Dapat Rp23,67 Triliun, Pemulihan Garuda Indonesia Lanjut ke Kapasitas Operasi

Garuda Indonesia mendapat tambahan modal Rp23,67 triliun dari PT Danantara Asset Management untuk meningkatkan kapasitas operasional dan memperkuat keuangan.
Pegawai melakukan perawatan pesawat milik grup Garuda Indonesia di Hanggar GMF AeroAsia Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Jumat (9/5/2025). Bisnis/Himawan L Nugraha
Pegawai melakukan perawatan pesawat milik grup Garuda Indonesia di Hanggar GMF AeroAsia Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Jumat (9/5/2025). Bisnis/Himawan L Nugraha
Executive Brief
  • Garuda Indonesia menerima tambahan modal Rp23,67 triliun dari PT Danantara Asset Management untuk memperkuat struktur keuangan dan meningkatkan kapasitas operasional.
  • Rp14,9 triliun dari dana tersebut dialokasikan untuk Citilink guna menyelesaikan kewajiban avtur dan memperkuat strategi pembenahan ekosistem Garuda Group.
  • Investasi ini diharapkan menurunkan tekanan pembiayaan eksternal, memperbaiki rasio solvabilitas, dan meningkatkan tingkat keterisian penumpang pada rute utama.

* Executive Brief ini dibantu dengan menggunakan AI

Bisnis.com, JAKARTA — Maskapai nasional, PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. (GIAA) memasuki fase baru pemulihan bisnis setelah RUPSLB menyetujui tambahan modal sebesar Rp23,67 triliun dari PT Danantara Asset Management (DAM). Kini perusahaan fokus pada peningkatan kapasitas operasional.

Suntikan modal jumbo ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat struktur keuangan maskapai pascarestrukturisasi utang dan mendukung peningkatan kapasitas operasional di tengah pemulihan permintaan perjalanan udara.

Direktur Utama Garuda Indonesia, Glenny H. Kairupan, menyatakan bahwa penanaman modal tersebut menjadi instrumen penting untuk menstabilkan kinerja arus kas dan mempercepat konsolidasi operasional, terutama pada Citilink yang menguasai pangsa besar pasar penerbangan domestik.

“Dengan permodalan yang lebih kuat, kami dapat memperkokoh keandalan operasional dan meningkatkan kesiapan armada untuk menghadirkan layanan penerbangan yang modern dan andal,” ujarnya dalam keterangan Kamis (13/11/2025).

Dari total investasi tersebut, Rp14,9 triliun atau 63% dialokasikan ke Citilink, termasuk penyelesaian kewajiban avtur kepada Pertamina untuk periode 2019—2021. Langkah ini membuat Citilink menjadi pusat strategi pembenahan ekosistem Garuda Group, mengingat permintaan pasar rute pendek–menengah terus tumbuh pascapandemi.

Sementara itu, Rp8,7 triliun dialokasikan untuk kebutuhan modal kerja Garuda, meliputi pemeliharaan armada, peremajaan layanan, serta peningkatan reliabilitas operasional. Investasi ini sekaligus memastikan keberlanjutan pencatatan saham Garuda di BEI dan memperkuat posisi keuangan perusahaan dalam jangka menengah.

Chief Operating Officer BPI Danantara, Dony Oskaria, menegaskan bahwa nominal investasi ditetapkan berdasarkan kebutuhan riil Garuda dalam proses konsolidasi dan turnaround.

“Kita fokus pada proses konsolidasi dan turnaround agar Garuda benar-benar menjadi perusahaan yang sehat,” katanya.

Dana tersebut diproyeksikan menurunkan tekanan kebutuhan pembiayaan eksternal Garuda, memperbaiki rasio solvabilitas, dan memberikan ruang bagi perusahaan untuk menata ulang rute, menyelaraskan strategi armada, serta meningkatkan tingkat keterisian penumpang (load factor) pada rute-rute utama.

Pendanaan ini juga memberi dampak pada stabilitas layanan penerbangan nasional, mengingat Garuda–Citilink menguasai porsi signifikan konektivitas udara domestik, terutama rute penghubung wilayah timur Indonesia yang secara komersial menantang bagi maskapai swasta.

Manajemen melihat inisiatif ini sebagai bagian dari fase “pemantapan” setelah restrukturisasi utang global dan renegosiasi perjanjian leasing yang sempat menekan struktur biaya perusahaan. Dengan modal yang lebih solid, Garuda dapat menyelesaikan backlog pemeliharaan pesawat serta meningkatkan utilisasi armada.

Dapat Rp23,67 Triliun, Pemulihan Garuda Indonesia Lanjut ke Kapasitas Operasi

Direktur Utama Garuda Indonesia, Glenny H. Kairupan./Dok.Garuda Indonesia

Glenny bukan orang baru di dunia transportasi udara. Ia merupakan lulusan Penerbang Angkatan Darat (Penerbad) tahun 1973 dan lulusan Sekolah Pilot Curug tahun 1975–1976, pengalaman yang membentuk kedisiplinan dan ketajaman visinya dalam memimpin industri penerbangan nasional.

Dia juga menambahkan bahwa momentum pemulihan industri penerbangan — dengan kenaikan permintaan mencapai lebih dari 20% pada sejumlah rute domestik — membuat kebutuhan permodalan yang kuat semakin mendesak.

"Kami yakin keseimbangan antara pemulihan kinerja jangka pendek dan ketahanan bisnis jangka panjang adalah kunci menuju pertumbuhan berkelanjutan,” ujarnya.

Pendukung utama strategi ini adalah optimalisasi Citilink sebagai motor pertumbuhan. Dengan biaya operasional lebih efisien dan permintaan rute pendek yang tinggi, Citilink diyakini menjadi sumber kontribusi terbesar bagi pemulihan pendapatan Grup.

RUPSLB yang dihadiri pemegang saham mewakili 75,88% saham menandai pentingnya keputusan ini sebagai pengarah baru Garuda menuju fase pertumbuhan yang lebih kompetitif, baik di pasar domestik maupun regional.

Manajemen menegaskan bahwa kombinasi perbaikan struktur modal, peningkatan kualitas layanan, serta penguatan operasional Citilink diharapkan dapat membawa Garuda Indonesia kembali mencatat kinerja yang sehat dan berkelanjutan dalam beberapa tahun ke depan.

Add Bisnis.com as a preferred source on Google

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Bisnis Indonesia Premium.

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Bisnis Indonesia Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro