Lembaga di Yogyakarta Ini Kembangkan Inovasi V-Belt Motor Matik

Balai Besar Kulit Karet dan Plastik (BBKKP) Yogyakarta, yang berada di bawah Kementerian Perindustrian, melakukan penelitian dan pengembangan untuk memperbaiki kualitas v-belt.
Annisa Sulistyo Rini | 23 Agustus 2018 21:57 WIB
Model berada di atas sepeda motor All New Honda PCX produksi Indonesia saat peluncuran pemasarannya di Jakarta, Rabu (7/2). Skutik premium Honda terbaru dengan sejumlah pembaharuan dan fitur baru seperti full digital panel meter serta smart key system tersebut dipasarkan dengan harga Rp27,7 juta untuk tipe CBS dan Rp30,7 juta tipe ABS on the road Jakarta. - ANTARA

Bisnis.com, JAKARTA--Balai Besar Kulit Karet dan Plastik (BBKKP) Yogyakarta, yang berada di bawah Kementerian Perindustrian, melakukan penelitian dan pengembangan untuk memperbaiki kualitas v-belt.

V-belt merupakan salah satu komponen penting dari sepeda motor matik yang berfungsi mendukung kinerja motor matik dan memindahkan tenaga mesin ke roda.

Ngakan Timur Antara, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kementerian Perindustrian, mengatakan kualitas serat karet dan sifat reologi komponen v-belt perlu dimaksimalkan. Upaya ini dapat memacu daya saing produk otomotif nasional di tingkat domestik dan global.

“Kami konsisten mendorong kegiatan litbang di setiap unit pelayanan teknis Kemenperin, khususnya di bawah binaan BPPI. Ini untuk menjawab kebutuhan industri nasional,” katanya dalam keterangan resmi, Kamis (23/8/2018).

Dalam pengembangan v-belt, BBKKP Yogyakarta bekerja sama dengan PT Bando Indonesia. Riset ini dilakukan dengan mencoba beragam variasi perbandingan polimer Natural Rubber (NR) dan Compression Rubber (CR).

“Selain itu, penggunaan akselerator dan sulfur juga dilakukan untuk menghasilkan karet dengan sifat reologi yang baik sehingga mampu melekat dengan sempurna,” jelasnya.

Penggunaan serat alam pada v-belt yang dihasilkan menjadikannya bersifat biodegradable, mudah diproses, tidak beracun, serta lebih ringan.

Dengan melakukan modifikasi serat alam dan campuran serat sintetis, Ngakan meyakini, dapat dihasilkan formulasi terbaik dengan komparasi parts per hundred rubber (phr) antara crumb rubber (CR) – karet remah dengan ribbed smoked sheet I (RSS I) yaitu 70:30.

Formula hasil penelitian ini juga telah diuji dan sesuai dengan standar JASO E-107. JASO E-107 merupakan standar untuk Automotive V-Belts and Corresponding V-Pulley Grooves - Shape and Dimensions yang dikeluarkan oleh Japan Automobile Standard Organization (JASO).

Pengembangan v-belt semakin potensial dengan meningkatnya penjualan motor matik. Merujuk data Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI), penjualan sepeda motor pada 2017 mencapai 5,8 juta unit. Dari total tersebut, sebanyak 4,5 juta unit atau 82% merupakan angka penjualan motor matik.

Potensi penyerapan serat alam didukung dengan luas areal perkebunan karet di dalam negeri yang mencapai 3,6 juta hektare dan produksi sebesar 3,6 juta ton pada 2017. “Maka penelitian ini sangat berpotensi digunakan untuk mendukung program hilirisasi produk berbasis karet,” ungkap Ngakan.

Selain melakukan penelitian, BPPI Kemenperin melalui 11 Balai Besarnya juga memiliki tugas dan fungsi pokok untuk melayani pengujian, sertifikasi, standardisasi industri, dan pelayanan kalibrasi bagi industri di Indonesia.

Tag : sepeda motor
Editor : Maftuh Ihsan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top