ILO: Terjadi Penurunan Upah di Negara Berkembang

Pertumbuhan rata-rata upah riil secara global konsisten mengalami penurunan sejak 2012 sebesar 2,5% dan menyentuh level terendah menjadi 1,7% pada 2015 sepanjang empat tahun terakhir
Amanda Kusumawardhani
Amanda Kusumawardhani - Bisnis.com 19 September 2017  |  17:08 WIB
ILO: Terjadi Penurunan Upah di Negara Berkembang
Ilustrasi. - .Antara

Bisnis.com, JAKARTA— Pertumbuhan rata-rata upah riil secara global konsisten mengalami penurunan sejak 2012 sebesar 2,5%, dan lanjut menyentuh level terendah menjadi 1,7% pada 2015 sepanjang empat tahun terakhir.

Berdasarkan laporan yang dirilis International Labour Organization (ILO), penurunan pertumbuhan rata-rata upah riil sebagian besar diakibatkan oleh kenaikan upah di Amerika Utara dan sejumlah negara Eropa tidak mampu mengimbangi penurunan upah di negara ekonomi berkembang.

“Pertumbuhan rata-rata upah riil di negara maju mulai membaik seiring dengan peningkatan ekonomi di Eropa dan Asia Timur. Sebaliknya, di luar kawasan tersebut, ekonomi negeri berkembang masih harus menghadapi proses perbaikan dari segi infrastruktur dan pembiayaan,” kata Daniel Kostzer, Spesialis Regional Senior Pengupahan ILO, di Jakarta, Selasa (19/9).

Di tingkat kawasan, pertumbuhan rata-rata upah riil secara global lebih rendah dibandingkan kawasan Asia Pasifik yang pada 2015 mencatatkan angka 4%. Laporan ini menyebutkan pertumbuhan upah rata-rata di Asia Pasifik terus menunjukkan kinerja positif yang mencerminkan adanya transisi ekonomi dari produksi untuk konsumsi sendiri menjadi berorientasi pasar.

Tren pertumbuhan di lingkup Asia Pasifik juga menandakan bahwa perundingan bersama dan sosial dialog semakin berjalan baik dan berperan di kawasan ini.

Laporan ini juga menyoroti penurunan pertumbuhan rata-rata upah riil juga diikuti oleh ketimpangan upah yang terjadi tidak hanya di antara negara, namun juga di antara perusahaan dan di dalam perusahaan.

Ketimpangan ini mencerminkan penurunan dalam pangsa pendapatan tenaga kerja (labour income share/LIS), yang memperlihatkan bahwa penurunan dalam pangsa pendapatan tenaga kerja ini hampir sejalan dengan peningkatan rasio Gini.

“Ketimpangan upah ini terjadi di negara maju dan negara berkembang. Di Australia misalnya, berada pada peringkat pertama dengan upah tertinggi senilai US$3.715 per bulan. Lalu, kita harus melihat keadaan di India yang rata-rata upahnya US$143 dan Indonesia yang upahnya di bawah US$200 per bulan,” tekannya.

Berdasarkan hasil dari laporan ini, ILO menegaskan pentingnya koordinasi kebijakan di tingkat global untuk menghindari upaya menerapkan kebijakan moderasi upah, atau penurunan upah kompetitif, yang dapat berakibat pada penurunan permintaan agregat atau deflasi di tingkat regional atau global.

Sementara di tingkat negara, laporan menyebutkan adanya kebutuhan terhadap pilihan-pilihan kebijakan termasuk mempromosikan penetapan upah minimum yang lebih efektif dan jangkauan perundingan bersama yang lebih besar, kebijakan mengenai pajak dan fiskal serta pendidikan dan pengembangan keterampilan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
buruh

Editor : Linda Teti Silitonga

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top