Bisnis.com, JAKARTA — Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian menyatakan telah melapor ke Presiden Prabowo Subianto mengenai tingkat inflasi tahunan sebesar 2,65% pada September 2025, yang salah satunya didorong berbagai komoditas seperti daging ayam ras.
Tito berujar bahwa pemerintah terus menjaga tingkat inflasi pada rentang 2,5% plus minus 1%, lantas menerangkan penyebab daging ayam ras menjadi bagian komponen bergejolak yang memiliki andil terhadap inflasi hingga bulan kesembilan tahun ini.
“Kenapa terjadi kenaikan sedikit, itu karena harga daging ayam ras meningkat. Ada kebijakan dari Mentan [Menteri Pertanian] untuk melindungi peternak. Karena ongkos operasional mereka naik,” katanya dalam sambutan peluncuran Master Plan Produktivitas Nasional di Kantor Kementerian PPN/Bappenas, Jakarta Pusat, Selasa (7/10/2025).
Menurut Tito, kondisi tersebut mendorong otoritas pertanian untuk menaikkan menaikkan harga daging ayam ras serta DOC (day old chick) alias bibit ayam.
Namun demikian, dia memastikan bahwa kondisi ini masih terkontrol. Tito menyatakan bahwa inflasi tetap dijaga pada rentang tersebut karena Indonesia merupakan negara produsen sekaligus negara konsumen.
Dia berujar bahwa angka inflasi di bawah 1,5% akan membuat rakyat atau konsumen senang karena harga-harga barang murah, tetapi produsen, petani, nelayan, hingga pabrik-pabrik akan kesulitan untuk menutup biaya operasional.
Baca Juga
“Kemudian kalau di angka di atas 3,5% ini produsen senang, nelayan, petani, pabrik senang, Namun, masyarakat konsumen akan kesulitan, terutama masyarakat kelas bawah,” ucap mantan Kapolri ini.
Selain itu, dia juga mengaku telah melapor ke Prabowo bahwa kenaikan harga emas turut mendorong inflasi Tanah Air secara bulanan sebesar 0,18% per September ini, diiringi meningkatnya investasi terhadap logam mulia tersebut.
Sebagai Koordinator Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID), Tito menyatakan terus berupaya menjaga inflasi secara konsisten dengan pertemuan dengan pemangku kepentingan terkait setiap pekan.
Dia berujar bahwa dari pertemuan tersebut, pemerintah dapat merumuskan langkah yang tepat dalam mengatasi inflasi sekaligus mengevaluasi daerah yang memiliki tingkat inflasi di luar rentang yang ditetapkan.
Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkap sejumlah harga komoditas yang menyumbang inflasi September 2025 sebesar 0,21% secara month-to-month (MtM) atau 2,65% YoY.
Deputi Bidang Statistik Produksi BPS M. Habibullah menyampaikan bahwa komponen bergejolak mengalami inflasi sebesar 0,52% dengan andil inflasi sebesar 0,09%.
"Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi komponen bergejolak adalah cabai merah, daging ayam ras, dan cabai hijau," kata Habibullah dalam konferensi pers pada Rabu (1/10/2025).