Pebisnis Hypermarket Tunda Ekspansi Usaha, Kenapa?

Pelaku bisnis toko ritel modern berkonsep hypermarket tengah menunda ekspansi usaha dan memilih optimalisasi gerai yang sudah ada, akibat iklim bisnis di sektor tersebut yang masih sulit.
M. Richard | 31 Agustus 2018 14:16 WIB

Bisnis.com, TANGERANG SELATAN — Pelaku bisnis toko ritel modern berkonsep hypermarket tengah menunda ekspansi usaha dan memilih optimalisasi gerai yang sudah ada, akibat iklim bisnis di sektor tersebut yang masih sulit.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia Solihin menjelaskan, pemain ritel segmen hypermarket masih mengalami tiga kendala ekspansi bisnis pada tahun ini. Pertama, besarnya dana investasi yang diperlukan untuk membuka gerai baru.

Kedua, sulitnya mendapatkan izin untuk pembukaan gerai baru. Ketiga, perubahan pola belanja akibat persaingan dengan pemain perdagangan elektronik.

“Iya, kalau dibilang [bisnis hypermarket] kurang bergeliat, memang benar, karena memang banyak kesulitan yang dihadapi pelaku bisnis ini,” jelasnya saat dihubungi Bisnis.com, Kamis (30/8/2018).

General Manager Corporate Affairs PT Hero Supermarket Tbk. (Giant) Tony Mampuk membenarkan, iklim bisnis hypermarket saat ini sedang tidak begitu baik, sehingga para pemainnya lebih memilih untuk optimalisasi gerai existing.

Saat ini, jumlah gerai Giant—yang terdiri atas Giant Ekstra dan Giant Ekspres—mencapai 158 unit. Angka tersebut turun dari 169 unit pada 2016 dan 166 unit pada tahun lalu.

“Permasalahan yang dialami Giant adalah ketatnya persaingan bisnis ritel. Giant tidak hanya bersaing dengan sesama pemain hypermarket, tetapi juga dengan supermarket dan minimarket,” sebutnya.

Selain itu, lanjutnya, Giant kerap menemukan permasalahan dari sisi perizinan ketika hendak membuka gerai baru, khususnya dari pemerintah daerah. Permasalahan lain adalah sulitnya menyerap produk UMKM yang belum memiliki izin edar, meski telah berkualitas ekspor.

Dengan demikian, Tony mengatakan, tahun ini Giant memilih untuk fokus pada perbaikan internal, termasuk membuat program pergantian tata kelola. Program itu mengedapankan optimalisasi kunjungan dan pendapat dari gerai-gerai yang sudah ada.

Bagaimanapun, dia optimistis kinerja Giant akan tetap terjaga hingga akhir tahun, ditopang oleh kuatnya konsumsi masyarakat kelas menengah atas.

Senada, Head of Corporate Communication PT Matahari Putra Prima Tbk. (Hypermart) Fernando Repi mengatakan bisnis hypermarket sedang memasuki fase penyesuaian kebutuhan masyarakat.

Pasalnya, perubahan pola konsumsi dan cara berbelanja masyarakat menjadi isu utama yang dihadapi oleh Hypermart. "Memang kami di asosiasi juga sepakat dengan hal itu terjadi dan kami memang harus pintar-pintar beradaptasi," katanya.

Dia menjabarkan, ke depannya Hypermart akan tetap fokus pada efesiensi pengelolaan gerai yang ada saat ini, tetapi tidak akan mengesampingkan penyelenggaraan promosi untuk menarik pengunjung.

Adapun, jumlah gerai yang dimiliki Hypermart saat ini adalah 118 unit. Angka tersebut turun tipis dari 2017 yang mencapai 119 unit, tetapi masih cukup tinggi dibandingkan dengan 2016 yang hanya 112 unit.

Dari perspektif pemain lain, General Manager Corporate Communication Transmart Carrefour Satria Hamid Ahmadi mengatakan, perusahaannya tidak terlalu terpengaruh pada tekanan tersebut. Sebaliknya, Transmart Carrefour cukup agresif dalam mengahadapi tekanan bisnis.

"Kami justru sebaliknya, kami melawan arus di tengah kondisi sulit yang terjadi dalam iklim bisnis hypermarket," katanya.

Dia menjelaskan, korporasinya mencoba menarik penggunjung lebih banyak dengan mengembangkan konsep hybrid market, yakni memadukan konsep hypermarket dengan toko serba ada (toserba).

"Itu dengan konsep 4 in 1, yaitu berbelanja, bersantap, bermain dan bioskop. Jadi, kami melakukan remodelling Carrefour," ucapnya. Hal tersebut, lanjutnya, lebih disebabkan oleh gaya hidup masyarakat yang tidak lagi datang ke hypermarket sekadar untuk berbelanja.

Adapun, gerai Transmart Carrefour tumbuh signifikan, yakni 7 unit pada 2016 menjadi 19 unit pada 2017, dan 26 unit per Agustus 2018. Hingga akhir 2018, Transmast Carefour telah menyiapkan rencana ekspansi untuk daerah Indonesia Tengah dan Timur.

President Direktur Dunia Industri (lembaga penelitian independen) Andryanto Suismo mengatakan, pebisnis hypermarket harus mengevaluasi ulang target pasarnya, karena segmentasi yang dimiliki hypermarket secara umum terlalu luas.

Sehingga, penetrasi minimarket dan dagang-el dengan mudah menggerus cakupan pasarnya. Menurutnya, pengelola hypermarket harus bertransformasi, terlebih karena pertumbuhan keluarga muda dan pola konsumsi.

"Iya [bisnis hypermarket] jatuhnya memang tergantung pada keputusan korporasi. Namun, memang selama ini cakupan pasarnya terlalu luas, mereka harus retargeting segmentasi pasarnya." katanya.

Tag : ritel modern
Editor : Wike Dita Herlinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top