Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda
Suasana kegembiraan meliputi kalangan mahasiswa di depan pesawat televisi di gedung MPR/DPR RI ketika Presiden Soeharto menyatakan berhenti sebagai presiden RI, di Jakarta, Kamis (21/5/1998). Wapres BJ Habibie selanjutnya menjadi presiden ketiga RI. ANTARA FOTO - Saptono
Premium

Historia Bisnis, Pak Harto: Silakan Ganti Saya

14 Mei 2021 | 18:50 WIB
Sejumlah perusuh menghamburkan uang yang mereka temukan setelah menghancurkan pompa bensin di bilangan Jakarta Barat, sementara itu amukan massa menghancurkan dan membakar sejumlah mobil di pelataran parkir Mal Ciputra dalam kerusuhan Mei 1998 yang berujung pada mundurnya Soeharto, Presiden ke-2 peletak Orde Baru.

Bisnis.com, JAKARTA — Pada 16 Agustus 1997, Presiden Ke-2 Republik Indonesia Soeharto menyampaikan pidato kenegaraan di tengah situasi menuju salah satu krisis terbesar sepanjang sejarah Indonesia.

“Kesempatan ini adalah pertemuan terakhir saya selaku Presiden dengan Dewan yang terhormat. Tugas  kepresidenan saya akan berakhir pada saat saya menyampaikan Pidato Pertanggungjawaban Mandataris kepada MPR hasil pemilihan umum, Maret tahun depan,” katanya di bagian akhir pidatonya.

Pidato yang disampaikan Soeharto saban tahun sejak 1967 itu sedikit berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Pidatonya kali ini banyak menyinggung masalah ekonomi, khususnya situasi moneter dalam negeri.

Wajar saja, kala itu Indonesia tengah menuju krisis moneter yang mengerikan. Sebulan sebelumnya, atau pada 2 Juli 1997, Thailand memutuskan mengambangkan mata uangnya setelah menghadapi serangan spekulan terhadap cadangan devisa negara tersebut.

Soeharto dalam pidatonya menyebutkan guncangan dan gejala spekulasi dari waktu ke waktu akan selalu ada. Kuncinya, menurut dia adalah pada ketahanan ekonomi nasional, ketahanan pelaku usaha, kepercayaan diri, dan kesatuan pandangan antara pemerintah dan pelaku ekonomi.

“Kita melihat kurs atau apapun dapat berubah cepat. Perubahan kurs satu mata uang dengan cepat dapat merembet ke berbagai mata uang lain. Kenyataan ini tidak dapat dihindari oleh negara manapun, oleh pelaku ekonomi manapun,” katanya seperti dikutip dari pemberitaan Bisnis Indonesia pada Senin (18/7/97).

Silakan masuk/daftar untuk melanjutkan membaca Konten Premium

Dan nikmati GRATIS AKSES 8 artikel Konten Premium!

Masuk / Daftar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

BisnisRegional

To top