Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda
Pendiri Alibaba Group Holding Ltd. Jack Ma muncul di layar monitor ketika perusahaan itu resmi listing di Bursa Hong Kong, di Hong Kong, China, Selasa (26/11/2019). - Bloomberg/Paul Yeung
Premium

Mimpi Buruk Alibaba dan Drama Kejar-kejaran Jack Ma vs Xi Jinping

10 Desember 2020 | 19:32 WIB
Ketika Ant Group batal melantai di Bursa Shanghai dan Hong Kong pada awal November 2020, berbagai spekulasi muncul. Benarkah hal ini dikarenakan perseteruan antara Jack Ma dengan Xi Jinping?

Bisnis.com, JAKARTA – Horor yang dialami Alibaba Group Holding Ltd. akibat gagalnya anak usaha mereka, Ant Group, untuk melantai di Bursa Shanghai dan Bursa Hong Kong belum juga berakhir. Kondisi ini tergambar jelas dari posisi saham Alibaba yang urung pulih ke level semestinya.

Hingga akhir perdagangan Kamis (10/12/2020), saham Alibaba di Bursa Hong Kong mentok diperdagangkan di posisi 255,4 dolar Hong Kong. Angka ini melemah 14,8 persen dibandingkan harga saham pada 3 November 2020, sesaat sebelum Initial Public Offering (IPO) Ant Group batal, yang menyentuh 299,8 dolar Hong Kong.

Sementara itu, saham Alibaba di Bursa New York melemah 13,97 persen pada periode 2 November-9 Desember 2020. Tepatnya, dari US$310,84 pada 2 November, menjadi US$267,4 per Rabu (9/12).

Konsistensi tekanan itu salah satunya dipicu oleh tak kunjung redanya tensi konflik antara pendiri Alibaba dan Ant Group, Jack Ma, dengan Pemerintah China.

Bloomberg melaporkan bahwa konflik yang tak kunjung menunjukkan tanda-tanda rujuk itu berpeluang kian memberatkan pihak Alibaba. Apabila sebelumnya estimasi penundaan adalah 6 bulan, kali ini mereka memperkirakan Ant Group baru akan bisa melanjutkan misi IPO mereka secepat-cepatnya pada 2022.

“Yang akan sangat sulit dipenuhi Ant Group adalah layanan CreditTech mereka, yang perlu memperkuat modal material sekaligus menambah dana di anak perusahaan pinjaman konsumennya atau bahkan merestrukturisasi bisnis pinjaman mereka,” tutur analis Bloomberg Intelligence Francis Chan seperti dilansir Bloomberg, Senin (30/11).

Silakan masuk/daftar untuk melanjutkan membaca Konten Premium

Dan nikmati GRATIS AKSES 8 artikel Konten Premium!

Masuk / Daftar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

BisnisRegional

To top