Jika Suku Bunga Kembali Turun, Pesimisme Pasar Menguat

Bank Indonesia perlu mempertimbangkan persepsi pasar jika suku bunga acuan kembali diturunkan karena menimbulkan pesimisme pada pertumbuhan ekonomi tahun depan.
Gloria Fransisca Katharina Lawi
Gloria Fransisca Katharina Lawi - Bisnis.com 20 November 2019  |  20:20 WIB
Jika Suku Bunga Kembali Turun, Pesimisme Pasar Menguat
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo (Tengah) bersama dengan Dewan Gubernur BI sebelum menggelar jumpa pers hasil Rapat Dewan Gubernur BI Juli 2019 di Jakarta, Kamis (18/7/2019). Bisnsis - Gloria F.K Lawi

Bisnis.com, JAKARTA – Bank Indonesia perlu mempertimbangkan persepsi pasar jika suku bunga acuan kembali diturunkan karena menimbulkan pesimisme pada pertumbuhan ekonomi tahun depan.

Ekonom BCA, David E. Sumual menyatakan bank sentral di dunia memang masih dalam tren memangkas suku bunga untuk antisipasi perlambatan ekonomi tahun depan.

Namun, Bank Indonesia sendiri sudah melakukan pemangkasan empat kali dalam empat bulan terakhir dengan total 100 basis poin, dari yang sebelumnya 6,00 persen menjadi 5,00 persen.

Oleh sebab itu, jika Bank Indonesia kembali mengambil ruang pemangkasan pada bulan ini, David menilai akan terjadi pesimisme di pasar bahwa perlambatan ekonomi terjadi jauh di bawah ekspektasi.

“Mesti lihat permintaan kredit masih lemah, jadi kalau menurunkan lagi mungkin pelaku pasar lihat pertumbuhan ekonomi ke depan lebih rendah dari yang didengungkan," katanya, Rabu (20/11/2019).

Meski demikian, David tidak menampik ruang pemangkasan masih terbuka seiring dengan inflasi yang terkendali, cadangan devisa yang meningkat pada Oktober, serta neraca perdagangan Oktober 2019 yang mencatatkan surplus US$161,3 juta.

Oleh sebab itu, untuk mendorong permintaan kredit, maka Bank Indonesia bisa mengambil jalan lain yakni memangkas instrumen moneter Giro Wajib Mininum (GWM) primer. Opsi lain adalah menambah relaksasi kebijakan makroprudensial sembari menunggu dampak transmisi dari empat kali pemangkasan suku bunga.

“Kita harus lihat dampak transmisinya dari kebijakan moneter ini ke sektor riil. Suku bunga dana sudah menurun, mungkin perlu dilihat kondisi likuiditas agak ketat LDR 93 persen-94 persen, maka mungkin bisa juga via instrumen pelonggaran GWM, primer maupun sekunder,” paparnya.

David juga menambahkan, dari sisi pertimbangan eksternal The Fed masih akan menahan suku bunga. Beberapa dampak lain yang harus dipertimbangkan adalah ketidakpastian dari kelanjutan kesepakatan dagang Amerika Serikat dan China.

Sementara itu, Kepala Ekonom BNI Ryan Kiryanto menambahkan, inflasi yang terkendali di bawah 3,5 persen, suku bunga yang dipangkas Bank Indonesia sudah bergerak turun mengikuti ketetapan BI7DRR.

Apalagi, posisi cadangan devisa US$126,7 miliar pada Oktober dan surplus neraca dagang membuat Bank Indonesia cukup yakin dengan posisi suku bunga acuan saat ini.

“Pertimbangan lain adalah menjaga kestabilan nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing, terutama dolar AS di tengah faktor eksternal seperti Brexit, perang dagang dan risiko geopolitik,” jelas Ryan.

Dia menilai, Bank Indonesia selama ini sudah berjalan seiring dengan strategi The Fed dalam memangkas suku bunga. Sehingga, setelah empat kali memangkas suku bunga , Ryan menilai bank sentral perlu jeda atau menahan pemangkasan selanjutnya. Hal ini terutama, kata Ryan, The Fed sudah memberikan sinyal tidak akan melakukan pemangkasan lanjutan di sisa tahun ini.

“Hal serupa juga untuk posisi Deposit Facility Rate dan Lending Facility Rate sebaiknya tetap bertahan,” paparnya.

Ryan menambahkan, peluang kebijakan makroprudensial lain juga tidak perlu dilakukan mengingat kebijakan makroprudensial berupa relaksasi LTV untuk properti dan otomotif baru akan berlaku pada 2 Desember 2019 mendatang.

Sehingga, Bank Indonesia bisa memberikan ruang bagi perbankan untuk meningkatkan ekspansi kredit seiring dengan melonggarnya likuiditas bank karena dorongan dari percepatan belanja barang dan belanja modal oleh pemerintah.

Dia menilai, ketika semua kebijakan BI dikeluarkan untuk melanjutkan momentum pertumbuhan sudah saatnya kebijakan fiskal mengambil peran lebih besar melalui serapan belanja kementerian dan lembaga lebih cepat.

“Agar kebijakan moneter dan makroprudensial mencapai tujuannya yaitu mendorong permintaan kredit ketika likuiditas tidak menjadi ganjalan bagi perbankan lantaran ada guyuran likuiditas dari akselerasi serapan belanja pemerintah jelang tutup tahun,” tutur Ryan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Pertumbuhan Ekonomi, Suku Bunga

Editor : Akhirul Anwar
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top