Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

LALU LINTAS: Gridlock di Indonesia Berpotensi Kian Cepat

JIMBARAN--Organisasi pengusaha nasional angkutan darat memprediksi gridlock -macet total-- di sejumlah kota besar di Indonesia berpotensi lebih cepat dari prediksi sebelumnya akibat belum berpihaknya pemerintah kepada industri angkutan umum.
- Bisnis.com 22 Januari 2013  |  19:06 WIB

JIMBARAN--Organisasi pengusaha nasional angkutan darat memprediksi gridlock -macet total-- di sejumlah kota besar di Indonesia berpotensi lebih cepat dari prediksi sebelumnya akibat belum berpihaknya pemerintah kepada industri angkutan umum.

Ketua Umum Organda Eka Sari Lorena mengatakan pemerintah masih belum mengadakan kebijakan yang pro terhadap angkutan umum.

"Alhasil kemacetan masih terjadi di sejumlah kota seperti Jakarta, Bandung, Surabaya dan Bali karena masyarakat Indonesia masih tergantung pada angkutan pribadi," katanya, Selasa (22/1/2013).

Ketidakberpihakan itu, lanjutnya, diikuti kebijakan perbankan dan industri otomotif. Kedua industri itu mengikuti jalannya kebijakan pemerintah yang terus mendorong pertumbuhan ekonomi dengan indikator penjualan kendaraan pribadi. Belum ada, paparnya, kredit untuk bus dan angkutan umum lainnya yang diberikan promo seperti kendaraan pribadi lain.

"Itu salah satu bentuk belum berpihaknya kebijakan pemerintah yang berimbas pada industri lainnya penyebab kemacetan."

Selain itu, pemerintah sebagai stakeholder belum mampu berkomunikasi antar bagian. Sehingga, pembangunan infrastruktur, milik departemen satu sama lainnya, belum saling terhubung. Padahal, menurut penghitungan arus barang dan orang, penghitungan konektifitas itu sangat penting.

Berdasarkan catatan Organda, paparnya, biaya transportasi logistik di Indonesia pada 2012 mencapai 30% dari APBN. Namun, berdasarkan data Kementerian Perekonomian biaya itu terhitung hanya mencapai 17%. "Pada penghitungan itu, Indonesia termasuk memiliki biaya tertinggi untuk logistik," katanya.

Pada konsep itu, lanjutnya, gridlock atau terhentinya arus lalu lintas akibat macet di Jakarta bisa berpotensi lebih cepat dari prediksi sebelumnya. Organda memperkirakan Jakarta akan mengalami gridlock pada 2014.

Potensi percepatan gridlock itu, paparnya, sesuai survei sejumlah lembaga keuangan dan lembaga lainnya. Selain itu, percepatan terhentinya arus lalu lintas di Jakarta juga didukung oleh tingkat konsumerisme yang tinggi masayarakat yang ada di golongan menengah ke bawah.

Potensi itu, jelasnya, dapat dikurangi dengan mengaktifkan dan meremajakan kembali sarana angkutan massal yang nantinya sangat mendukung kebijakan pemerintah untuk menaikkan suku bunga ataupun melepas subsidi BBM.

Eka menjelaskan berdasarkan catatan Organda, di Jakarta sudah mengalami penambahan 400 unit mobil pribadi untuk setiap harinya. Adapun utnuk kendaraan roda dua sudah mencapai 1.400 unit per harinya. pada penghitungan penambahan 135 unit mobil per hari saja, pemerintah harus menambah jalan sepanjang 875 kilometer.

TRANS-SARBAGITA

Sementara itu di Bali, ketua organda Bali I Ketut Eddy Dharmaputra juga memprediksi hal yang sama. Bali wilayah selatan, terutama di kawasan wisata padat berpotensi terjadi grid lock jika masih dalam posisi yang sama. Belum ada kegiatan transportasi missal yang memadai dan diminati masyarakat.

Saat ini, jelasnya, di Bali hanya beroperasi taksi, bus Trans Sarbagita dan sedikit angkutan pengumpan yang sudah mulai diminati masyarakat. “Namun, pertumbuhan jumlah kendaraan sudah tidak bisa dibendung karena tingginya pendapatan per kapita di Bali.” Berdasarkan data Organda Bali, penambahan 300 kendaraan roda dua setiap hari di Bali sangat menunjang potensi terjadinya grid lock.

Organisai Pengusaha Angkutan Darat Bali juga mendesak pemerintah untuk segera mengoperasikan bus Trans Sarbagita di seluruh koridor untuk merangsang pertumbuhan angkutan pengumpan.

Dharmaputra mengatakan dengan beroperasinya seluruh bus Trans Sarbagita yang melintas di empat kabupaten/kota maka pertumbuhan angkutan pengumpan diprediksi akan naik. “Sarbagita sangat memiliki korelasi yang saling menguntungkan dengan angkutan kota,” katanya.

Secara detil, lanjutnya, bus Trans Sarbagita akan melayani transportasi darat dengan jalur primer. Sementara, seluruh angkutan umum yang dikendalikan oleh pengusaha anggota organda akan bergerak di jalur sekunder atau sebagai pengumpan. Selain itu, angkutan pengumpan juga akan mengupayakan ketepatan waktu untuk dapat terhubung dengan Sarbagita.(ems)


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Ema Sukarelawanto

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top