Target pertumbuhan ekonomi 6,5% dinilai sulit tercapai

JAKARTA: Target pertumbuhan ekonomi sebesar 6,5% pada tahun ini dinilai berat untuk dicapai, apabila pemerintah tidak bisa memperbaiki serapan anggaran APBNP 2011.Ekonom PT Danareksa (Persero) Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan pertumbuhan ekonomi Indonesia
Amanda Kusumawardhani
Amanda Kusumawardhani - Bisnis.com 23 September 2011  |  13:49 WIB

JAKARTA: Target pertumbuhan ekonomi sebesar 6,5% pada tahun ini dinilai berat untuk dicapai, apabila pemerintah tidak bisa memperbaiki serapan anggaran APBNP 2011.Ekonom PT Danareksa (Persero) Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini kemungkinan hanya bisa di level 6,3% atau lebih rendah dari proyeksi IMF sebesar 6,4%.“Meski kontribusi ekspor terhadap PDB kecil, namun perekonomian global yang saat ini sedang kurang bagus tetap memberikan dampak terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia. Perlu kerja keras dari pemerintah agar target pertumbuhan ekonomi bisa tercapai, yaitu memperbaiki serapan anggaran,” ujarnya hari ini.Menurut Purbaya, serapan anggaran yang maksimal akan memberikan dampak berupa percepatan pembangunan perekonomian, termasuk di dalamnya infrastruktur. Sebelumnya IMF juga menyatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia kemungkinan di level 6,4% atau di bawah target pemerintah.Dalam laporan World Economic Outlook edisi September 2011 yang dirilis kemarin, IMF memproyeksi pertumbuhan ekonomi global pada 2011 dan 2012 masing-masing hanya 4%, lebih rendah dibandingkan prediksi Juli yang sebesar 4,3% (2011) dan 4,5% (2012).IMF juga merevisi turun proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 6,4% pada tahun ini dan 6,3% pada 2012, dari proyeksi sebelumnya di Juli yang masing-masing 6,5%. Laporan IMF tersebut menjelaskan perekonomian global saat ini berada dalam fase baru yang berbahaya.Pelemahan aktivitas ekonomi global yang semakin merata dan anjloknya kepercayaan masyarakat dunia pun memunculkan risiko penurunan. Terkait dengan serapan anggaran, Kementerian Keuangan mencatat per 11 Agustus, ada dana menganggur akibat kelebihan pembiayaan sekitar Rp200 triliun. Surplus anggaran tersebut merupukan akumulasi dari pagu belanja K/L yang belum terserap, serta penyiapan pembiayaan defisit APBNP 2011 yang belum terpakai.Menko Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan ada sejumlah alasan K/L yang membuat kinerja belanjanya lambat. Antara lain kesiapan proyek yang kurang matang, serta proses tender barang dan jasa yang memakan waktu lama."Itu harus diakali, misalkan kalau sudah ada persetujaun anggaran dari Dewan, sebelum Januari tenderkan saja. Dana tersedia, jalan. Kalau tidak [jalan], batalkan," ucapnya baru-baru ini.(mmh)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Intan Permatasari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top