Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Ini Alasan Garam Lokal Belum Sepenuhnya Diserap Pelaku Industri

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menilai penyerapan garam industri yang belum maksimal disebabkan standar garam produksi dalam negeri belum sepenuhnya memenuhi kebutuhan industri.
Wibi Pangestu Pratama
Wibi Pangestu Pratama - Bisnis.com 14 Januari 2019  |  20:33 WIB
Petani garam Amed memanen garam menggunakan alat tradisional. JIBI - BISNIS/Feri Kristianto
Petani garam Amed memanen garam menggunakan alat tradisional. JIBI - BISNIS/Feri Kristianto

Bisnis.com, JAKARTA – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menilai penyerapan garam industri yang belum maksimal disebabkan standar garam produksi dalam negeri belum sepenuhnya memenuhi kebutuhan industri.

Hal tersebut disampaikan Sekjen Kemenperin Haris Munandar kepada Bisnis, Senin (14/1/2019) di kantor Kemenperin. Dia menilai standar kualitas garam dalam negeri perlu diperhatikan agar serapan oleh industri dapat meningkat dengan kebutuhan pada 2018 yang berkisar 3,8 juta ton.

Saat ini, meurut Haris kandungan NaCl pada garam dalam negeri berada pada tingkat yang berbeda-beda, tetapi tidak banyak yang memiliki kandungan di atas 98% seperti yang diperlukan beberapa sektor industri. Keterbatasan teknologi produksi garam menurutnya menjadi penyebab kurangnya serapan garam industri.

"Teknologi masih belum mumpuni, harusnya bagaimana bisa meningkatkan itu [kualitas garam]. Kalau modelnya masih produksi tradisional bagaimana bisa diserap industri, ya enggak berubah dong," ujar Haris.

Dia pun menilai perlu adanya produksi garam dalam jumlah besar dengan teknologi tinggi agar garam yang dihasilkan dapat diserap berbagai sektor industri, seperti makanan, kaca, dan lainnya.

Selain itu, menurut Haris harga garam dalam negeri pun masih tinggi, sehingga menurutnya wajar industri menyerap garam impor dengan harga murah dan kandungan NaCl yang sesuai kebutuhan industri.

"Kalau ada di dalam negeri ngapain impor, impor kan butuh waktu, apalagi kalau harganya bisa bersaing. Sekarang kan harganya jauh," ujarnya.

Haris menambahkan bahwa saat ini banyak investor yang tertarik untuk berinvestasi pada produksi garam, tetapi terkendala oleh ketersediaan lahan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

garam
Editor : Maftuh Ihsan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top