Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda
Pengambilan sumpah anggota BRTI 2019-2022. - Bisnis / Azam
Premium

Historia Bisnis: Revolusi Bisnis Telco & Suntik Mati BRTI

22 Desember 2020 | 15:10 WIB
Di tanah air Singapore Telecommunication (Singtel) memegang 35 persen saham di Telkomsel, Ooredoo Asia Pte.Ltd mengusai 65 persen saham di Indosat (ISAT), Axiata menguasai 65 persen saham di XL Axiata (EXCL) dan Hutchison Asia Telecom memegang 66 persen saham di 3 Indonesia.

Bisnis.com, JAKARTA - Keputusan Presiden Joko Widodo menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 112 Tahun 2020 yang intinya pembubaran 10 lembaga negara termasuk Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) mengejutkan banyak pihak. 

Pasalnya, badan ini sejak berdiri memiliki target besar. Industri telekomunikasi yang kokoh dan independen. 

Namun rencana itu sejak awal dinilai sulit terwujud karena BRTI memiliki wajah ganda dengan penempatan Direktur Jenderal dari Kementerian Komunikasi dan Informatika sebagai ketua dan wakil ketua. Namun alih-alih melepaskan ke unsur profesional, Presiden Joko Widodo kemudian memilih membubarkan badan ini dan mengembalikan kewenangan ke Kementerian Komunikasi dan Informatika. 

Bisnis Indonesia edisi 22 Desember 2004 menurunkan laporan bagaimana niat awal lembaga ini dibentuk sebagai amanat UU No.36/1999 dalam tajuk 'Menhub: BRTI harus benar-benar independen.'

Kala itu, Menteri Perhubungan Hatta Rajasa menandaskan BRTI akan didorong menjadi regulator independen dalam rangka liberalisasi sektor telekomunikasi nasional.

Silakan masuk/daftar untuk melanjutkan membaca Konten Premium

Dan nikmati GRATIS AKSES 8 artikel Konten Premium!

Masuk / Daftar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top