Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

BANK INDONESIA Optimistis Dampak Revisi Outlook S&P Hanya Sesaat

BISNIS.COM, JAKARTA – Bank Indonesia optimistis dampak revisi prospek peringkat surat utang Indonesia oleh Standard and Poor’s terhadap pasar modal hanya terjadi sesaat sehingga tidak terlalu berpengaruh terhadap rencana penerbitan surat
Donald Banjarnahor
Donald Banjarnahor - Bisnis.com 03 Mei 2013  |  16:55 WIB

BISNIS.COM, JAKARTA – Bank Indonesia optimistis dampak revisi prospek peringkat surat utang Indonesia oleh Standard and Poor’s terhadap pasar modal hanya terjadi sesaat sehingga tidak terlalu berpengaruh terhadap rencana penerbitan surat utang pemerintah.

Perry Warjiyo, Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI), mengatakan kondisi pasar modal di Indonesia akan stabil setelah kemarin dan hari ini sempat anjlok setelah pengumuman penurunan revisi prospek peringkat surat utang Indonesia oleh Standard and Poor’s (S&P) dari BB+ positif menjadi BB+ stabil.

“Kami yakin itu lebih kepada reaksi sesaat dari pasar terhadap pengumuman rating S&P. Namun kami yakni akan kembali stabil,” ujarnya, Jumat (3/5/2013).

Kemarin, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 66,87 poin atau 1,32% menjadi 4,994,046.  Pada perdagangan hari ini, Jumat (3/5/2013)  IHSG kembali anjlok 68,56 poin, menjadi 4925,48.

Sementara itu, nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat melemah tipis, yakni 8 poin atau 0,08% ke Rp9.746/US$. Pergerakan nilai tukar Rupiah relatif stabil karena bank sentral lakukan intervensi di pasar.

“Sejak pagi untuk berikan signal bahwa kami terus lakukan langkah-langkah stabilisasi nilai tukar Rupiah sesuai fundamentalnya,” ujarnya.

Perry menegaskan optimistis tersebut didasari karena fundamental ekonomi Indonesia masih bagus. Dia menyakini pertumbuhan Ekonomi Indonesia akan berada pada kisaran 6,2%--6,6%.

Bahkan lanjutnya, pertumbuhan ekonomi tersebut bisa lebih tinggi lagi bila pembangunan infrastruktur dan reformasi struktural berjalan pesat.

 “Perbaikan infastruktur dan reformasi struktural akan menentukan. Kami yakin medium term outlook masih akan tetap baik. Yang pasti kami tidak lihat risiko pertumbuhan ekonomi di bawah 6%,” ujarnya.

Kemarin, S&P menurunkan proyeksi rating surat utang Indonesia dari BB+ positif menjadi BB+ stabil. Hal tersebut mencerminkan S&P melihat rating surat utang Indonesia sulit naik kelas jadi investment grade (BBB-) dalam 12 bulan ke depan.

Penurunan rating tersebut sebenarnya dapat berdampak terhadap rencana penerbitan Surat Utang Negara (SUN), seperti penerbitan SUN valas senilai US$250 juta pada semester II/2013. Rating surat utang umumnya berpengaruh pada pembentukan yield, meskipun masih ada faktor lainnya.

Menurut Perry, faktor pembentukan yield SUN bukan hanya tergantung rating, namun juga kemampuan untuk membayar utang serta tingkat inflasi.

“Kalau kita lihat tingkat yield Surat Berharga Negara  sendiri dalam beberapa bulan terakhir ada kenaikan karena ekspektasi inflasi meningkat,” jelasnya.

Sementara itu, Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Halim Alamsyah, mengatakan Indonesia sudah masuk dalam investment grade, meskipun hasil penilaian S&P masih satu notch di bawah layak invstasi.

“Menurut Fitch dan Moody’s, Indonesia masih investment grade. Kami sebenarnya tidak tahu apa pertimbangan S&P sehingga Indonesia belum investment grade,” jelasnya.

Halim meyakini arus masuk modal asing di Indonesia masih akan kuat karena fundamental ekonomi Indonesia masih positif.

Meski demikian, dia mengakui ada beberapa sektor yang sensitive terhadap ketidakpastian kebijakan di Indonesia, seperti rencana kenaikan Bahan Bakar Minyak.

“Saya kira secara keseluruhan kalau investor jangka panjang tentu akan tetap datang. Itu sudah tercermin loh di rasio dana asing di SBN yang masih tinggi dan tidak berkurang. Bahkan kecenderungan malah naik dengan rasio 32,6%,” ujarnya.  (ra)

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bank indonesia outlook s & p peringkat surat utang
Editor : Rustam Agus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top