Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

KINERJA EKONOMI: Impor produk tertentu naik 7,63%

JAKARTA – Impor produk tertentu naik 7,63% selama 9 bulan pertama tahun ini dipengaruhi oleh permintaan dari dalam negeri yang terus meningkat.
Siti Harianti Manurung
Siti Harianti Manurung - Bisnis.com 11 Desember 2012  |  19:46 WIB

JAKARTA – Impor produk tertentu naik 7,63% selama 9 bulan pertama tahun ini dipengaruhi oleh permintaan dari dalam negeri yang terus meningkat.

Berdasarkan data Kementerian Perdagangan, nilai impor produk tertentu pada periode Januari-September 2012 mencapai US$19,06 miliar atau naik dari periode sama 2011 yang hanya US$17,71 miliar.

Produk tertentu yang dimaksud mencakup produk makanan dan minuman, pakaian jadi, alas kaki, elektronika, mainan anak-anak, obat tradisional dan herbal serta kosmetik.

Importasi produk tersebut diperketat sejak penerbitan Permendag No 57/2010 tentang Ketentuan Impor Produk Tertentu.

Kendati telah diperketat sejak 1 Januari 2011, jumlah produk jadi tersebut yang masuk ke dalam negeri masih menunjukkan peningkatan. Hingga akhir 2011, nilai impor produk tertentu mencapai US$24,51 miliar atau melonjak 22,12% dari 2010.

Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi mengakui kuatnya permintaan dalam negeri memicu impor yang lebih tinggi sekalipun pemerintah memperketat importasi produk tersebut dengan membatasi pintu masuk pada tujuh pelabuhan laut.

“Kita harus akui bahwa sedotan permintaan dari dalam negeri lebih tinggi sehingga membuat impornya pun tinggi,” katanya di Jakarta, Selasa (11/12/2012).

Namun, menurutnya, impor bisa lebih tinggi lagi seandainya pemerintah tak menerbitkan Permendag No 57/2010. Dengan aturan itu, impor produk ilegal lebih mudah diidentifikasi.

Data menunjukkan hampir semua produk mengalami peningkatan impor. Kenaikan tertinggi terjadi pada impor obat tradisional dan herbal 45,37%, disusul kosmetik 20,21%, alas kaki 15,17%, elektronik 13,21%, mainan anak 11,87%, dan pakaian jadi 6,71%.

Penurunan impor hanya terjadi pada makanan olahan 9,89%. Sekjen Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) Franky Sibarani mengemukakan koreksi itu dipicu oleh penurunan permintaan dari konsumen di luar Jawa.

Daya beli masyarakat luar Jawa melemah seiring penurunan harga komoditas yang selama ini menjadi penopang perekonomian mereka.

 “Penduduk luar Jawa selama ini memberikan kontribusi 40% terhadap permintaan makanan dan minuman di Tanah Air,” ujarnya.(msb)


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Sri Mas Sari

Editor : Novita Sari Simamora

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top