Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv
Calon pembeli mengecek kualitas beras di Pasar Induk Beras Cipinang, Jakarta, Senin (3/10/2022). ANTARA FOTO - M Risyal Hidayat
Lihat Foto
Premium

Saat yang Lain Khawatir, Indonesia Dinilai Kebal Krisis Pangan

Secara teknis, krisis pangan terjadi sewaktu kenaikan harga-harga melampaui level 50 persen. Hingga kini, Indonesia terbilang aman.
Annasa Rizki Kamalina
Annasa Rizki Kamalina - Bisnis.com
05 Desember 2022 | 19:29 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Akademisi menilai krisis pangan yang saat ini menjadi isu global tidak akan terjadi di Indonesia. Bagaimana bisa?Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB University Muhammad Firdaus menyampaikan bila menengok definisi krisis pangan saat pertama kali dicetuskan pada 2008, yakni terjadi saat harga pangan naik lebih dari 50 persen. “Untuk definisi krisis pangan seperti itu, ini tidak terjadi di Indonesia, tetapi meskipun harga kenaikan pangan Indonesia tidak lebih dari 50 persen, cabai telah naik karena perubahan iklim,” paparnya dalam Bincang Pembangunan Tantangan dan Upaya Pencapaian Kedaulatan dan Kemandirian Pangan Nasional yang diselenggarakan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), di Jakarta, Senin (5/12/2022). Melihat tren harga pangan sepanjang 2022, berdasarkan data harga dalam Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP) Kementerian Perdagangan, hingga 4 Desember 2022, kenaikan tertinggi terjadi pada bawang merah (30,18 persen) dan tepung terigu (25,96 persen). Isu food crisis atau krisis pangan mulai kembali mencuat ketika Organisasi Pangan Dunia (FAO) melaporkan terjadi peningkatan jumlah rawan pangan di 53 negara sebanyak 193 uta orang (naik 40 juta dari 2020). “Somalia sorgum naik 125 persen, Afrika Barat harga sorgum naik 85 persen, Ethiopia harga jagung dan gandum naik 87 persen dan 79 persen,” jelas Firdaus. Adapun akar permasalahan penambahan jumlah negara rawan pangan akibat terjadinya perang di Rusia-Ukraina yang memicu tersendatnya rantai pasok. Rusia merupakan pemasok pupuk terbesar, Ukraina adalah pemasok gas terbesar bagi 'Negeri Beruang Merah'.Selain itu, kondisi perubahan iklim juga perlu diwaspadai, terutama Indonesia yang diprediksi akan mengalami El Nino (musim kering) pada 2023 dan dikhawatirkan akan mengganggu produksi pangan dalam negeri. Untuk itu Firdaus menegaskan bahwa tidak ada solusi lain bagi Indonesia untuk mengamankan pasokan pangan, yaitu dengan melakukan adaptasi dan mitigasi salah satunya dengan strategi end-to-end hingga hilir. Pada kesempatan yang sama, Sekretaris Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Agribisnis Kementerian Koordinator bidang Perekonomian Muhammad Saifulloh meyakinkan bahwa inflasi Indonesia masih lebih rendah dari negara lainnya bahkan Eropa dan Amerika Serikat. Berangkat dari hal tersebut, dirinya menyampaikan bahwa Indonesia masih memiliki harapan besar untuk memenuhi pangan dalam negeri, meskipun sebagian masih impor. “Dalam G20 kemarin salah satu catatan oleh Kementerian Pertanian adalah bagaimana adanya terjadi keseimbangan antara permintaan dan pasokan pangan, jadi perang itu tidak boleh mengganggu akses pangan di negara-negara berkembang terhadap negara produsen pangan tertentu,” jelasnya. Sementara itu, Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Moeldoko menekankan agar Indonesia jangan terlalu percaya diri dalam upaya mewujudkan ketahanan pangan nasional, meski ekonomi Indonesia tumbuh positif. Moeldoko menegaskan hal yang dia maksud adalah jangan sampai menggampangkan soal pemenuhan komoditas pangan lewat impor. Pasalnya, banyak negara yang saat ini menerapkan kebijakan pembatasan ekspor pangan. “Jadi jangan terlalu percaya diri, kami punya duit bisa beli. Namun, di kondisi lingkungan global, sangat mungkin kami tidak bisa impor,” paparnya. Menurutnya, kebijakan larangan ekspor pangan sejumlah negara sudah terjadi sejak perang Rusia-Ukraina berlangsung sebagai upaya masing-masing mengamankan pangan domestik. Untuk itu, bisa jadi Indonesia tidak dapat membeli komoditas yang masih impor, seperti kedelai, gandum, hingga pupuk, karena kebijakan domestik negara lain tersebut. Di sisi lain, Moeldoko yang juga sebagai Ketua Perhimpunan Kerukunan Tani Indonesia sepakat dengan Guru Besar IPB Muhammad Firdaus, bahwa Indonesia akan menghadapi tantangan potensi fenomena El Nino atau kekeringan pada 2023. “Saya khawatir pada 2023 terjadi El Nino, maka kekeringan akan kita hadapi, kegagalan pangan sangat mungkin terjadi, akan terjadi kebakaran di mana-mana. Kami sudah tahu situasi itu, untuk itu, Pak Jokowi dari awal sudah menekankan untuk mencari alternatif [ekstensifikasi dan intensifikasi],” jelasnya.Ketahanan Pangan RI

