Kenaikan Produksi Baja Nirkarat Didorong Penuhi Kebutuhan Domestik

Peningkatan kapasitas produksi stainless steel atau baja nirkarat diarahkan untuk penuhi kebutuhan berbagai sektor industri dalam negeri. Selain itu, pemerintah pun akan konsentrasi tingkatkan ekspor ke pasar utama, Amerika Serikat dan China.
Wibi Pangestu Pratama
Wibi Pangestu Pratama - Bisnis.com 28 Januari 2019  |  20:30 WIB
Kenaikan Produksi Baja Nirkarat Didorong Penuhi Kebutuhan Domestik
Pekerja menyelesaikan pembangunan rangka baja proyek infrastruktur di Jakarta. - JIBI/Dwi Prasetya

Bisnis.com, JAKARTA – Peningkatan kapasitas produksi stainless steel atau baja nirkarat diarahkan untuk penuhi kebutuhan berbagai sektor industri dalam negeri. Selain itu, pemerintah pun akan konsentrasi tingkatkan ekspor ke pasar utama, Amerika Serikat dan China.

Hal tersebut disampaikan Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto kepada Bisnis, Senin (28/01/2019). Dia menjelaskan kapasitas produksi baja nirkarat di kawasan industri Morowali saat ini mencapai 3,5 juta ton per tahun.

Jumlah tersebut menurutnya berpotensi untuk terus ditingkatkan karena masih terdapat ruang ekspansi di Morowali. Airlangga menjelaskan, pihaknya targetkan kapasitas produksi baja nirkarat dapat didorong hingga 4 juta ton per tahun dan menjadi produsen terbesar kedua di dunia.

Peningkatan kapasitas produksi tersebut menurut Airlangga akan diarahkan pada pemenuhan bahan baku industri dalam negeri. Selain itu, pemerintah pun akan fokus meningkatkan ekspor ke pasar utama.

"Pasar utamanya [ekspor] Amerika Serikat dan China, sehingga Indonesia konsentrasi di dua pasar tersebut sambil meningkatkan kebutuhan di dalam negeri, seperti industri kereta api, industri perkakas, permesinan untuk proses mamin [makanan dan minuman], serta industri kitchen set," ujar Airlangga kepada Bisnis.

Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) Kementerian Perindustrian, Harjanto, menjelaskan pengembangan kapasitas produksi baja nirkarat penting mengingat nilai ekspornya yang meningkat. Dia menjelaskan peningkatan besar terjadi pada stainless steel hot rolled coil (HRC) yang mencapai tiga kali lipat.

Berdasarkan data Kementerian Perindustrian, ekspor stainless steel HRC mencapai 877.990 ton pada Januari–September 2018 yang meningkat secara tahunan (y-o-y) dari sebelumnya 324.108 ton. Selain itu, stainless steel slab pun catatkan ekspor 459.502 ton pada Januari–September 2018, meningkat secara tahunan (y-o-y) dari sebelumnya 302.919 ton.

Harjanto pun menjelaskan peluang ekspor baja meningkat seiring terbukanya pasar, seperti ke negara-negara Asia Tenggara dan negara-negara yang membuat perjanjian bilateral dengan Indonesia.

Airlangga pun menjelaskan, diterbitkannya Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 110 Tahun 2018 tentang ketentuan impor besi atau baja diharapkan dapat menekan impor baja, terutama baja karbon. Hal tersebut menurutnya dapat terus mendorong geliat industri baja dalam negeri.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
industri baja

Editor : Maftuh Ihsan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top