Krisis Selat Hormuz, Purbaya Waspadai 3 Jalur Transmisi ke Ekonomi RI

Konflik Israel-AS vs Iran bisa berdampak pada ekonomi RI melalui tiga jalur: perdagangan, pasar keuangan, dan fiskal, akibat penutupan Selat Hormuz.
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa bersama Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi dan Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menggelar pertemuan di Wisma Negara, Jakarta, Rabu (21/1/2026)./ Akbar Evandio
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa bersama Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi dan Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menggelar pertemuan di Wisma Negara, Jakarta, Rabu (21/1/2026)./ Akbar Evandio

Bisnis.com, JAKARTA — Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa terus mewaspadai dampak penutupan Selat Hormuz terhadap perekonomian domestik, seiring dengan memanasnya eskalasi konflik antara Israel-Amerika Serikat (AS) dengan Iran.

Purbaya menjelaskan bahwa penutupan jalur strategis tersebut secara langsung mengganggu rantai pasok energi global yang bermuara pada lonjakan harga komoditas, terutama minyak mentah. Kondisi ini secara cepat mengubah arah arus modal di pasar keuangan global.

"Ketidakpastian ini tercermin dari meningkatnya sentimen risk off di pasar keuangan global, ditandai volatilisasi tinggi pada indeks pasar baik VIX maupun MOVE, pergeseran investor ke aset safe haven, penguatan indeks dolar AS, DXY, serta kenaikan yield US Treasury yang 10 Tahun," ujarnya dalam konferensi pers APBN Kita, Rabu (11/3/2026).

Bendahara negara itu pun mengungkapkan tiga jalur transmisi utama yang dampaknya harus diwaspadai oleh Indonesia.

Pertama, dari jalur perdagangan. Kenaikan harga minyak dunia berpotensi mengerek beban impor minyak dan gas (migas) nasional, yang pada dasarnya berisiko menekan surplus neraca perdagangan dan neraca pembayaran Indonesia.

Kedua, dari jalur pasar keuangan. Purbaya menjelaskan sentimen risk-off global sangat rentan memicu arus modal keluar asing sehingga berpotensi memberikan tekanan beruntun pada pasar saham, pasar obligasi, hingga pelemahan nilai tukar rupiah, yang pada akhirnya dapat meningkatkan biaya dana (cost of fund).

Ketiga, dari jalur fiskal. APBN dihadapkan tekanan potensi pembengkakan alokasi subsidi energi dan beban bunga utang.

Kendati demikian, Purbaya juga menyatakan APBN juga berpeluang mendapatkan tambahan penerimaan (windfall profit) dari kenaikan harga komoditas andalan ekspor seperti batu bara, nikel, dan crude palm oil (CPO).

"Pemerintah juga terus memantau perkembangan geopolitik ini secara ketat, memastikan instrumen APBN bekerja secara responsif dan menjaga fiskal tetap prudent agar respons kebijakan tetap terukur guna menjaga stabilitas ekonomi dan daya beli masyarakat.," tutup Purbaya.

Add Bisnis.com as a preferred source on Google

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Bisnis Indonesia Premium.

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Bisnis Indonesia Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro