Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

BELANJA ONLINE: Perkenalkan Ini Daring Layanan Omnichannel

Startup lokal iSeller, yang memberikan layanan platform omnichannel bagi usaha mikro, kecil dan menengah, menargetkan 3.000 merchant hingga Februari 2018.
Anissa Margrit
Anissa Margrit - Bisnis.com 25 Oktober 2017  |  17:37 WIB
BELANJA ONLINE: Perkenalkan Ini Daring Layanan Omnichannel
Ilustrasi. - .
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA-- Startup lokal iSeller, yang memberikan layanan platform omnichannel bagi usaha mikro, kecil dan menengah, menargetkan 3.000 merchant hingga Februari 2018.

CEO iSeller Jimmy Petrus mengatakan sejak diluncurkan pada Februari 2017, jumlah pengguna yang bergabung dengan platform tersebut sudah mencapai 900 merchant.

Dia menjelaskan layanan yang diberikan oleh perusahaan mencakup pembuatan platform penjualan produk secara online dan fasilitas pembayaran serta inventory stok barang untuk toko offline.

Merchant yang menjual produknya secara online bisa mendapatkan website dengan domain sendiri untuk memasarkan produk-produknya. Adapun merchant yang hanya memasarkan produknya secara offline atau mempunyai toko fisik sendiri dapat menggunakan layanan Point of Sale (POS).

Layanan POS mencakup infrastruktur transaksi pembayaran serta inventory stok barang. Dengan demikian, merchant bisa menerima berbagai jenis pembayaran dari konsumen seperti tunai maupun kartu kredit dan kartu kredit.

"Selama tahun pertama kami estimasikan jumlah pengguna menyentuh 3.000 merchant," sebut dia di sela konferensi pers peluncuran iSeller, Rabu (25/10/2017).

Saat ini, seluruh merchant yang sudah bergabung masih menggunakan layanan POS karena iSeller baru meluncurkan layanan online-nya secara resmi kemarin. Dari 900 merchant yang sudah bergabung, transaksi perdagangan yang terjadi dapat menyentuh Rp1 miliar per bulan. Angka transaksi tersebut dinilai masih rendah karena iSeller masih merupakan pemain baru.

Jimmy melanjutkan iSeller bertujuan untuk membantu UMKM Indonesia go international karena jangkauan pengiriman yang luas, hingga ke mancanegara. Bahkan, saat ini perusahaan sedang bekerja sama dengan pemerintah untuk mengurus izin ekspor agar dapat membantu UMKM untuk memperluas akses pasarnya ke luar negeri.

Layanan yang diberikan juga dapat digunakan oleh pelaku usaha yang sudah memunyai bisnis di beberapa negara sehingga bisnisnya bisa dipantau dengan lebih mudah.

"Kami beda dengan marketplace, kami kombinasikan online dan offline di satu platform. Ini lebih efisien bagi para pelaku usaha karena biaya operasional bisa ditekan. Kalau mau omnichannel, berjualan secara online dan offline, juga bisa," terang dia.

Dengan demikian, pelaku usaha e-commerce tinggal menyediakan laptop dan koneksi Internet. Sementara itu, pelaku usaha offline hanya membutuhkan gadget seperti tablet dan printer untuk mencetak struk belanja.

UMKM yang ingin bergabung tinggal membayar biaya berlangganan sebesar Rp250.000 per bulan dan akan mendapatkan berbagai layanan yang diinginkan. Beberapa merek yang sudah bergabung dengan iSeller antara lain Cantikayu, Tobafish, Baso Afung, Restu Mande, dan Urban Twist.

Untuk mendukung sistem pembayaran yang dijalankan, iSeller bermitra dengan lebih dari 50 perusahaan di antaranya Samsung, BCA, BNI, Maybank, Bank Permata, Indosat Ooredoo, TIKI, JNE, DHL, dan Fedex.

 

Dalam kesempatan yang sama, Sekretaris Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan (Kemendag) Ari Satria menuturkan pelaku usaha dan pemerintah harus mampu mengejar perkembangan teknologi, antara lain ekonomi digital. Selain itu, seringkali pelaku UMKM tidak paham bagaimana berhubungan dengan buyer dan persyaratan apa saja yang dibutuhkan agar produknya bisa masuk ke negara tertentu.

Untuk itu, Kemendag membuka peluang kerja sama dengan iSeller untuk memberikan pelatihan kepada UMKM yang ingin masuk pasar ekspor. "Daya saing UMKM juga diharapkan dapat terkerek," ucap dia.

Deputi E-Commerce Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Kevin Wu menyampaikan hal serupa. Menurut dia, perkembangan ekonomi digital sangat pesat membuat pelaku usaha baik yang berskala besar maupun UMKM sama-sama tertekan.

"Modal yang besar tidak menjamin keberlangsungan usaha," tukas dia. (Annisa Margrit)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

toko online
Editor : Linda Teti Silitonga
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top