Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Dekarindo: Produksi Karet Tahun Ini Diproyeksi Naik Jadi 3,7 Juta Ton

Dewan Karet Indonesia (Dekarindo) meyakini produksi karet tahun ini akan meningkat sekitar 3,7 juta ton berkat replanting yang dilakukan pada 2011.
Pandu Gumilar
Pandu Gumilar - Bisnis.com 03 April 2018  |  07:55 WIB
Petani memanen getah karet di Muaro Jambi, Jambi, Sabtu (13/5). - Antara/Wahdi Septiawan
Petani memanen getah karet di Muaro Jambi, Jambi, Sabtu (13/5). - Antara/Wahdi Septiawan

Bisnis.com, JAKARTA – Dewan Karet Indonesia (Dekarindo) meyakini produksi karet tahun ini akan meningkat sekitar 3,7 juta ton berkat replanting yang dilakukan pada 2011.

Ketua Umum Dekarindo Aziz Pane mengatakan produksi karet alam tahun ini akan menyamai produksi 2017 yang sebesar 3,6 juta ton atau bahkan lebih tinggi. Menurutnya, jumlah produksi tersebut sudah cukup tinggi dibandingkan dengan 2016.

“Sekarang kita sudah tinggi hasil produksinya, sekitar 3,7 juta ton. Kita sudah keluar dari hasil abadi yaitu 3,2 juta ton mulai 2016 ke belakang. Semua berkat replanting yang dilakukan ketika harga karet sedang tinggi karena harga minyak tinggi. Pohon karet ditebang dan ditanam kembali,” terangnya kepada Bisnis, Senin (2/4/2018).

Selain itu, Aziz juga meyakini harga karet akan ikut terdongkrak lebih dari US$147 sen per kilogram (kg), didasari oleh faktor musim. Dia menjelaskan ketika momentum musim gugur daun mulai, harga karet juga akan ikut naik.

“Barangkali akan ada kenaikan harga lagi karena musim gugur daun dimulai. Tetapi, kita mesti hati-hati kalau rubber crumb mulai dikeluarkan dari Daftar Negatif Investasi (DNI) karena investor asing mau mulai masuk untuk ke situ,” papar Aziz.

Menurutnya, dengan kenaikan produksi di tahun ini, pemerintah seharusnya lebih cermat agar jangan sampai masuknya penanaman modal asing di sektor industri karet justru memberikan dampak negatif bagi petani dan pelaku usaha. Pemerintah diminta lebih waspada dan tidak memberikan ruang gerak lebih bagi investor asing untuk menanamkan modal lebih banyak karena hal tersebut dikhawatirkan akan membahayakan industri lokal.

“Hati hati terhadap dominasi China karena sudah menguasai 30% karet alam indonesia. China Hainan Rubber dan Sinopec sudah berusaha menguasai karet indonesia karena kualitas kita yang terbaik untuk digunakan sebagai ban,” tegas Aziz.

Dia menghawatirkan perusahaan asing dapat berlaku semena-mena terhadap harga beli karet ke petani karet rakyat karena menguasai pangsa pasar lebih besar dibandingkan perusahaan lokal.

Selain itu, untuk memperteguh dominasi Asia Tenggara sebagai produsen karet dunia, lingkup International Tripartite Rubber Council (ITRC) dinilai harus diperluas menjadi seluruh negara di Asean.
Dengan demikian, Asean dapat menguasai lebih dari 70% pangsa pasar komoditas karet di dunia.

“Dengan Vietnam ikut ITRC, kita sudah memegang 71% market share dunia. Tanpa Vietnam, sekitar 56%. Tetapi, kalau bisa memperluas lingkup Asean dominasi kita jadi lebih luas dan kuat,” tegas Aziz.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Karet Indonesia (Gapkindo) Suharto Honggokusumo mengatakan ITRC sudah bertambah jadi 4 negara dengan masuknya Vietnam. Namun, Vietnam belum dapat menjalankan kesepakatan AETS.

Vietnam mendapat alokasi pengurangan ekspor sebesar 85.000 metrik ton karet, tapi belum dapat merealisasikannya.

Dia juga menambahkan untuk lingkup Association of Natural Rubber Producing Countries (ANRPC), jika semua negara anggota bersedia melakukan pengendalian ekspor untuk melindungi petani maka pasti akan efektif karena menguasai 88,5 % produksi dunia. ANRPC beranggotakan 11 negara di antaranya adalah Indonesia, China, Laos, Vietnam, Malaysia, Singapura, Fillipina, Papua Nugini, Kamboja, India, dan Thailand.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

karet
Editor : Annisa Margrit
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top