya beberapa kali terjadi masalah dengan gerbong kereta karena kondisinya sudah tua, atau anjlok sehingga menimbulkan masalah lain khususnya bagi penumpang. 

Ternyata perawatan kereta sangat rumit dan harus dilakukan secara berkala dan konsisten. Apakah kereta jenis moda transportasi yang manja? Hm, bukan itu sih alasannya. Karena kereta digunakan terus menerus, maka diperlukan 3 jenis perawatan, yaitu perawatan harian, bulanan dan tahunan. Perawatan harian dilakukan pada seluruh unit KRL yang berfokus pada fungsi elektrik dan kelengkapan KRL agar selalu berfungsi dengan selamat dan handal. Yang dicek misalnya lampu, klakson, wiper, suspensi, alat pengereman, kompresor udara, dan AC. Pengecekan dilakukan selama 45 menit oleh 2 orang di dalam dan di luar gerbong kereta. Hal ini dilakukan untuk menjaga kualitas dan melihat perubahan yang terjadi karena kereta digunakan berkali-kali setiap harinya. 

Perawatan bulanan dilakukan dengan menyeluruh. Seperti pengecekan dan penggantian minyak pelumas, pembersihan kompresor, hingga perawatan karbon pantograf. Setelah personil melakukan perawatan, ada personil lain yang melakukan quality control untuk memastikan kualitas hasil perawatan. Sementara perawatan tahunan diakukan overhaul untuk melihat body kereta. Dalam overhaul, body kereta dipisahkan dari roda (bogie) kereta. Tim overhaul memeriksa semuanya hingga komponen terkecil. Nah, jika ada komponen rusak maka diganti dengan suku cadang baru. Perawatan overhaul ini memerlukan waktu 30 hari dan dilakukan di 2 bengkel besar yaitu Balai Yasa Manggarai dan Depo KRL Depok. Di Balai Yasa Manggarai ini ada 600 personel yang bekerja untuk melakukan perawatan kereta. Dan yang mengejutkan adalah, bahwa perawatan satu rangkaian kereta bisa menghabiskan dana puluhan juta rupiah. 

Petugas sedang melakukan pengecekan tahunan pada kereta di Balai Yasa Manggarai. Sumber: jpnn.com

Tahun 2019 ini, dilakukan peremajaan gerbong kereta KRL dengan mendatangkan 196 kereta sejak Januari. Peremajaan ini dilakukan untuk mengatasi gangguan operasional KRL dan mengotimalkan stand formasil 12 rangkaian yang akan berkembang dari 31 menjadi 36 unit rangkaian. Kabarnya, pada 2020 PT. KCI akan mendatangkan 96 unit. Dan semua unit tersebut diimpor dari Jepag karena PT. INKA memang belum memproduksi kereta jenis komuter. PT. KCI juga berusaha memensiunkan kereta secara bertahap karena sadar bahwa di masa depan kereta jenis lama tidak mungkin beroperasi lagi. 

Sementara itu, kabar dari MRT Jakarta lebih keren lagi. Karena menyadari bahwa keamanan adalah investasi terbesar dalam industri transportasi massal seperti kereta api, maka PT. MRT Jakarta melakukan pembelajaran dengan para pakar transportasi Jepang. Dari Jepang, pihak PT. MRT Jakarta belajar bahwa keunggulan yang harus ditonjolkan pertama kali dalam transportasi massal seperti MRT adalah keamanan. Aspek keamanan dalam sistem perkeretaapian meliputi stasiun, trek kereta, rangkaian kereta, tenaga listrik persinyalan, sistem IT, infrastrukstur dan pelayanan bisnis. Setiap pekerja juga dilatih untuk mengutamakan keselamatan atau safety first. Bahkan, tes untuk menguji tingkat kegugupan atau nervous masinis juga harus dilakukan. 

2| Keselamatan (dan aksesibilitas)

Ada budaya perusahaan yang terus dikembangkan dan ditingkatkan seperti pada PT. Kereta Komuter Indonesia yang mengurusi KRL. PT. KCI berkomitmen bersama untuk menciptakan lingkungan dan proses kerja yang aman dalam menjalankan misi perusahaan untuk memberikan layanan jasa transportasi yang mengedepankan keselamatan,keamanan dan kenyamanan serta terciptanya Zero Accident. Budaya perusahaan ini juga secara internal dikenal dengan GREAT yang bermakna integritas, profesionalitas, inovasi dan keselamatan. Sebagai konsumen, aku bisa merasakan semua ini sejak dari aplikasi yang kuunduh di ponselku, sehingga kita bisa memperhitungkan rencana perjalanan dengan tenang, tanpa takut telat dan terburu-buru. Karena terburu-buru seringkali berujung kecelakaan kecil. 

Budaya perusahaan PT. KCI

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Kemenhub
Editor : Media Digital
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top