Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Target penjualan ritel diduga meleset

JAKARTA: Target penjualan sektor ritel sebesar Rp120 triliun pada tahun ini dikhawatirkan tidak tercapai karena melemahnya daya beli masyarakat setelah Lebaran.Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Tutum Rahanta mengatakan pasar
Febriany Dian Aritya Putri
Febriany Dian Aritya Putri - Bisnis.com 28 November 2011  |  18:07 WIB

JAKARTA: Target penjualan sektor ritel sebesar Rp120 triliun pada tahun ini dikhawatirkan tidak tercapai karena melemahnya daya beli masyarakat setelah Lebaran.Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Tutum Rahanta mengatakan pasar ritel jatuh sekitar 10% setelah September, dan belum pulih hingga saat ini.Adapun, katanya, realisasi penjualan ritel pada Januari-September 2011 sudah sekitar Rp85 triliun. Sementara itu, realisasi penjualan ritel sepanjang 2010 adalah sebesar Rp104 triliun.“Setelah Lebaran biasanya memang rugi, tapi itu kan tertutup pembelian masyarakat yang meningkat menjelang Lebaran. Tapi saat ini pertumbuhan masih pelan sekali. Tercapai atau tidak target penjualan, kita lihat sampai akhir tahun. Kekhawatiran [target tidak tercapai] itu ada,” katanya hari ini.Dia menuturkan hal itu di sela-sela acara kerja sama Aprindo dengan Kementerian Perdagangan untuk mendukung pertumbuhan sektor UMKM.Tutum menilai belum pulihnya pasar ritel karena saat ini terlalu banyak jumlah masyarakat yang berada di golongan menengah ke bawah.“Mungkin karena [kelompok masyarakat] kita banyak yang menengah ke bawah, kalau ada apa-apa mereka sulit karena tidak saving [menabung]. Terlalu banyak cicilan di masyarakat menengah ke bawah, seperti cicilan motor dan sebagainya,” jelasnya.Dia menolak jika dikatakan pasar ritel melemah akibat krisis ekonomi di Amerika Serikat dan Eropa. Krisis di dua wilayah itu, katanya, kemungkinan baru berdampak tahun depan.Selain itu, lanjutnya, sektor ritel diperkirakan yang terkena dampak terakhir dari krisis perekonomian global.Tutum mengungkapkan produk-produk yang penjualannya melemah adalah pakaian dan elektronik, sementara itu produk makanan penurunannya tidak terlalu dalam.“Perusahaan ritel mungkin saja melakukan revisi [target], tapi yang bergerak di produk konsumsi mungkin tidak,” paparnya.Tutum mengatakan asosiasi masih berharap agar target penjualan tahun ini bisa tercapai dengan didorong sejumlah kreativitas yang mungkin dilakukan oleh peritel seperti misalnya bekerja sama dengan bank supaya pemegang kartu kredit mendapat diskon.Dia menuturkan periode yang tepat untuk mendongkrak penjualan adalah pada bulan terakhir tahun ini saat Natal dan Tahun Baru.Di tempat yang sama, Head of Public Affairs Carrefour Indonesia Satria Hamid mengatakan penjualan memang melemah usai Lebaran, namun saat ini sudah mulai meningkat kembali.“Memang pasar melemah setelah Lebaran, tetapi itu memang periodikal. Akan tumbuh lagi setelah Lebaran,” papar Satria.Tahun depan, kata Tutum, Aprindo memprediksi perusahaan ritel masih akan melakukan ekspansi sehingga penjualan bisa mencapai Rp138 triliun.“Penjualan bisa meningkat tahun depan karena harga barang-barang naik. Di samping itu, kalau tidak ada ekspansi, ritel akan sulit bekerja. Cost juga sudah semakin bertambah saat ini karena kan upah minimum regional juga meningkat di beberapa daerah,” papar Tutum. (Bsi)


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Puput Jumantirawan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top