Berdasarkan data Global Food Security Index (GFSI) 2022, ketahanan pangan Indonesia berada di peringkat 63 dari 113 negara dengan skor 60,2. Posisi Indonesia ada di atas Thailand, tetapi masih di bawah dari Singapura dan Malaysia.Sementara berdasarkan Food Insecurity Experienced Scale (FIES), pada 2021 Indonesia mendapatkan skor sebesar 4,79, yang menunjukkan bahwa Indonesia tergolong daerah rawan sedang krisis pangan. Analis Ketahanan Pangan Ahli Muda Direktorat Distribusi dan Cadangan Pangan Badan Pangan Nasional Dewi Sartika mengungkapkan bahwa berdasarkan peta ketahanan dan kerentanan pangan 2021 terdapat 74 kab/kota (14 persen) wilayah rentan rawan pangan di Indonesia akibat neraca pangan wilayah yang defisit, dan persentase penduduk miskin yang tinggi. “Saat ini badan pangan nasional telah mendapat tugas berdasarkan Peraturan Presiden No. 125/2022 tentang penyelenggaraan Cadangan Pangan Pemerintah terhadap 11 jenis pangan,” ujarnya. Selain itu, Bapanas juga mendapatkan mandat untuk melakukan distribusi pangan dari wilayah surplus menuju wilayah defisit. Padahal, kata Dewi, Indonesia sebagai negara terbesar ketiga di dunia dengan keanekaragaman hayati, memiliki 77 jenis sumber karbohidrat, 75 jenis sumber protein, 110 jenis rempah dan bumbu, 40 jenis bahan minuman 389 jenis buah buahan 228 jenis sayuran, dan 26 jenis kacang-kacangan. “Perlu adanya inovasi dan formula rekayasa teknologi sosial sehingga terbentuknya kawasan diversifikasi pangan yang ideal sesuai budaya setempat,” usulnya. Adapun dari sisi BRIN, Kepala Organisasi Riset Bioteknologi Pertanian BRIN Puji Lestari mengungkapkan dalam memenuhi ketahanan pangan, pihaknya tengah fokus riset kepada komoditas padi, jagung, kedelai, dan sorgum. “Kedelai ini bukan asli Indonesia, adaptifnya sangat susah, saat ini sudah kita lepas dari kementan hanya mungkin menjadi PR bagaimana petani kami berdayakan, atau bersedia untuk menanam kedelai,” imbuhnya. Perlu diingat, Indonesia masih sangat bergantung pada kedelai bahkan untuk makanan khas Indonesia sendiri, seperti tahu dan tempe.

Silakan masuk/daftar untuk melanjutkan membaca Konten Premium

Dan nikmati GRATIS AKSES 5 artikel Konten Premium!

Masuk / Daftar
Berbagai metode pembayaran yang dapat Anda pilih:
  • visa
  • mastercard
  • amex
  • JCB
  • QRIS
  • gopay
  • bank transfer
  • ovo
  • dana
Berlangganan Sekarang
back to top To top