Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda
Menteri BUMN Erick Thohir (keempat kiri) didampingi (dari kiri) Direktur SPPU Pertamina Iman Rachman, Dirut PLN Zulkifli Zaini, Staf Khusus III Menteri BUMN Arya Sinulingga, Wakil Menteri BUMN I Pahala Nugraha Mansury, Ketua Tim Kerja Percepatan Proyek EV Nasional Agus Tjahajana, Group CEO Mind ID Orias Petrus dan Dirut Antam Dana Amin saat mengikuti konferensi pers pendirian Indonesia Battery Corporation (IBC) di kantor Kementerian BUMN, Jakarta, Jumat (26/3/2021). - ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto
Premium

Menakar Kebutuhan Investasi Indonesia Battery Corporation (IBC) dan Ambisi Baterai Listrik

29 Maret 2021 | 21:13 WIB
Indonesia Battery Corporation (IBC) menjadi wadah pemerintah untuk merealisasikan target menjadi produsen baterai kendaraan listrik global. Berapa dana yang dibutuhkan untuk mencapai cita-cita itu?

Bisnis.com, JAKARTA — Terbentuknya holding Indonesia Battery Corporation (IBC) pada pekan lalu, menjadi momen penting bagi Indonesia untuk mendukung peralihan energi dari bahan bakar fosil menjadi energi ramah lingkungan.

Kementerian BUMN, yang hadir langsung dalam acara peresmian holding tersebut, tak ragu memasang sasaran ambisius. Targetnya, produksi baterai tahunan mencapai 140 giga watt per jam (GWh) per 2030.

“Dari 140GWh, 50GWh dari produksi ini mungkin nanti akan kita ekspor. Sisanya untuk kebutuhan [baterai mobil listrik] di dalam negeri,” tutur Wakil Menteri BUMN I Pahala Mansyuri, ketika itu.

Sebagai catatan, 140GWh baterai mobil listrik sama dengan 140 juta kilowatt (KWh) baterai.

Empat peneliti CellPress yakni Elsa A. Olivetti dan Xinkai Fu (MIT), Gerbrand Ceder (University of California), serta Gabrielle Gaustad (Rochester Institute of Technology) dalam salah satu riset mereka sempat mengkalkulasi bahwa untuk memenuhi kebutuhan 1 KWh baterai jenis Nickel Cobalt Alumunium (NCA) dibutuhkan setidaknya 0,759 kilogram (kg) nikel.

Seperti dikatakan keempat peneliti dalam riset berjudul Lithium-Ion Battery Supply Chain Considerations: Analysis of Potential Bottlenecks in Critical Metals yang dirilis pada Oktober 2017 tersebut, NCA merupakan jenis baterai Lithium-Ion (Li-Ion) yang membutuhkan nikel paling banyak.

Silakan masuk/daftar untuk melanjutkan membaca Konten Premium

Dan nikmati GRATIS AKSES 8 artikel Konten Premium!

Masuk / Daftar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top