Harga Ekspor Konsentrat Tembaga dan Emas Naik Lagi, Ini Pemicunya

Harga patokan ekspor konsentrat tembaga dan emas kembali naik pada periode 15-31 Januari 2026.
Tembaga cair dicetak menjadi anoda tembaga di dalam tungku di Glencore Canadian Copper Refinery (CCR) yang berlokasi di Montreal, Quebec, Kanada, pada Selasa (12/8/2025). Bloomberg/Graham Hughes
Tembaga cair dicetak menjadi anoda tembaga di dalam tungku di Glencore Canadian Copper Refinery (CCR) yang berlokasi di Montreal, Quebec, Kanada, pada Selasa (12/8/2025). Bloomberg/Graham Hughes

Bisnis.com, JAKARTA — Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso menetapkan harga patokan ekspor (HPE) komoditas konsentrat tembaga (Cu ≥ 15%) sebesar US$6.133,11 per wet metric ton (wmt) untuk periode 15—31 Januari 2026. 

HPE komoditas tersebut naik 4,51% dibandingkan periode pertama Januari 2026 yang sebesar US$5.868,51 per wmt. Sementara itu, HPE emas naik menjadi US$141.972,92 per kilogram dari sebelumnya US$138.324,41, sedangkan harga referensi (HR) emas juga naik menjadi US$4.415,85 per troy ounce dari US$4.302,37.

Pelaksana Tugas (Plt.) Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kemendag Tommy Andana menyampaikan bahwa penguatan HPE konsentrat tembaga dipengaruhi oleh kenaikan harga seluruh mineral penyusunnya, yaitu tembaga, emas, dan perak. 

“Hal ini mencerminkan permintaan global yang tetap kuat. Permintaan tersebut terutama untuk memenuhi kebutuhan pada pengembangan industri energi listrik, kendaraan listrik, serta pembangunan infrastruktur strategis di berbagai negara,” kata Tommy melalui keterangan resmi, Sabtu (17/1/2026).

Selain faktor permintaan sektor riil, dia menyebut bahwa penguatan HPE juga dipengaruhi faktor dinamika keuangan global.

Sepanjang periode pengumpulan data tersebut, pihaknya menemukan pelemahan dolar Amerika Serikat (AS) mendorong peningkatan alokasi investasi ke aset komoditas khususnya emas dan perak, yang turut memperkuat harga mineral penyusun konsentrat tembaga.

“Selama periode pengumpulan data, tercatat harga tembaga naik 6,5%, emas naik 2,64%, dan perak naik 15,95%,” imbuhnya.

Tommy lantas menyampaikan bahwa HPE dan HR ditetapkan berdasarkan masukan teknis dari Kementerian ESDM yang mengacu pada data London Metal Exchange (LME) untuk tembaga serta London Bullion Market Association (LBMA) untuk emas dan perak. Harapannya, ketetapan ini sesuai dengan dinamika pasar.

Sebelumnya, S&P Global memproyeksikan permintaan tembaga global akan melonjak 50% dari level saat ini menjadi sekitar 42 juta metrik ton pada 2040. Meski sektor tradisional seperti konstruksi, peralatan rumah tangga, transportasi, dan pembangkit listrik masih mendominasi konsumsi, porsi pertumbuhan terbesar justru berasal dari kebutuhan transisi energi.

Permintaan tersebut mencakup kendaraan listrik, energi terbarukan, baterai, serta perluasan jaringan listrik. Selain itu, sumber permintaan baru juga mulai signifikan, terutama dari pusat data dan infrastruktur AI, seiring kapasitas pusat data global diperkirakan meningkat hampir empat kali lipat hingga 2040.

“AI dan pusat data bahkan belum masuk radar tiga tahun lalu. Studi ini menunjukkan dunia sudah menuju defisit pasokan bahkan sebelum mempertimbangkan sumber pertumbuhan baru tersebut,” kata Kepala Konsultasi Transisi Energi dan Logam Kritis S&P Global, Aurian De La Noue dilansir dari Bloomberg, Kamis (8/1/2026).

Add Bisnis.com as a preferred source on Google

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Bisnis Indonesia Premium.

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Bisnis Indonesia Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro