Koalisi Lingkungan Protes DBS Biayai Pembangkit Listrik Batu Bara

Koalisi dari sejumlah organisasi lingkungan terkemuka termasuk Greenpeace meminta bank-bank besar Singapura mengakhiri pembiayaan untuk pembangkit listrik berbahan bakar batu bara yang sangat berpolusi di Asia Tenggara.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 09 Februari 2018  |  13:13 WIB
Koalisi Lingkungan Protes DBS Biayai Pembangkit Listrik Batu Bara
Ilustrasi kapal milik Greenpeace - Reuters/Michael Kooren

Bisnis.com, JAKARTA - Koalisi dari sejumlah organisasi lingkungan terkemuka termasuk Greenpeace meminta bank-bank besar Singapura mengakhiri pembiayaan untuk pembangkit listrik berbahan bakar batu bara yang sangat berpolusi di Asia Tenggara.

Juru kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Asia Tenggara-Indonesia Hindun Mulaika dalam keterangan tertulisnya yang diterima di Jakarta pada Jumat (9/2/2018) mengatakan koalisi tersebut mengkritisi DBS yang secara diam-diam mengeluarkan kebijakan iklim baru pada 26 Januari 2018 yang sama sekali gagal menyingkirkan pembangkit listrik batubara Unlucky 7 mana pun, yang direncanakan untuk pembiayaan di Indonesia dan Vietnam.

Koalisi itu meliputi Greenpeace, Walhi, Friends of the Earth, Change (Vietnam), Market Forces, BankTrack, dan GreenID.

Sebanyak tujuh pembangkit listrik tenaga batubara yang diusulkan akan menghasilkan 1,5 miliar ton CO2 selama masa operasionalnya, setara dengan 30 tahun emisi tahunan Singapura.

Dia mengatakan DBS telah mendanai beberapa kesepakatan energi paling kotor dan paling kontroversial di Indonesia, seperti pembangkit Paiton 3 dan Jawa Tengah (Batang), dan sedang melihat potensi transaksi yang lebih kotor di masa depan.

Ini, menurut dia, adalah bencana bagi iklim dan polusi, juga bagi reputasi DBS. Agar DBS dapat hidup sesuai dengan retorikanya sebagai bank yang berkomitmen pada masa depan yang sehat di wilayah Indonesia, mereka harus menghentikan pendanaan batubaranya dan beralih pada investasi di energi bersih.

Direktur Eksekutif Change Vietnam Hong Hoang mengatakan DBS tampaknya berpikir orang Eropa pantas mendapatkan udara dan energi yang bersih, sementara orang-orang di Vietnam dan Indonesia mendapatkan teknologi bahan bakar fosil yang ketinggalan zaman dan polusi.

Standar ganda ini merupakan penghinaan yang menginginkan kesempatan untuk berkembang dengan bersih dan memotong blunder energi kotor dunia Barat.

"Vietnam memiliki beberapa potensi terbesar di planet ini untuk energi terbarukan. Inilah masa depan kita, bukan energi pencemaran yang tua, yang ditolak oleh belahan dunia lainnya," ujarnya.

Direktur Eksekutif Market Forces Julien Vincent mengatakan pembiayaan DBS kepada pabrik batu bara berisiko menciptakan hinaan bagi Pemerintah Singapura yang baru-baru ini mengumumkan 2018 sebagai Tahun Aksi Iklim.

"Fakta bahwa DBS sedang mempersiapkan pembiayaan sebuah pembangkit listrik tenaga batubara baru di Vietnam, PLTU batu bara Nghi Son 2, hanya beberapa pekan setelah melepaskan kebijakan ini, menunjukkan betapa tidak efektifnya itu kebijakan tersebut," lanjutnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
pembangkit listrik, greenpeace

Sumber : Antara

Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top