Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

RUPIAH MELEMAH: Harga Makanan Olahan Berpotensi Naik Hingga 10%

Pelemahan nilai tukar rupiah ditambah ketergantungan terhadap impor mendorong biaya produksi makanan dan minuman olahan naik. Kenaikan harga jual produk akibat kondisi ini bisa mencapai 10%.
Dini Hariyanti
Dini Hariyanti - Bisnis.com 30 Oktober 2014  |  18:37 WIB
RUPIAH MELEMAH: Harga Makanan Olahan Berpotensi Naik Hingga 10%
Ilustrasi - Bisnis.com
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Pelemahan nilai tukar rupiah ditambah ketergantungan terhadap impor mendorong biaya produksi makanan dan minuman olahan naik. Kenaikan harga jual produk akibat kondisi ini bisa mencapai 10%.

Kendatipun ada lonjakan harga yang berpeluang menekan penjualan tetapi omzet pada tahun ini diyakini tetap menyentuh Rp1.000 triliun. Pada tahun depan diperkirakan meningkat jadi Rp1.070 triliun, selama 2013 nilainya hanya Rp940 triliun.

"Beberapa sektor menaikkan harga karena marjin tipis, seperti industri susu karena pelemahan kurs," ucap Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) Adhi S. Lukman, Kamis (30/10/2014).

Guna mengurangi impor bahan baku, investasi yang masuk ke depan diharapkan lebih banyak masuk ke sektor hulu dan perantara industri mamin. Pemodal yang agresif membenamkan kapital di Indonesia mayoritas berasal dari Jepang dan Korea Selatan.

Baru-baru ini masuk rencana menanam modal sekitar US$30 juta – US$40 juta dari korporasi asal Negeri Gingseng. Investor bersangkutan hendak membangun pabrik di industri perantara yang berbahan dasar jagung. Produksi nantinya dapat diserap hilir seperti produsen biskuit dan bihun.

Investasi seperti itu ke depan dapat mengurangi ketergantungan impor bahan baku di sektor hilir. Selain itu juga menciptakan nilai tambah lebih tinggi di dalam negeri. Bahan perantara berbasis jagung, misalnya, selama ini banyak diimpor dari Amerika Serikat dan China.

Adhi mengaku tak bisa memberikan persentase rerata impor bahan baku dan penunjang di industri mamin. Sektor ini terdiri dari produk-produk yang spesifik dan memiliki karakter berbeda satu sama lain. Dia hanya mencontohkan untuk porsi impor dalam produk jus dan konsentrat sedikitnya 60%.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

industri makanan minuman
Editor : Sepudin Zuhri
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top