Ekonomi Kreatif Menangkal Efek Disruptif

Boleh saja neraca dagang Indonesia terus-terusan babak belur. Namun, tidak untuk neraca transaksi produk kreatif, di mana catatan surplus masih terus bertahan.
Kahfi
Kahfi - Bisnis.com 17 Juli 2019  |  09:11 WIB
Ekonomi Kreatif Menangkal Efek Disruptif
Model memperagakan busana karya anggota Asosiasi Perancang dan Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) dalam pembukaan Indonesia Fashion Week 2019, di Jakarta, Rabu (27/3/2019). - Bisnis/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA -- Elliot Tiber adalah seorang desainer interior gagal. Pada 1969, dia masih berusia muda ketika memutuskan kembali ke rumah keluarganya di Bethel, New York.

Di sana, Tiber ditugaskan sang ayah untuk mengelola motel El Monaco di kota kecil itu. Di tubir kegagalan tersebut, dia merasa mustahil bisa mendatangkan pengunjung ke motel yang berkapasitas puluhan kamar milik sang ayah.

Pada saat yang bersamaan, terdapat kabar bahwa dalam waktu dekat akan diselenggarakan konser musik akbar di Orange County, kota kecil lainnya di New York. Namun, tak satupun pihak yang sudi menyewakan lahan untuk gelaran konser bagi kaum “Hippie” itu.

Tiber pun melirik peluang tersebut. Dalam benaknya, dengan memboyong konser ke wilayah Bethel, seluruh persoalan bisnis masyarakat setempat yang cekak akan tuntas.

Detail Monumen Woodstock di Bethel Woods Center for the Arts di Sullivan County, New York, AS./Reuters

Dia pun berbicara di muka kamar dagang lokal. Namun, keinginannya tetap tak kesampaian meski konser musik akbar bertajuk Woodstock tersebut tetap berlangsung di Bethel, tepatnya di atas lahan milik Max Yasgur.

Sosok Tiber dikenang sebagai pencetus ide konser besar itu. Hingga kini, konser Woodstock mempunyai tempat tersendiri di dunia musik dan Tiber merupakan sosok kunci kesuksesan itu.

Dia berkarakter tak kenal menyerah, kegagalan karir desain malah melambungkan namanya. Tiber juga kreatif, jeli melihat peluang.

Tentunya, apapun yang dipunyai Tiber muda tak ubahnya persepsi terhadap penanda generasi milenial. Kreatif, percaya diri tinggi, serta tak mudah pasrah.

Belakangan ini, generasi milenial inilah yang dianggap cocok mengembangkan ekonomi kreatif. Kegiatan ekonomi dengan sektoral yang sebenarnya pula tak jauh beda dengan yang generasi Tiber lakukan: musik, festival, pariwisata, serta hiburan lainnya.

Bedanya, ekonomi kreatif yang dikayuh generasi milenial saat ini turut mengandalkan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi digital.

Bidang ekonomi kreatif inilah yang hendak digarap seluruh negara multilevel status. Lebih-lebih bagi negara kelas berkembang, ekonomi kreatif seakan memberikan janji kemenangan melawan keunggulan negara maju.

Sebagaimana pernah diucapkan Presiden Joko Widodo secara gamblang.

“Jika kita mencoba bersaing dengan Jerman dan China pada teknologi tinggi, kita akan kalah. Namun dalam ekonomi kreatif, kita masih punya peluang,” katanya.

Kepercayaan yang sama memang telah mengglobal. Bahkan, organisasi naungan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB), ramai-ramai mendorong perkembangan ekonomi kreatif.

Pada 2016, United Nations Conference on Trade and Development (UNCTAD) merilis laporan perdana tentang perkembangan ekonomi kreatif. Merujuk definisi UNCTAD, ekonomi kreatif adalah kegiatan bisnis yang mengandalkan kreativitas, teknologi, budaya, inovasi, serta inklusif, dan memberikan pertumbuhan berkelanjutan.

Berdasarkan laporan yang sama, UNCTAD membagi ekonomi kreatif ke dalam beberapa sektor, antara lain seni dan kerajinan tangan, penerbitan, film, karya lukis, festival, industri musik, desain, animasi digital, dan video games.

Mereka mengail pendapatan dari kegiatan perdagangan, terutama aktivitas ekspor serta hak kekayaan intelektual, dan menggunakan keterampilan tingkat tinggi, baik itu usaha kelas menengah maupun usaha kelas kecil.

Presiden Joko Widodo (tengah) didampingi Kepala Bekraf Triawan Munaf (kanan) dan Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo membuka Pameran Karya Kreatif Indonesia di JCC Senayan, Jakarta, Jumat (12/07/2019)./ANTARA FOTO-Puspa Perwitasari

Ekonomi kreatif selalu ditandai dengan penggunaan hasil dari revolusi digital, pendidikan, dan inovasi, kreativitas serta pengetahuan berbasis industri yang baru berkembang dan dinamis.

