China Tunda Pembatasan Ekspor Logam Langka, AS Beri Kelonggaran Dagang

China menunda pembatasan ekspor logam langka, sementara AS menunda tarif balasan. Kesepakatan ini meredakan ketegangan dagang antara kedua negara.
Ilustrasi bendera China dan Amerika Serikat (AS). / Reuters-Florence Lo-illustration
Ilustrasi bendera China dan Amerika Serikat (AS). / Reuters-Florence Lo-illustration

Bisnis.com, JAKARTA — China menangguhkan pembatasan ekspor logam tanah jarang atau rare earth metals dan mengakhiri investigasi terhadap perusahaan chip asal Amerika Serikat (AS).

Melansir Bloomberg pada Senin (3/11/2025), keterangan resmi yang dirilis Gedung Putih menjelaskan rincian kesepakatan dagang yang dicapai pekan ini antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping, yang bertujuan meredakan ketegangan antara dua ekonomi terbesar dunia.

Sebagai bagian dari kesepakatan tersebut, China akan mengeluarkan lisensi ekspor umum untuk logam tanah jarang, gallium, germanium, antimony, dan grafit yang akan menguntungkan pengguna akhir dan pemasok asal AS di seluruh dunia. Langkah ini secara efektif mencabut pengendalian ekspor yang diberlakukan Beijing pada April 2025 dan Oktober 2022.

Selain itu, China juga sepakat menghentikan penyelidikan antimonopoli dan antidumping terhadap sejumlah perusahaan chip asal AS, termasuk Nvidia dan Qualcomm, menurut pejabat AS yang enggan disebutkan namanya.

Sebagai imbalannya, Washington akan menunda penerapan sebagian tarif timbal balik terhadap China selama satu tahun dan membatalkan rencana penerapan tarif 100% terhadap ekspor China ke AS yang semula dijadwalkan pada November 2025. 

Pemerintah AS juga akan memperpanjang masa berlaku pengecualian tarif berdasarkan Section 301 hingga 10 November 2026.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan bahwa meskipun telah tercapai kesepakatan, AS dan sekutunya harus tetap waspada terhadap China. Dia menuturkan, masalah tersebut sudah berlangsung selama beberapa dekade dan belum pernah diselesaikan, terutama terkait logam tanah jarang dan magnetnya.

“China telah menguasai pasar, dan sayangnya, terkadang mereka terbukti bukan mitra yang dapat diandalkan," ujar Bessent.

Meski demikian, Bessent menyampaikan harapan agar China dapat menjadi mitra yang lebih dapat dipercaya setelah implementasi kesepakatan ini.

Kedutaan Besar China di Washington menyatakan pihaknya siap bekerja sama dengan AS untuk menindaklanjuti pemahaman penting antara kedua presiden, memperpendek daftar masalah, dan memperpanjang daftar kerja sama melalui dialog dan konsultasi.

Pertemuan tingkat tinggi antara Donald Trump dan Xi Jinping—yang menjadi pertemuan tatap muka pertama di masa jabatan kedua Trump—menandai upaya stabilisasi hubungan jangka pendek setelah perang dagang yang memicu gejolak pasar global dan kekhawatiran perlambatan ekonomi dunia.

Dalam kesepakatan tersebut, China setuju menangguhkan pembatasan ekspor magnet tanah jarang sebagai imbalan atas keputusan AS untuk membatalkan perluasan pembatasan terhadap perusahaan China. Selama ini, Beijing memanfaatkan dominasinya dalam pengolahan logam tanah jarang sebagai alat tawar dalam hubungan dagang dengan Washington dan sekutu-sekutunya.

Di sisi lain, AS akan memangkas tarif terkait fentanyl dari 20% menjadi 10%, sementara China akan kembali membeli kedelai dan produk pertanian AS lainnya. AS menyebutkan bahwa China akan membeli 12 juta ton kedelai pada musim ini dan setidaknya 25 juta ton per tahun selama tiga tahun ke depan.

Trump juga menyatakan pada Jumat (31/10/2025) bahwa dia akan menghapus seluruh tarif fentanyl jika China terus menindak ekspor obat tersebut dan bahan kimia pendukungnya. 

“Begitu kami melihat itu, kami akan menghapus 10% sisanya,” ujar Trump kepada wartawan di pesawat Air Force One.

Selain itu, Gedung Putih mengonfirmasi bahwa China akan mengizinkan fasilitas produsen chip asal Belanda, Nexperia BV, kembali melakukan pengiriman. Langkah ini diperkirakan akan meredakan kekhawatiran terkait pasokan chip yang sempat mengancam produksi mobil akibat eskalasi perang dagang.

Meski meredakan ketegangan, analis menilai kesepakatan tersebut bersifat sementara, dengan sebagian besar kebijakan hanya berlaku selama satu tahun. 

Perjanjian ini memang mencakup sejumlah isu utama dan memberikan kemenangan politik bagi kedua pihak, tetapi belum menyentuh akar persoalan dalam perang dagang AS-China serta isu geopolitik lain seperti Taiwan dan perang Rusia-Ukraina.

Trump juga telah menyetujui rencana konsorsium perusahaan AS untuk mengakuisisi operasi TikTok milik ByteDance di AS, tetapi Beijing belum memberikan persetujuan resmi atas transaksi tersebut. Selain itu, Trump menambahkan bahwa kedua negara akan meningkatkan kerja sama di sektor energi, di mana China sepakat membeli minyak dan gas dari Alaska.

Add Bisnis.com as a preferred source on Google

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Sumber : Bloomberg
Bisnis Indonesia Premium.

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Bisnis Indonesia Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro