Ekspor dan Pariwisata Kunci Hadapi Neoproteksionisme

Peningkatan ekspor dan pariwisata merupakan sebagian kunci ketahanan ekonomi Indonesia dalam menghadapi berbagai tantangan global.
Hadijah Alaydrus | 11 Oktober 2018 13:39 WIB

Bisnis.com, NUSA DUA--Peningkatan ekspor dan pariwisata merupakan sebagian kunci ketahanan ekonomi Indonesia dalam menghadapi berbagai tantangan global.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Mirza Adityaswara menyatakan bahwa proses normalisasi negara maju, khususnya Amerika Serikat (AS), memang membawa dampak global, khususnya terhadap negara berkembang, bahkan sejak dicanangkan pada Mei 2013.

Demikian pula neoproteksionisme yang dimulai pada 2016 dan semakin mengalami boom pada 2018. 

"Kebijakan-kebijakan ekonomi AS dan Tiongkok, khususnya, membawa pengaruh kepada negara berkembang, termasuk dari sisi nilai tukar," ungkap Mirza dalam siaran pers seminar Reinventing Bretton Woods Committee yang mengambil tema 'The Shadow of Neo Protectionism and Coping With The Challenges of The Normalisation Process', Kamis (11/10).

Dalam kondisi global tersebut, Indonesia sebagai negara yang memiliki defisit transaksi berjalan terus menjaga agar defisit tersebut berada pada level yang aman. 

Defisit transaksi berjalan Indonesia saat ini terkait kebutuhan pembangunan infrastruktur, mengingat Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar memang sangat membutuhkan fasilitas seperti bandara, pelabuhan dan tol laut. 

Di samping infrastruktur, dia melihat impor minyak Indonesia juga menjadi salah satu faktor berpengaruh saat ini. Untuk itu, Pemerintah telah mendorong penggunaan B20, yaitu bahan bakar yang dicampur dengan minyak kelapa sawit, untuk mengurangi kebutuhan impor.

Dengan kebutuhan impor yang masih besar, dia meyakini semakin penting bagi Indonesia untuk mendorong ekspor dan pariwisata. Berbagai destinasi wisata pun terus dikembangkan, agar wisatawan asing memiliki pilihan destinasi selain Bali. 

Dari catatan BI, jumlah wisatawan yang datang ke Indonesia ditargetkan terus bertambah, yaitu 20 juta orang pada 2020 dan 25 juta pada 2025, yang diharapkan dapat menambah penerimaan devisa negara.

Lebih lanjut, Mirza Adityaswara mengingatkan agar semua masyarakat yang berasal dari berbagai negara, untuk berbelanja produk-produk buatan Indonesia.

Tag : mirza adityaswara, annual meetings IMF-World Bank
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top