UNCTAD menganggap ekonomi kreatif sangat penting pada masa mendatang karena mempunyai unsur inklusivitas, baik itu tingkat nasional maupun global. Oleh karena itu, ekonomi kreatif pun didorong secara langsung oleh PBB, terutama dalam rencana aksi Transforming Our World : the 2030 Agenda for Sustainable Development.

Kinerja Ekonomi Kreatif
UNCTAD merilis laporan jilid dua terkait ekonomi kreatif pada akhir 2018, bertajuk Creative Economy Outlook, yang mencakup data dari 130 negara. Hingga 2015, organisasi dunia yang menangani perdagangan dan investasi itu mencatatat total pasar ekonomi kreatif global mencapai US$509 miliar, sekitar Rp7.087,82 triliun [kurs tengah Bank Indonesia Rp13.925 per dolar AS].

Secara keseluruhan, sewaktu krisis keuangan melanda, kontribusi ekonomi kreatif justru tak melorot sebagaimana transaksi perdagangan sektor lain.

Organisasi PBB itu pun berkesimpulan selama rentang waktu 2002-2015, sektor kreatif malah tumbuh rata-rata 7 persen. Padahal, perdagangan dunia secara keseluruhan, pada 2014-2015 saja, mengalami penurunan 12 persen.

Negara-negara seperti China, Hong Kong, India, Singapura, Turki, Thailand, Malaysia, Meksiko, dan Filipina menempati peringkat 10 besar teratas sebagai eksportir dari negara berkembang.

Kasus China menjadi sorotan utama laporan tersebut. UNCTAD mengakui meski laporan itu memasukkan China dalam kategori negara berkembang, sesungguhnya negara tersebut merupakan salah satu negara termaju saat ini.

Pengrajin membuat perhiasan dari perak di Kendalsari, Malang, Jawa Timur, Senin (8/5/2017)./ANTARA FOTO-Ari Bowo Sucipto

Tak terbayangkan, China berhasil menggenjot pertumbuhan berkelanjutan selama tiga dekade belakangan. UNCTAD menggarisbawahi bahwa China mendominasi pasar kreatif global.

Dalam catatan tersebut, negeri yang kini dipimpin Xi Jinping itu telah memimpin pertumbuhan ekonomi kreatif global sejak lama dengan tingkat pertumbuhan rata-rata 14 persen selama rentang 2002-2015. Pada 2002, total ekspor komoditas kreatif Negeri Panda mencapai US$32 miliar, dan menjadi US$168,5 miliar pada 2015.

Sementara itu, Indonesia mempunyai penyangga utama ekspor kreatif seperti subsektor perhiasan dan produk desain interior. Bahkan, untuk subsektor perhiasan yang dalam catatan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) masuk dalam kategori fesyen, Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat pertumbuhan ekspor tercepat.

Catatan kinerja sekitar sedekade, buat Indonesia tidak jelek. Sisi ekonomi kreatif negeri ini terus berkembang, bahkan mencatatkan surplus perdagangan.

Data terakhir yang dihimpun UNCTAD, Indonesia mencatatkan surplus perdagangan produk kreatif sebesar US$3,68 miliar, sekitar Rp51,24 triliun. Perinciannya, total ekspor mencapai US$5,15 miliar dan impor sebesar US$1,46 miliar.

Adapun Bekraf mencatat hingga kini, kontribusi ekonomi kreatif terhadap PDB sebesar 7,38 persen. Nilai transaksi ekonomi kreatif terus meningkat dari sekitar Rp852 triliun pada 2015, menjadi Rp1.105 triliun pada tahun lalu.

Pada 2019, Bekraf memproyeksi angka tersebut dapat mencapai Rp1.211 triliun.

Namun, UNCTAD menyarankan agar Indonesia segera melakukan diversifikasi produk kreatif. Saat ini, penyangga utama ekspor produk kreatif Indonesia berasal dari produk desain interior. Indonesia mempunyai keunggulan di atas negara lain, dengan mengandalkan sektor perkayuan yang masih melimpah.

Di sisi lain, pasar ekspor Indonesia juga kian meluas. Pada era 2005, produk kreatif Indonesia banyak diserap pasar Amerika, dengan porsi 34 persen dari total ekspor. Sementara itu, regional Eropa menyerap 33 persen, Asia 27 persen, dan selebihnya kawasan Afrika serta Oseania.

Pada 2014, kondisi itu berkebalikan. Asia jadi pasar utama produk kreatif Indonesia setelah menyerap 48 persen dari total ekspor, sedangkan Amerika berkurang menjadi 23 persen, begitupun Eropa yang terkikis hingga 16 persen. Sementara itu, pertumbuhan signifikan ditunjukan oleh penyerapan kawasan Afrika yang mencapai 11 persen.

