Bisnis.com, JAKARTA — Demonstrasi di Nepal memanas hingga membuat perdana menteri dan presidennya mundur. Gen Z Nepal turun ke jalan salah satunya karena terinspirasi oleh aksi demonstrasi di Indonesia. Apakah ada kesamaan kondisi negara-negara yang diguncang demonstrasi?
Demonstrasi besar-besaran di Nepal menyita perhatian dunia, kabar Gedung DPR dan sejumlah pejabat yang terbakar menyebar dengan cepat. Video-video penggerebekan rumah hingga amuk warga kepada pejabat Nepal (bahkan hingga timbul korban jiwa) menjadi viral.
Semakin memanasnya situasi, bahkan warga langsung menggertak dan mendatangi rumah pejabat, membuat Perdana Menteri Nepal Sharma Oli mengundurkan diri. Beberapa jam setelah Sharma Oli turun, Presiden Nepal Ram Chandra Pudel juga mengundurkan diri, menyebabkan kekosongan pemimpin eksekutif di negara tersebut.
Militer Nepal kemudian mengambil alih kekuasaan. Meskipun tidak ada pengumuman darurat militer, media Nepal The Himalayan melaporkan bahwa tentara mengambil kendali keamanan mulai Selasa (9/9/2025) malam dan memberlakukan jam malam hingga Kamis (11/9/2025) pagi.
Hingga Rabu (10/9/2025), sebanyak 22 orang tewas dan lebih dari 100 orang terluka akibat bentrok dengan polisi di tengah demonstrasi.
Demonstrasi di Nepal dipicu oleh sejumlah hal, mulai dari gaya hidup mewah pejabat dan anak-anaknya ketika kondisi ekonomi masyarakat sedang sulit, kasus tabrak lari yang melibatkan pejabat dan menewaskan murid SD tetapi tidak ditindaklanjuti kepolisian, hingga puncaknya terjadi pemblokiran 26 media sosial—yang menjadi ruang masyarakat menyuarakan kritik dan keresahan.
Baca Juga
Akumulasi masalah itu membuat warga Nepal kehabisan kesabaran sehingga menuntut haknya dengan turun ke jalan. Unjuk rasa itu juga disebut demonstrasi Gen Z karena banyak generasi tersebut yang turun ke jalan, berdemo dengan masih menggunakan seragam karena mereka turun setelah sekolah.
Gen Z Nepal merasa pemblokiran media sosial mengganggu kehidupannya, baik untuk belajar, menerima perkembangan informasi, maupun mencurahkan isi pikirannya. Banyak Gen Z Nepal yang menyatakan bahwa mereka ikut aksi karena terinspirasi dari demonstrasi yang terjadi di Indonesia sejak 28 Agustus 2025.
Simbol-simbol yang digunakan para demonstran Indonesia juga turut muncul di Nepal, seperti bendera One Piece dan poster bounty bertuliskan "WANTED" dengan foto pejabat—yang juga terinspirasi dari kisah One Piece.
Tekanan ekonomi menjadi pemicu utama kemarahan warga Nepal terhadap pemerintahnya. Tingginya tingkat kemiskinan, yang mencapai 25,2% pada 2022, menjadi begitu kontras dengan gaya hidup mewah para pejabatnya.
Pendapatan per kapita tahunan Nepal sebesar US$1.400 atau setara Rp23 juta tercatat sebagai yang terendah di Asia Selatan. Sebagai perbandingan, pendapatan per kapita tahunan India sudah mencapai US$2.397 dan Bangladesh mencapai US$2.820.
Pertumbuhan ekonomi Nepal sebenarnya dinilai cukup baik dan upaya penurunan tingkat kemiskinan terus berjalan. Bank Dunia (World Bank) mencatat bahwa Nepal hampir berhasil menghapuskan kemiskinan ekstrem, dengan rata-rata pertumbuhan ekonomi pada kurun 1996—2023 sebesar 4,2%.
Nepal masih menghadapi berbagai masalah struktural dalam perekonomiannya, seperti produktivitas tenaga kerja yang rendah, kinerja ekspor yang terus turun, hingga sektor industri yang stagnan. Dampaknya, penciptaan lapangan kerja menjadi terbatas dan banyak generasi mudanya yang pergi ke luar negeri untuk mencari peluang kerja.
"Keberhasilan Nepal dalam pengentasan kemiskinan sangat mengesankan, tetapi potensi ekonominya masih belum dimanfaatkan secara optimal," ujar Direktur Bank Dunia untuk Maladewa, Nepal, dan Sri Lanka, David Sislen dalam laporan World Bank pada Maret 2025.
Gelombang demonstrasi besar-besaran tidak hanya terjadi di Nepal, tetapi juga belahan dunia lainnya, seperti Indonesia dan Bangladesh.
Gen Z dari berbagai negara bahkan menyebut gelombang unjuk rasa belakangan ini sebagai aksi PINK, singkatan dari beberapa negara yakni Philippines (Filipina), Indonesia, Nepal, dan Kenya.
Demo besar di Filipina terjadi mulai 5 September 2025, sedangkan unjuk rasa di Kenya terjadi lebih awal, yakni pada 25 Juni 2025. Adapun, demo di Bangladesh pecah sejak Juli 2024.
Berikut berbagai indikator ekonomi negara-negara yang dilanda demonstrasi:
Tingkat Kemiskinan (standar US$3,00 PPP dari World Bank)
- Bangladesh: 8,01% (2022)
- Filipina: 5,32% (2023)
- Indonesia: 5,44% (2024)
- Nepal: 2,44% (2022)
Tingkat Kemiskinan (berdasarkan garis kemiskinan masing-masing negara)
- Bangladesh: 18,7% (2022)
- Filipina: 15,5% (2023)
- Indonesia: 8,47% (2025)
- Nepal: 25,20% (2010)
Koefisien Gini
- Bangladesh: 0,499 (Bangladesh Bureau of Statistics, 2022)
- Filipina: 0,3909 (2023)
- Indonesia: 0,375 (BPS, Maret 2025)
- Nepal: 0,30 (2023)
Gini Index (World Bank)
- Bangladesh: 33,4% (2022)
- Filipina: 34,9% (2024)
- Indonesia: 39,3% (2023)
- Nepal: 30,0% (2022)