KSP : Tol Laut Dirancang jadi Lokomotif Ekonomi Kawasan Timur

Program Tol Laut diharapkan dapat mempercepat integrasi antara kawasan pelabuhan dengan kawasan industri dan klaster-klaster ekonomi untuk menopang kebutuhan barang.
Sri Mas Sari | 20 Mei 2019 21:57 WIB
Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi (ketiga kanan) berbincang dengan Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita (kedua kanan) saat menghadiri seminar nasional tol laut di atas kapal KM Dorolonda, Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, Jawa Timur, Senin (4/2/2019). - ANTARA/Abriawan Abhe

Bisnis.com, JAKARTA - Kantor Staf Presiden menyatakan program Tol Laut dirancang menjadi lokomotif pembangunan di kawasan Indonesia timur, tidak sekadar menunjang kelancaran arus barang dan logistik dan menekan biaya logistik.

Tenaga Ahli Komunikasi Politik dan Diseminasi Informasi KSP Jojo Raharjo mengatakan, program Tol Laut diharapkan dapat mempercepat integrasi antara kawasan pelabuhan dengan kawasan industri dan klaster-klaster ekonomi untuk menopang kebutuhan barang.

"Tol laut juga menjadi salah satu solusi untuk mengatasi kesenjangan antara wilayah Indonesia barat dengan Indonesia timur. Melalui program ini, dikembangkan kawasan industri atau kawasan ekonomi baru di sekitar pelabuhan utama maupun pelabuhan pengumpul agar terjadi keseimbangan pengangkutan barang," katanya dalam bedah buku Tol Laut Jokowi Denyut Ekonomi NKRI Akhmad Sujadi, Senin (20/5/2019).

Kehadiran Tol Laut, lanjut dia, akan melapangkan jalan suatu kawasan yang yang memiliki potensi dan mendorong ketersediaan infrastruktur yang memadai.

Secara bertahap, lanjut Jojo, Tol Laut telah menekan disparitas harga antara Indonesia barat dan timur yang ditandai dengan penurunan harga kebutuhan pokok daerah tujuan sekitar 20%--40%, di samping membuka pasar baru bagi potensi ekonomi di kawasan timur.

Berdasarkan catatan KSP, harga semen di Wamena, Papua, turun sekitar 35% menjadi Rp300.000 per zak. Di Wasior, harga beras turun 4%, semen 8%, besi 10%, dan seng 9%.

Di Nusa Tenggara Timur, dampak penurunan disparitas harga cukup terasa dibandingkan dengan Papua. Misalnya di Larantuka, penurunan harga barang pokok berkisar 5%-15%. Di samping itu, aktivitas ekonomi lokal mulai menggeliat dengan pengangkutan ikan ke Surabaya. Adapun di Rote, harga barang pokok turun 6%-13 %.

"Indikator sederhana dapat dicermati dari peningkatan mobilitas manusia dan mobilitas barang."

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
indonesia timur, Tol Laut

Editor : Yusuf Waluyo Jati

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top