Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Waralaba Bisa Jadi Opsi Penanganan Masalah Pangan

Waralaba dinilai dapat menjadi salah satu opsi penanganan fluktuasi harga dan pasokan bahan pokok.
Anissa Margrit
Anissa Margrit - Bisnis.com 19 Mei 2017  |  21:07 WIB
Waralaba Bisa Jadi Opsi Penanganan Masalah Pangan
Warga melintas di samping beras yang dijual di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Selasa (16/5). - Antara/Sigid Kurniawan
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Waralaba dinilai dapat menjadi salah satu opsi penanganan fluktuasi harga dan pasokan bahan pokok.

Ketua Asosiasi Franchise Indonesia (AFI) Anang Sukandar mengungkapkan kategori bisnis franchise di Indonesia yang berkembang di Indonesia sangat banyak. Mayoritas bergerak di bidang kuliner, pendidikan, ritel, farmasi, serta salon dan spa.

Namun, ada pula sektor yang belum banyak digarap seperti binatu, cleaning service, logistik dan jasa kurir, serta agrobisnis.

"Agro ini di Indonesia belum banyak, misalnya pembibitan. Di Australia ada orang yang membudidayakan lobster. Pernah juga ada yang membudidayakan sarang burung walet dan ingin mewaralabakannya. Ini bisa dikembangkan kalau memang mau dan ilmunya memang berdasarkan pengalaman," paparnya.

Die mengemukakan hal itu dalam pembukaan International Franchise, License & Business Expo & Conference (IFRA) 2017 pada Jumat (19/5/2017). 

Saat ini terdapat sekitar 700 waralaba dengan jumlah gerai nyaris mencapai 25.000 unit di seluruh Indonesia dan menyerap tenaga kerja lebih dari 90.000 orang.

Nilai transaksi industri franchise Tanah Air pada 2015 tercatat menyentuh Rp172 triliun dengan potensi kenaikan diproyeksi 10%-15% per tahun. 

Dalam kesempatan yang sama, Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan Tjahya Widayanti mengatakan usaha di bidang agribisnis potensial untuk dikembangkan menjadi waralaba.

"Tugas Kemendag adalah stabilisasi harga pangan. Kalau waralaba agro bisa dikembangkan maka fluktuasi harga dan pasokan terutama jelang hari raya bisa ditekan," ujarnya.

Tjahya mengaku bakal berkomunikasi dengan AFI untuk membicarakan kemungkinan pengembangan waralaba di bidang agro. Saat ini, pemanfaatan waralaba dalam penanganan masalah pangan dilakukan lewat kebijakan harga eceran tertinggi (HET).

Dalam kebijakan itu, Kemendag menetapkan HET untuk gula, minyak goreng, dan daging beku. Harganya dipatok maksimal Rp12.500 per kilogram, Rp11.000 per liter, dan Rp80.000 per kilogram.

HET ini diberlakukan di ritel modern yang bergabung dengan Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) sejak 10 April 2017. Waralaba yang berbentuk ritel modern di antaranya Alfamart dan Indomaret.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pangan
Editor : M. Syahran W. Lubis
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top