Tantangan
Tantangan global masa mendatang bagi ekonomi kreatif antara lain soal nasib para pekerja. Di tengah gelombang kemajuan teknologi digital dan konektivitas, ancaman terhadap pekerja konvensional kian membesar.

Secara global, ILO dan UNCTAD pun berupaya merumuskan agar keruntuhan industri konvensional disiasati dengan penciptaan lapangan kerja baru melalui transformasi digital.

Dalam kesimpulannya, UNCTAD menekankan bahwa pekerja era digital harus siap menghadapi tantangan berupa ketidaksesuaian latar belakang akademik dan lebih mengutamakan keterampilan. Sehingga, boleh jadi, pekerja berstatus informal akan jauh lebih besar pada masa mendatang.

Pada saat yang bersamaan, para profesional yang menjual keahliannya harus siap berekspansi ke berbagai penjuru dunia. Orang-orang profesional tersebut antara lain perancang web, agen pemasar, hingga akuntan.

Merujuk hal tersebut, UNCTAD memperingatkan agak pembentukan generasi pekerja pada era ini diarahkan kepada kemampuan berpikir kreatif, keandalan memecahkan masalah, serta kepiawaian bekerja dengan teknologi pintar. Karena hal itulah, institusi tersebut mendorong pendidikan berbasis Sains, Teknologi, Rekayasa, Matematika (Science, Technology, Engineering, Mathematics/STEM) dengan tambahan Art Training.

Pengunjung memilih produk kerajinan saat pameran kerajinan dan seni "Gebyar Karya Jogja" di kawasan Nol Kilometer Yogyakarta, DI Yogyakarta, Kamis (11/7/2019). Pameran yang diikuti 70 pelaku usaha kerajinan dan seni Yogyakarta tersebut sebagai upaya mendorong ekonomi kreatif Indonesia./ANTARA FOTO-Hendra Nurdiyansyah

CEO Alvara Research Hasanuddin Ali membenarkan tantangan global bagi perkembangan ekonomi kreatif tersebut. Belum lama ini, Alvara telah merilis hasil riset terkait preferensi generasi milenial yang berkorelasi dengan pengembangan ekonomi kreatif.

Hasanuddin menuturkan saat ini, merupakan momentum tepat agar Indonesia bisa memacu pertumbuhan ekonomi kreatif seiring proyeksi ledakan jumlah generasi milenial.

“Mereka ini cocok bagi pengemban kemajuan ekonomi kreatif karena memiliki jiwa wirausaha lebih kental, kepercayaan diri lebih kuat, dan sifat konektif yang tinggi,” jelasnya kepada Bisnis, baru-baru ini.

Fakta di lapangan menunjukkan bahwa hasil karya ataupun inovasi dari anak bangsa tak kalah bersaing dengan barang impor. Persoalan utama masih membelit daya dobrak generasi milenial pada ekonomi kreatif, seperti kekurangan Sumber Daya Manusia (SDM).

“Ini harus jadi titik berat pembenahan oleh institusi pemerintah,” singgung Hasanuddin.

Kendala lain yaitu akses permodalan dan pasar.

“Kalau yang sudah unggul, seperti Go-Jek dan Traveloka, bisa jadi acuan bagaimana pemerintah bisa membantu dari segi regulasi dan membuka akses,” tegasnya.

Hal ini pun diamini Kepala Bekraf Triawan Munaf. Menurutnya, sejauh ini, pemerintah lewat berbagai lembaga berjuang agar ekonomi kreatif, terutama dari kalangan muda, terus berkembang.

Sejumlah peserta mengikuti perlombaan game Player Unknown's Battle Grounds (PUBG) di Meulaboh, Aceh Barat, Aceh, Sabtu (22/6/2019)./ANTARA FOTO-Syifa Yulinnas

“Untuk usaha rintisan yang sebagian besar sebagai calon pemain ekonomi kreatif, kami berupaya agar tak membebaninya dengan peraturan yang membebankan, biar tumbuh dulu,” ucap Triawan kepada Bisnis, beberapa waktu lalu.

Dia mengungkapkan untuk menciptakan ekosistem mendukung bagi ekonomi kreatif, dibutuhkan koordinasi yang lebih responsif antara kementerian dan lembaga.

“Terkadang bahkan memerlukan pertimbangan dan keputusan dari presiden apabila ditemukan kendala birokrasi maupun aturan yang lebih banyak merugikan atau relevansinya sudah kadaluarsa,” tukas Triawan.

Ekonomi kreatif memang seakan menyelesaikan banyak soal perekonomian saat ini, dari mulai efek disrupsi digital, kemandekan pengembangan teknologi canggih yang setara negara maju, ataupun menciptakan wajah perekonomian yang lebih ramah manusia dan alam. Keberhasilannya masih tergantung kebijakan komprehensif, tak cuma akses modal dan pasar, tapi juga proses pembentukan manusia kreatif.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ekonomi kreatif, fokus

Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top