Apindo Usul Greenpeace Dibekukan di Indonesia

Sejumlah aksi damai Greenpeace menghalangi ekspor sawit Indonesia ke Eropa dari Wilmar International bisa membuat LSM ini dilarang beroperasi lagi di Indonesia.
Gloria Fransisca Katharina Lawi
Gloria Fransisca Katharina Lawi - Bisnis.com 22 November 2018  |  16:54 WIB
Apindo Usul Greenpeace Dibekukan di Indonesia
Kapal Greenpeace. - Reuters/Michael Kooren

Bisnis.com, JAKARTA — Sejumlah aksi damai Greenpeace menghalangi ekspor sawit Indonesia ke Eropa dari Wilmar International bisa membuat LSM ini dilarang beroperasi lagi di Indonesia.

Benny Soetrisno, Ketua Bidang Perdagangan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) mengusulkan agar pemerintah bisa membekukan sementara Greenpeace di Indonesia karena telah mengganggu ekspor sawit.

"Usul saya tindakan pemerintah membekukan sementara operasi Greenpeace di Indonesia," terang Benny kepada Bisnis, Kamis (22/11/2018).

Dia menilai Indonesia bisa mencontoh pembekuan sementara Greenpeace seperti yang dilakukan oleh India.

Benny Soetrisno menyebut aksi Greenpeace tidak hanya menyerang di perairan saja, tetapi juga kerap kali menyerang di daratan. Menurut Bennyaksi Greenpeace sudah cukup lama dibiarkan di Indonesia dan menghambat ekspor Indonesia ke Eropa.

“Mereka melakukannya tidak hanya di perairan, yang dialami ekspor produk turunan kelapa sawit ke Eropa, tetapi juga di darat,” terang Benny kepada Bisnis.

Dikutip dari Badan Pusat Statistik (BPS) ekspor produk pertanian periode Oktober 2018 mengalami penurunan sebesar 0,92% menjadi US$320 juta dari periode bulan lalu (m-o-m). Jika dibandingkan periode tahun lalu, nilai ekspor pertanian juga turun 9,52%.

Ada pun komoditas pertanian yang turun drastis pada Oktober dibandingkan sebelumnya adalah ekspor kakao, sayur-sayuran dan mutiara hasil budidaya. BPS juga menempatkan India, Cina, dan Pakistan sebagai negara tujuan dengan jumlah ton minyak kelapa sawit terbanyak pada 2015.

Namun penurunan ekspor produk lain yang menyumbang penurunan ekspor pertanian adalah ekspor produk terkait minyak kelapa sawit dan minyak inti kelapa sawit alias crude palm kernel oil. Meskipun begitu BPS menempatkan ketiga produk ini di luar kinerja produk pertanian karena tercatat sebagai produk industri pengolahan.

Sebelumnya, Greenpeace memang telah mengeluarkan hasil investigasi yang menunjukkan bahwa pemasok minyak kelapa sawit Mondelez telah merusak 70.000 hektare hutan di seluruh Asia Tenggara dalam dua tahun. Ada pun Wilmar International adalah pemasok utama minyak kelapa sawit untuk perusahaan raksasa makanan ringan, Mondelez, salah satu pembeli minyak sawit terbesar di dunia.

Kondisi deforestasi ini disimpulkan membuat negara-negara dari kawasan tropis telah menghasilkan lebih banyak emisi gas rumah kaca setiap tahun dari seluruh Eropa, unggul dari banyak negara kecuali Amerika Serikat dan Cina. Maka, dalam aksi damai ini Greenpeace menuntut agar Wilmar International bisa membuktikan bahwa minyak sawit yang mereka miliki tergolong minyak sawit bersih.

Adapun pada Oktober 2018 lalu, Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) menyerukan penghentian deforestasi segera untuk membatasi suhu global yang meningkat 1,5 derajat Celsius.

Kejadian aksi damai Greenpeace menaiki kapal tanker Stolt Tenacity terjadi pada 17 November 2018 lalu dalam perjalanan dari Spanyol menuju Rotterdam. Aksi ini membuat enam orang aktivis Greenpeace ditahan oleh kapten kapal.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
greenpeace, ekspor sawit

Editor : Miftahul Ulum

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top