Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda
Rajawali Nusantara Indonesia. / JIBI
Lihat Foto
Premium

Menanti Kontribusi Holding Pangan, Kala RI disandingkan dengan Rwanda

Kehadiran BUMN Holding BUMN Pangan menjadi angin segar sekaligus tantangan di tengah fenomena kenaikan harga bahan pokok belakangan ini.
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com
13 Januari 2022 | 07:47 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – “Tolong terbuka dengan inovasi dan teknologi. Kalau tidak dilakukan jangan kaget kalau 10 tahun lagi Indonesia kalah dari Rwanda. Mereka gencar [mengembangkan] agrikultur,” kata Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir di hadapan jajaran petinggi perusahaan pelat merah sektor pangan, Rabu (12/1/2022). Di belakangnya, logo anyar ID FOOD yang mereprensentasikan kelahiran Holding BUMN Pangan terpampang.

Pesan Erick tak mencuat tanpa sebab. Dia mengatakan sektor pertanian Indonesia terlalu lama berkutat dengan masalah pasokan dan permintaan, termasuk keberpihakan pada petani yang terbatas. Sementara di negara lain, sektor pertanian menjadi motor ekonomi.

Rwanda barangkali jadi contoh yang tepat untuk melecut komitmen Indonesia di sektor agrikultur. Negara Afrika bagian timur itu berhasil menambah produksi susu sampai 117,5 kali lipat dalam kurun 26 tahun. Populasi sapi juga berhasil ditingkatkan dari hanya 172.000 ekor pada 1994 menjadi 1,3 juta ekor pada 2020.

“Ketika kita bicara, banyak negara lain bisa menghasilkan pangan jauh lebih baik daripada Indonesia indonesia. Beberapa negara tetangga punya produk unggulan, sementara kita masih terjebak supply-demand. Masih terjebak ketidakberpihakan terhadap petani,” lanjut Erick.

Oleh karenanya, Erick berharap kehadiran Holding BUMN Pangan dengan PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero) sebagai induk bisa membawa angin dalam ekosistem agribisnis.

Holding pangan yang dinamai ID FOOD diharapkan bisa menjalin kerja sama dengan lembaga pembiayaan dan perusahaan-perusahaan lain, swasta maupun pelat merah, untuk peningkatan pendampingan bagi nelayan, petani, dan peternak. Dengan demikian, kapasitas produksi yang lebih baik bisa menjadi jaminan pasokan yang bisa dibeli dan dipasok perusahaan sampai ke konsumen.

Silakan masuk/daftar untuk melanjutkan membaca Konten Premium

Dan nikmati GRATIS AKSES 5 artikel Konten Premium!

Masuk / Daftar

Atau Berlangganan Sekarang

Silakan pilih paket berlangganan yang anda inginkan untuk terus menikmati konten premium.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

BisnisRegional

To top