Konflik Perdagangan Memanas, Manufaktur Besar di Asia Melambat

Aktivitas manufaktur pada sejumlah negara berkekuatan ekonomi besar di Asia terdampak lesunya pesanan ekspor pada Agustus.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 03 September 2018  |  17:07 WIB
Konflik Perdagangan Memanas, Manufaktur Besar di Asia Melambat
. - .Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Aktivitas manufaktur pada sejumlah negara berkekuatan ekonomi besar di Asia terdampak lesunya pesanan ekspor pada Agustus.

Hal ini menjadi tanda dampak langsung yang dialami perusahaan-perusahaan dari memanasnya friksi perdagangan antara Amerika Serikat (AS) dan China yang dikhawatirkan dapat menghambat pertumbuhan global.

Sejumlah survei indeks manajer pembelian (PMI) yang dirilis hari ini, Senin (3/9/2018) menunjukkan bertahannya tekanannya terhadap tujuan-tujuan ekspor utama seperti China, Jepang, dan Korea Selatan.

Di China, sektor manufakturnya yang sangat besar tumbuh dengan laju terlamban dalam lebih dari setahun pada bulan Agustus, dengan pesanan ekspor menyusut untuk bulan kelima.

Selain China, pesanan ekspor juga menyusut di Jepang dan Korea Selatan. Ini menunjukkan bahwa meningkatnya langkah proteksionisme serta kekhawatiran atas permintaan yang lebih lambat dari China telah membebani negara-negara di Asia yang bergantung pada ekspor.

Data terpisah menunjukkan belanja modal perusahaan Jepang melonjak pada kuartal kedua, kenaikan terbesar sejak 2006, meskipun sejumlah analis memperingatkan bahwa tensi perdagangan global dapat menyuramkan prospek ini.

“Aksi balas-membalas tarif merugikan ekonomi China jauh lebih besar dibandingkan dengan yang dialami ekonomi Amerika Serikat. Dan ketika Anda melihat prospek ekonomi Asia, banyak yang bergantung pada apakah China dapat menghindari perlambatan tajam dalam pertumbuhan," kata Yoshiki Shinke, kepala ekonom di Dai-ichi Life Research Institute di Jepang, seperti dikutip Reuters.

Kebijakan perdagangan “America First” yang diusung Presiden AS Donald Trump telah tanpa henti membebani banyak negara sekaligus memukul bursa-bursa saham di Asia, seiring dengan keresahan investor atas dampaknya terhadap rantai pasokan global.

Meningkatnya konflik tarif antar negara dikhawatirkan akan membekukan investasi bisnis dan berujung sebagai pukulan bagi pertumbuhan global.

Yang terkini, Trump mengatakan siap untuk menerapkan tarif baru segera setelah periode komentar publik tentang rencana itu berakhir pada Kamis pekan ini. Jika terjadi, langkah tersebut akan menjadi eskalasi besar setelah ia menerapkan tarif terhadap ekspor oleh China senilai US$50 miliar.

Di sisi lain, meski ekonomi AS tetap berada pada pijakan yang kuat berkat pemotongan pajak yang besar oleh Trump, beberapa analis mengatakan bahwa pertumbuhan negara itu kini telah mencapai puncaknya.

Sebuah jajak pendapat Reuters bulan lalu memperkirakan pertumbuhan negara berkekuatan ekonomi terbesar di dunia itu akan melambat dengan stabil pada kuartal-kuartal mendatang, akibat terdampak perang dagang.

Jajak pendapat lain menunjukkan pandangan yang sama hati-hatinya untuk pertumbuhan zona Eropa sepanjang sisa tahun ini dan pada 2019.

Sementara itu, indeks Manajer Pembelian (PMI) Manufaktur China versi Caixin/Markit melambat ke posisi 50,6 pada Agustus dari 50,8 pada Juli, atau sesuai dengan perkiraan para ekonom.

Meski masih berada di atas level 50 yang memisahkan pertumbuhan dari kontraksi selama 15 bulan berturut-turut, angka itu adalah yang terlemah sejak Juni 2017. Adapun pesanan ekspor baru, sebuah indikator atas aktivitas di masa mendatang, telah mengalami kontraksi untuk rentang terpanjang sejak paruh pertama tahun 2016, data PMI Caixin menunjukkan.

“Sektor manufaktur terus melemah di tengah lesunya permintaan, meskipun sisi penawaran masih stabil,” ujar Zhengsheng Zhong, direktur Analisis Ekonomi Makro di CEBM Group, dalam risetnya yang menyertai survei tersebut. "Perekonomian China sekarang menghadapi tekanan ke bawah yang relatif jelas."

Trump, yang telah mengancam untuk mengenakan bea masuk pada barang-barang China senilai lebih dari US$500 miliar yang diekspor ke Amerika Serikat setiap tahun, mengatakan kepada Reuters dalam sebuah wawancara awal bulan ini, bahwa penyelesaian perang dagang dengan China akan "membutuhkan waktu" dan bahwa dia tidak memiliki “kerangka waktu" untuk mengakhirinya.

Sementara itu, pertumbuhan pada sektor manufaktur India secara tak terduga melambat pada bulan Agustus. Ini menunjukkan sedikit kehilangan momentum bagi perekonomian negara tersebut.

Di Korea Selatan, tujuan manufaktur utama lainnya, aktivitas manufaktur berkontraksi untuk bulan keenam berturut-turut pada Agustus saat pesanan ekspor menyusut untuk pertama kalinya dalam tiga bulan, sebuah survei PMI menunjukkan.

Meski aktivitas manufaktur Jepang berekspansi pada bulan Agustus dengan laju sedikit lebih cepat dari bulan sebelumnya, pesanan ekspor turun dan menjadi tanda baru kerugian yang dialami dari intensifnya friksi perdagangan global.

Sejumlah negara di Asia yang tidak terlalu mengandalkan ekspor mencatat nasib lebih baik, dengan peningkatan PMI di Indonesia dan Malaysia. Namun, nilai tukar rupiah telah terperangkap dalam aksi jual pasar yang muncul akibat pelemahan peso Argentina dan volatilitas yang ekstrem pada lira Turki.

Rupiah telah kehilangan sekitar 9% nilainya sejauh ini, sehingga mendorong Bank Indonesia (BI) untuk beberapa kali melakukan intervensi dalam beberapa pekan terakhir.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
manufaktur, perang dagang AS vs China

Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top