Kuartal IV/2018, Peritel Segmen Syariah Makin Ekspansif

Mendekati kuartal IV/2018, para pelaku usaha ritel modern berbasis syariah semakin getol melakukan ekspansi melalui pembukaan gerai baru.
M. Richard | 26 September 2018 14:38 WIB

Bisnis.com, JAKARTA — Mendekati kuartal IV/2018, para pelaku usaha ritel modern berbasis syariah semakin getol melakukan ekspansi melalui pembukaan gerai baru.

Salah satu pemain ritel syariah, LEU Mart, mengaku berencana menambah 10 gerai baru hingga akhir tahun ini.

“Prospek LEU Mart sangat bagus, ada sekitar 100 pendaftar dari seluruh Indonesia yang ingin menjadi mitra kami, dan kami harap 10 di antaranya bisa lolos,” tutur Sekretaris Jenderal Lembaga Ekonomi Umat (LEU) Devi Erna Rachmawati kepada Bisnis.com, Selasa (25/9/2018).

Hingga semester I/2018, LEU Mart—yang berdiri sejak Agustus 2017—baru dapat membuka 2 gerai.

Namun, dengan mempercepat proses kemitraannya, perusahaan tersebut telah berhasil menambah 18 gerai baru per 24 Agustus 2018.

Pada awal pembukaan, sebut Devi, LEU Mart menetapkan target pembukaan sekitar 3.000 gerai per tahun.

Hanya saja, dia mengakui, target tersebut kemungkinan tidak akan tercapai karena dalam perjalanannya LEU Mart mengubah arah bisnis menjadi peritel yang menyasar segmen pasar kelas menengah.

Devi melanjutkan, ketika format bisnis berubah, perusahaan tersebut menghadapi tantangan baru dalam operasionalnya.

Pertama, penambahan gerai baru tidak terlalu mudah, karena sudah banyak pemerintah daerah yang membatasi jumlah ritel modern di daerahnya.

Kedua, pembukaan gerai baru menjadi lebih mahal, karena modal minimal untuk membuka gerai baru saat ini mencapai minimal Rp75 juta, yang tidak semua mitra mampu menyanggupinya.

Ketiga, masalah profitabilitas. Hampir seluruh gerai LEU Mart belum balik modal atau mencapai break event point (BEP), sehingga memberikan dampak negatif bagi calon investor baru.

“Rata-rata pendapatan gerai berkisar Rp3 juta per hari, sedangkan kalau mereka mau untung harus melebihi Rp3,5 juta per hari,” tuturnya.

Peritel syariah lainnya lainnya, 212 Mart, juga berencana semakin ekspansif pada sisa tahun ini.

Direktur Eksekutif Koperasi Syariah Ahmad Juwaini menyebut, jumlah gerai 212 Mart per Maret 2018 mencapai 107 unit. Namun, per September 2018 sudah menembus 194 unit.

“Kami masih akan menggenapkan gerai kami hingga 200 unit hingga akhir tahun ini. Jadi, kami masih akan menambahkan 6 gerai lagi,” katanya.

Untuk mencapai target tersebut, 212 Mart aktif melakukan sosialiasi lewat kunjungan langsung ke komunitas-komunitas muslim.

“Kami melakukan sosialisasi melalui pertemuan-pertemuan warga, dan kami mengandalkan komunikasi jarak dekat. Dengan begitu, sosialisasi 212 Mart dapat lebih mudah,” katanya.

Selain menambah gerai, 212 Mart mencoba mengoptimalkan setiap aset yang dimiliki untuk meningkatkan pedapatan. Misalnya, dengan cara menyediakan anjungan tunai mandiri (ATM), fasilitas isi ulang e-toll, dan memanfaatkan halaman untuk disewakan ke pedagang kaki lima.

Pasalnya, sebut Ahmad, hampir semua gerai 212 Mart masih belum balik modal.

“Namun, kami sendiri masih menganggap wajar karena kami menargetkan 2 tahun baru bisa untung,” katanya.

Pada perkembangan lain, Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Anggawira mengatakan, Umat Mart (Ummart) juga aktif berekspansi.

Sejak awal peresmiannya pada Mei 2018, Ummart telah membuka 5 unit gerai, dan masih akan menambah 5 gerai lagi hingga akhir tahun ini.

Hanya saja, dia menjelaskan, Ummart masih tergolong baru dan masih banyak sekali hal-hal yang perlu dibenahi, baik dari segi stuktur bisnis, target pasar, tata kelola, maupun standar pelayanan.

“Masih banyak hal yang perlu kami matangkan dulu. Mungkin kalau sudah genap setahun, baru kami akan bisa memetakan bisnis kami,” katanya.

Saat dihubungi terpisah, Sekretaris Jenderal Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Solihin berpendapat, geliat bisnis ritel syariah memang semakin ekspansif pada tahun ini.

“Iya, kalau pelaku ritel syariah juga masuk [ke dalam persaiangan bisnis ritel modern di Indonesia], artinya masih banyak potensi pasar yang bisa dikembangkan,” katanya.

Hanya saja, dia berharap pelaku ritel syariah tetap menjaga kekompakannya. Pasalnya, dia menilai masih banyak peritel berkonsep syariah yang masuk ke dalam persaiangan bisnis dengan mengusung konsep koperasi, sehingga membuat bisnisnya kerap kali sulit dijalankan. 

Tag : ritel modern
Editor : Wike Dita Herlinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top