Pertumbuhan Industri Kimia Dasar Diproyeksi Mentok 5% Tahun Ini

Asosiasi Kimia Dasar Anorganik Indonesia (AKIDA) memproyeksikan pertumbuhan produksi industri kimia dasar tahun ini berada di rentang -5% hingga 5%.
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 29 Juli 2019  |  12:28 WIB
Pertumbuhan Industri Kimia Dasar Diproyeksi Mentok 5% Tahun Ini
Industri keramik merupakan salah satu penyerap produk kimia dasar-ilustrasi - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA – Asosiasi Kimia Dasar Anorganik Indonesia (AKIDA) memproyeksikan pertumbuhan produksi industri kimia dasar tahun ini berada di rentang -5% hingga 5%, lantaran kencangnya produk impor baik langsung maupun ke industri hilir.

Ketua AKIDA Michael Susanto Pardi mengatakan kendati belum semua bahan kimia diproduksi di dalam negeri, kapasitas industri kimia dasar lokal sejatinya sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan industri hilir lokal.

“Kebanyakan [pelaku industri memproyeksi tumbuh] flat atau berkurang malahan. Beberapa anggota kami mengalami penurunan produksi dibanding tahun lalu,” ujarnya kepada Bisnis pekan lalu.

Michael mengatakan penjualan produk kimia dasar di dalam negeri cenderung menurun dibanding tahun lalu, sedangkan serapan di pasar global cenderung stabil. Namun, penjualan ekspor produk kimia lokal pun mendapat tantangan. “Seperti di Filipina, sodium silicate Indonesia kalah bersaing dengan produk dari China karena gas di China jauh lebih murah.”

Michael menyatakan rata-rata utilisiasi pabrik kima dasar di dalam negeri berada di kisara 60%-70% pada tahun ini. Adapun, tingkat utilisasi normal pabrik kimia dasar berada di level 65%-80%.

Pihaknya bekerja sama dengan Kementerian Perindustrian untuk membuat proyeksi produksi produk kimia dasar hingga 10 tahun—20 tahun ke depan. Kerja sama tersebut bertujuan agar industri kimia dasar dapat mendorong pertumbuhan industri hilir dan tidak bergantung pada produk impor.

Michael mengatakan masih banyak pekerjaan rumah para pemangku kepentingan dalam pengembangan industri kimia dasar. Agar industri kimia dasar berkembang, katanya, dibutuhkan beberapa hal seperti kepastian hukum yang bebas dari gangguan nonteknis dan gangguan lainnya.

Selain itu, pemangku kepentingan juga perlu memberikan insentif baik berupa regulasi maupun pajak. Dia juga meminta agar tarif gas di dalam negeri lebih kompetitif agar dapat bersaing di pasar global.

“Industri kimia adalah industri yang padat investasi, mahal, dan menggunakan teknologi tinggi. Memang ini pekerjaan rumah yang tidak mudah untuk stakeholdedr,” katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
industri kimia

Editor : Galih Kurniawan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top