Pemkab Blora Undang Investor untuk Bangun Pabrik Pakan

Pemerintah Kabupaten Blora, Jawa Tengah, mengundang para investor untuk membangun pabrik pakan di daerahnya karena yakin luas tanam jagung mencapai 26.000 hektare.
Pandu Gumilar
Pandu Gumilar - Bisnis.com 20 Februari 2019  |  09:28 WIB
Pemkab Blora Undang Investor untuk Bangun Pabrik Pakan
Buruh tani memanen jagung manis di lahan pertanian jagung Kadireso, Teras, Boyolali, Jawa Tengah, Senin (31/7). - ANTARA/Aloysius Jarot Nugroho

Bisnis.com, JAKARTA – Pemerintah Kabupaten Blora, Jawa Tengah, mengundang para investor untuk membangun pabrik pakan di daerahnya karena yakin luas tanam jagung mencapai 26.000 hektare.

Bupati Blora Joko Nugroho mengatakan Februari dan Maret merupakan puncak panen raya jagung di Kabupaten Blora. Laporan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Blora menyebutkan luas panen pada Januari-Maret sampai 26.977 hektare.

Luas tersebut terbagi menjadi 21.051 hektare lahan persawahan ditambah 5.926 hektare lahan Perhutani. Adapun produksi jagung diperkirakan mencapai 157.000 ton.

"Saya berharap harga jagung di tingkat petani saat ini untuk pipil basah dengan Kadar Air (KA) 33% dapat mencapai Rp2.800/kg sehingga petani masih untung," katanya Selasa malam dalam siaran resmi (19/2).

Oleh sebab itu dia berharap ada investor masuk untuk pembangunan pabrik pakan ternak. Dengan begitu jagung petani dapat dipastikan terserap secara langsung.

"Saya berharap para perusahaan pabrik pakan ada yang tertarik untuk mendirikan pabrik pakan di sini, sehingga lebih mendekatkan antara produsen jagung dengan pabrik pakan yang dapat langsung menyerap jagung petani, sehingga lebih efisien," katanya.

Dia mengatakan, pada 2018 luas panen jagung di Kabupaten Blora bahkan mencapai 70.319 hektare yang tersebar di 16 Kecamatan, dengan rata-rata produktivitas 5,8 ton per hektare.

Sementara itu, Kementerian Pertanian dan PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk. (CPIN) bekerjasama dalam pengadaan 2 unit Mobile Corn Dryer (MCD) di Blora  untuk meningkatkan kualitas jagung hasil panen petani.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan I Ketut Diarmita mengatakan permasalahan adalah kualitas pascapanen tidak sesuai dengan kebutuhan industri pakan. Alhasil, penempatan MCD akam diutamakan pada sentra produksi jagung yang relatif jauh dari pabrik pakan.

"Solusi ini diharapkan dapat memecahkan persoalan kadar air sehingga pertumbuhan jamur aflatoksin dapat dikendalikan, untuk memunculkan harapan bagi petani jagung," katanya dalam keterangan resmi Selasa malam (19/2).

I Ketut berharap MCD yang merupakan hasil karya anak bangsa ini dapat menjadi sebuah solusi dalam mengatasi masalah pasca panen jagung. Pasalnya selama ini masalah yang selalu di hadapi oleh petani saat panen raya adalah menjual hasil produksinya bernilai minimum karena kualitas dibawah kebutuhan pabrik.

Sementara itu, Eka Budiman, Perwakilan CPIN Jawa Tengah, mengatakan perseroan telah menyediakan dua MCD untuk membantu petani mengeringkan jagung. Menurutnya, dengan menggunakan MCD idapat meningkatkan waktu simpan setelah dikeringkan, melancarkan tata niaga, mendapatkan kualitas lebih baik dan pada akhirnya petani dapat menikmati harga yang lebih baik dari jagung berkadar air lebih rendah.

 

"Jika ada petani yang kesulitan menjual hasil panennya, dapat langsung menghubungi kami, kami akan bantu menyerapnya. Kami akan bantu menjembatani," pungkasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
jagung, pakan ternak

Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top