Lindungi SKT, Gabung Batasan Produksi Rokok Mesin

Bisnis.com, JAKARTA – Pemerintah akan memberlakukan tarif cukai baru mulai Januari 2020. Namun, kenaikan tarif cukai yang dilakukan terhadap sigaret kretek tangan (SKT) harus jauh di bawah kenaikan cukai sigaret kretek mesin (SKM) ataupun sigaret putih mesin (SPM).
Bambang Supriyanto
Bambang Supriyanto - Bisnis.com 06 Oktober 2019  |  20:10 WIB
Lindungi SKT, Gabung Batasan Produksi Rokok Mesin
Sejumlah pekerja pabrik rokok menghitung uang Tunjangan Hari Raya (THR) Lebaran saat pembagian di Kudus, Jawa Tengah, Selasa (21/5/2019). - ANTARA/Yusuf Nugroho

Bisnis.com, JAKARTA – Pemerintah akan memberlakukan tarif cukai baru mulai Januari 2020. Namun, kenaikan tarif cukai yang dilakukan terhadap sigaret kretek tangan (SKT) harus jauh di bawah kenaikan cukai sigaret kretek mesin (SKM) ataupun sigaret putih mesin (SPM). 

Persentase kenaikan maksimal cukai rokok buatan tangan ini harus jauh dibawah persentase kenaikan cukai rokok buatan mesin.

"Ini untuk melindungi para pekerja SKT. Juga untuk menjaga pendapatan daerah. Karena banyak daerah yang APBD nya juga disumbang dari industri rokok,"ujar Pemerhari Kebijakan Publik Agus Wahyudin, Minggu (6/10/2019).

Hal senada juga diungkapkan  Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) Andi Gani Nena Wea. Jika kenaikan tarif cukai SKT tidak berbeda jauh dengan rokok mesin, maka akan terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK) secara massal. “Selama ini SKT merupakan industri padat karya yang menyerap tenaga kerja banyak,” kata Andi. 

Berbagai kekhawatiran tersebut juga sudah disampaikan Andi Gani saat bertemu dengan Presiden Joko Widodo di Istana Bogor pada Senin, 30 September 2019 lalu. "Kami juga mendesak Menteri Keuangan tidak membuat gaduh dengan mengeluarkan kebijakan yang merugikan industri dan buruh," kata Andi.

Kementerian Perindustrian mencatat, total tenaga kerja yang diserap oleh sektor industri rokok mencapai 5,98 juta orang. Rinciannya, 4,28 juta  adalah  pekerja  di sektor  manufaktur dan distribusi serta sisanya 1,7 juta bekerja di sektor perkebunan. Sebagian besar pekerja di manufaktur merupakan para pelinting SKT. 

Selain tarif cukai, Andi juga mendorong penggabungan batasan produksi rokok buatan mesin SPM dan SKM. Menurut dia, perusahaan rokok besar asing multinasional masih memanfaatkan tarif cukai yang murah untuk merebut pasar.

"Pabrik multinasional yang punya SPM dan SKM itu harus digabung. Supaya produksi rokok mesin dijadikan satu dan nanti bayar cukai tertinggi," jelasnya.

Penggabungan ini diharapkan akan menciptakan aspek keadilan dalam berbisnis di industri hasil tembakau, utamanya melindungi SKT dan pabrikan rokok kecil lokal agar tidak bersaing langsung dengan pabrikan rokok besar asing yang padat modal.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
industri rokok

Editor : Bambang Supriyanto

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top